Tampilkan postingan dengan label Artikel Penyuluh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Penyuluh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 April 2026

Mufti Marlina: Silaturahmi Memperpanjang Usia dan Meluaskan Rezeki

Keajaiban Silaturahmi: Memperpanjang Usia dan Meluaskan Rezeki
Oleh Mufti Marlina Penyuluh Agama Islam Purbalingga Jawa Tengah
Editor: Imam Edi Siswanto

Silaturahmi berasal dari dua kata, Shilah yang berarti menyambung atau menghubungkan, dan Ar-Rahm yang berarti kasih sayang atau rahim ibu. Maka, silaturahmi bukan sekadar berkunjung atau bersalaman, melainkan menyambungkan kembali tali kasih sayang yang mungkin mulai mengendur atau bahkan sempat terputus.

Al-Qur'an Surah An-Nisa ayat 1:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

"Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."

Ayat ini menegaskan bahwa menjaga hubungan kekeluargaan dan kasih sayang adalah bagian tak terpisahkan dari ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Rasulullah Saw. memberikan motivasi yang gemar menjaga silaturahmi. Beliau bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

"Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi."

Mari kita ulas dalam prespektif iman dan realitas sosial:
1. Melapangkan Rezeki: Dalam psikologi sosial, silaturahmi membuka pintu-pintu peluang. Bertemu saudara dan kawan membuka jalan informasi, kolaborasi, dan kepercayaan. Namun lebih dari itu, rezeki dalam Islam bukan sekadar materi, melainkan keberkahan. Orang yang gemar bersilaturahmi hatinya akan tenang, dan ketenangan itulah modal utama produktivitas.

2. Memperpanjang Usia: Para ulama menafsirkan 'panjang usia' dalam dua makna. Pertama, keberkahan waktu sehingga ia mampu melakukan banyak kebaikan dalam umur yang singkat. Kedua, ia akan tetap 'hidup' dan dikenang kebaikannya meskipun jasadnya sudah tiada. Secara medis, interaksi sosial yang hangat terbukti menurunkan tingkat stres dan meningkatkan imunitas tubuh.

Di era digital, tantangan silaturahmi semakin nyata. Kadang kita merasa sudah 'bersilaturahmi' hanya dengan memberi tanda like di media sosial atau mengirim pesan WhatsApp. Sentuhan fisik, tatapan mata yang penuh kasih, dan kehadiran raga dalam sebuah pertemuan majelis seperti ini memiliki energi spiritual yang tidak bisa digantikan oleh layar ponsel. 
 
Rasulullah mengajarkan kita untuk saling mengunjungi, terutama kepada mereka yang sedang sakit, yang sedang berduka, atau yang sudah lama tidak terdengar kabarnya.

Silaturahmi yang paling mulia adalah ketika kita menyambung hubungan dengan orang yang telah memutusnya. Menghubungi saudara yang mungkin sedang berselisih dengan kita, memaafkan kerabat yang pernah menyakiti hati kita. Inilah puncak dari akhlak seorang mukmin. Kita tidak melakukannya karena mereka baik, tapi kita melakukannya karena kita patuh pada perintah Allah SWT.

Kesimpulanya, silaturahmi bukan sekadar interaksi sosial, tetapi ibadah yang memiliki dampak besar bagi kehidupan dunia dan akhirat, karena dengan menyambung tali kasih sayang, seseorang dapat memperoleh keberkahan rezeki, ketenangan hati, serta “panjang usia” dalam makna keberkahan amal dan dikenangnya kebaikan. 
 
Di tengah tantangan era digital, silaturahmi sejati tetap menuntut kehadiran, kepedulian, dan keikhlasan, bahkan mencapai derajat tertinggi ketika seseorang mampu menyambung hubungan yang terputus. Dengan demikian, silaturahmi menjadi wujud nyata ketakwaan kepada Allah sekaligus kunci membangun kehidupan yang harmonis, sehat, dan penuh keberkahan(*)

Kamis, 09 April 2026

Berbahagialah yang Makan dari Keringat Sendiri: Pesan Emas Pramoedya Ananta Toer

 

Berbahagialah yang Makan dari Keringat Sendiri: Pesan Emas Pramoedya Ananta Toer
Oleh Fitriana Pusporini,S.Sy (PAI KUA Kutasari, Purbalingga Jawa tengah)
Editor: Imam Edi Siswanto
 
Pramoedya Ananta Toer, pernah mendengar nama itu? Dia adalah maestro dunia sastra Indonesia. Penulis novel kelas dunia Bumi Manusia yang mengguncang hati jutaan pembaca. Pramoedya lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925. 
 
Pram, seperti ia akrab disapa, bukan sekadar penulis. Ia adalah pejuang kata yang lahir dari perjuangan nyata, pernah dipenjara selama 14 tahun tanpa pengadilan di masa Orde Baru. Tapi justru di situlah ia melahirkan Tetralogi Pulau Buru yang mengukir sejarah. 
 
BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Artikel%20Penyuluh

Bayangkan, di tengah himpitan, Pram tetap menulis dengan tangan, menceritakan kisah Minke yang bangkit melawan penjajahan. Bumi Manusia bukan hanya novel; ia adalah cermin jiwa bangsa yang haus keadilan.
 
Ada satu kalimat dari Pram yang selalu memukulku dalam-dalam, seperti cambuk yang membangunkan dari tidur panjang. Pram berkata, “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri.”

Kalimat itu seperti obor di malam gelap. Ia mengajak kita untuk bahagia bukan dari mengharap rezeki jatuh dari langit, tapi dari keringat yang menetes di kening. Maju bukan karena warisan orang tua atau jalan pintas, tapi dari pelajaran hidup yang kita petik sendiri. 
 
 
Di era digital sekarang, pesan ini makin relevan. Banyak anak muda tergoda sukses instan lewat medsos atau skema cepat kaya. Padahal, seperti Pram yang bangkit dari penjara, kebahagiaan sejati datang dari perjuangan pribadi.

Coba renungkan: petani yang panen padi dari ladangnya sendiri, ibu rumah tangga yang membangun keluarga harmonis dari pengalaman mendidik anak, atau penyuluh agama seperti kita yang memberdayakan masyarakat lewat ilmu dan kesabaran. 
 
Mereka semua "makan dari keringatnya sendiri." Pram mengingatkan, hidup bukan soal tujuan akhir, tapi prosesnya. Pengalaman pahit adalah guru terbaik; ia membentuk kita jadi lebih kuat, lebih bijak.

Perihal kemandirian ekonomi juga pernah disinggung oleh Nabi Muhammad Saw:

عَنِ الْمِقْدَامِ رَضِي اللَّهم عَنْه عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ)) رواه البخاري.

Dari al-Miqdam Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Tidaklah seorang (hamba) memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya (sendiri), dan sungguh Nabi Dawud as makan dari hasil usaha tangannya (sendiri)”
HR. Al-Bukhari

Hadits di atas menerangkan bahwa begitu banyaknya keutamaan dari bekerja mencari nafkah yang halal dan berusaha mencukupi kebutuhan diri dan keluarga dengan usahanya sendiri. Bahkan hal ini termasuk sifat-sifat yang akan kita temui di setiap para Nabi dan orang-orang yang saleh.

Di hadis yang lain, Rasulullah bersabda: “Nabi Zakariya adalah seorang tukang kayu.” HR. Muslim.

Mari, keluar dari zona nyaman, kumpulkan keringatmu, dan maju dengan pengalamanmu sendiri. Siapa tahu, seperti Bumi Manusia, ceritamu pun akan menginspirasi generasi berikutnya. Berbahagialah, karena perjuanganmu adalah harta abadi.(*)

Rabu, 11 Maret 2026

Dzikir Utama Saat I’tikaf: Menghidupkan Hati dengan Kalimat Tauhid

Dzikir Utama Saat I’tikaf: Menghidupkan Hati dengan Kalimat Tauhid
Oleh: Siti Suwarti, S.Ag (PAIF KUA Purbalingga Kankemenag Kabupaten Purbalingga)
Editor: Imam Edi Siswanto

Menjelang akhir bulan Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk semakin meningkatkan kualitas ibadah, terutama pada sepuluh hari terakhir. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan ketika melakukan i’tikaf adalah memperbanyak dzikir dan doa. 

Hal ini penting karena keberhasilan amal sering ditentukan oleh penutupnya. Dengan memperbanyak dzikir, diharapkan hati semakin dekat kepada Allah serta semakin semangat dalam mengisi akhir Ramadhan dengan amal ibadah.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Siti%20Suwarti

Dalam salah satu khutbahnya menjelang Ramadhan, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memperbanyak empat amalan utama. Dua amalan yang mendatangkan keridhaan Allah adalah membaca kalimat tauhid “Laa ilaaha illallah” dan memperbanyak istighfar. 

Sedangkan dua amalan yang sangat dibutuhkan manusia adalah memohon surga kepada Allah dan berlindung dari api neraka. Empat amalan ini menjadi dzikir dan doa yang sangat dianjurkan, khususnya saat i’tikaf di penghujung Ramadhan.

Di antara amalan tersebut, kalimat tauhid “Laa ilaaha illallah” memiliki keutamaan yang sangat agung. Para ulama, seperti Ibnu Rajab Al-Hambali, menjelaskan bahwa keutamaan kalimat ini tidak dapat dihitung jumlahnya. 

Kalimat tauhid merupakan kunci surga, bahkan Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa saja yang akhir ucapannya sebelum meninggal adalah “Laa ilaaha illallah”, maka ia akan masuk surga. Selain itu, dzikir ini juga disebut sebagai dzikir yang paling utama dan dapat menghapus dosa serta kesalahan.

Keutamaan lain dari kalimat tauhid adalah menjadi pelindung dari api neraka dan jaminan untuk masuk surga apabila diucapkan dengan ikhlas. Kalimat ini juga menjadi sarana utama dalam berdoa dan berdzikir kepada Allah. 

Bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa jika kalimat “Laa ilaaha illallah” ditimbang dengan seluruh langit dan bumi, maka kalimat tauhid tersebut akan lebih berat timbangannya. Oleh karena itu, memperbanyak bacaan kalimat ini menjadi amalan yang sangat dianjurkan bagi setiap muslim.

Karena keutamaannya yang besar, para ulama menganjurkan agar kalimat “Laa ilaaha illallah” dijadikan wirid harian. Dzikir ini dapat dibaca kapan saja, seperti saat berjalan, berkendara, maupun sebelum tidur.

Dengan memperbanyak dzikir tersebut, hati akan semakin hidup dan dekat kepada Allah. Harapannya, seorang muslim dapat menutup kehidupannya dengan kalimat tauhid dan kelak dibangkitkan di hari kiamat di bawah panji “Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah.” Aamiin.(*)

Jumat, 30 Januari 2026

MAHAR IKATAN: Ikhtiar KUA Karanganyar Menanam Ibadah, Merawat Alam, dan Menguatkan Ketahanan Pangan

Program MAHAR IKATAN di halaman sekitar KUA Karanganyar tampak mulai menunjukan hasilnya yaitu berbuahnya tanaman tomat. (Foto: Tarom) 

Purbalingga-Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Karanganyar terus memperluas perannya di tengah masyarakat. Tidak hanya fokus pada pelayanan keagamaan dan administrasi, KUA Karanganyar juga berupaya hadir menjawab persoalan strategis yang berkaitan langsung dengan keberlangsungan hidup umat. Salah satu ikhtiar tersebut diwujudkan melalui program MAHAR IKATAN (Manfaatkan Halaman Kantor Ikhtiar Ketahanan Pangan). 

Penyuluh Agama Islam PAI) KUA Karanganya, Artanti Laili Zulaiha menjelaskan bahwa, MAHAR IKATAN merupakan program pemanfaatan halaman kantor KUA sebagai lahan pertanian produktif. 

"Berangkat dari kesadaran akan pentingnya keseimbangan antara nilai spiritual, kemanusiaan, dan kelestarian alam, halaman kantor KUA Karanganyar kini ditanami berbagai jenis sayuran, seperti terong, pare, tomat, dan cabai," katanya, Jumat (30/1/2026).

Langkah sederhana ini menjadi simbol nyata bahwa lembaga keagamaan juga dapat berkontribusi dalam penguatan ketahanan pangan.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/KARANGANYAR

Melalui MAHAR IKATAN, KUA Karanganyar menunjukkan dukungan konkret terhadap program Ekoteologi, gerakan Kemenag Asri, serta inisiatif URAB MENDOAN (Ustadz dan Umat Rajin Bertani Mendukung dan Menopang Kehidupan). Program ini menegaskan bahwa menjaga alam dan mengolahnya secara bijak adalah bagian dari tanggung jawab keagamaan dan sosial bersama. 

Tanaman pare, tomat, dan cabai dipilih sebagai awal dari program MAHAR IKATAN. (Foto: Sayono).

Landasan utama MAHAR IKATAN adalah nilai ekoteologi, yakni pandangan keagamaan yang memposisikan kepedulian terhadap alam sebagai bagian dari ibadah. Allah SWT menegaskan peran manusia sebagai khalifah di bumi:

“Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi...” QS. Al-An’am: 165)

Ayat ini menegaskan bahwa amanah kekhalifahan menuntut manusia untuk merawat dan memakmurkan bumi, bukan mengeksploitasinya.

Selain bernilai ekologis, aktivitas bertani dalam MAHAR IKATAN juga mengandung nilai ibadah sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW:

“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman atau bercocok tanam, lalu hasilnya dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Manfaatkan Halaman Kantor Ikhtiar Ketahanan Pangan (MAHAR IKATAN) 
merupakan program inovasi dari KUA Karanganyar.(Foto: Sayono).

Hadis tersebut menjadi penguat bahwa bertani tidak hanya berdampak ekonomi dan sosial, tetapi juga bernilai pahala ukhrawi.

Melalui program MAHAR IKATAN, KUA Karanganyar berharap dapat menumbuhkan kesadaran ASN dan masyarakat bahwa ikhtiar kecil, jika dilakukan bersama, mampu(*)

Kontributor: Artanti Laili Zulaiha (Penyuluh Agama Islam KUA Karanganyar)
Editor: Imam Edi Siswanto

Senin, 12 Januari 2026

Hukum Menikah Dengan Satu Buyut dalam Islam

Hukum Menikah Dengan Satu Buyut
Oleh: Siti Suwarti, S.Ag (PAIF KUA Purbalingga Kankemenag Kabupaten Purbalingga)
Editor: Imam Edi Siswanto

Dalam Islam, menikahi kerabat yang memiliki satu buyut dari ibu kandung hukumnya boleh (halal), karena tidak termasuk dalam kategori mahram yang diharamkan secara nasab. Larangan pernikahan dalam Islam hanya mencakup garis keturunan dekat, seperti ibu, nenek, anak, cucu, saudara kandung, bibi, dan keponakan, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an. Adapun kerabat jauh, seperti sepupu jauh atau hubungan yang lebih renggang dari sepupu, tidak termasuk mahram.

Sepupu (anak dari saudara kandung ayah atau ibu) sendiri termasuk kategori yang halal dinikahi, selama tidak terdapat sebab pengharaman lain, seperti hubungan persusuan (radha’ah) atau hubungan pernikahan tertentu (mushoharah). 

Dasar Hukum dalam Islam
Larangan mahram secara tegas disebutkan dalam QS. An-Nisa’ ayat 23, yang melarang pernikahan dengan ibu, anak perempuan, saudara perempuan, bibi (saudara ayah atau ibu), keponakan perempuan, serta garis keturunan langsung ke atas dan ke bawah.

Dalam fiqih Islam, kategori mahram muabbad meliputi ibu kandung, nenek, buyut ke atas, anak, cucu, cicit ke bawah, saudara kandung atau tiri, bibi dari pihak ayah atau ibu, serta keponakan perempuan. Di luar kategori tersebut, hukum asal pernikahan adalah boleh. 

Tentang “Satu Buyut dari Ibu”
Yang dimaksud dengan “satu buyut dari ibu” adalah dua orang yang memiliki kakek atau nenek buyut yang sama dari jalur ibu. Hubungan kekerabatan ini tergolong kerabat jauh dan tidak termasuk mahram permanen, sehingga tidak dilarang untuk menikah secara syariat. 

Contoh dalam Sejarah Islam
Dalam sejarah Islam, Ali bin Abi Thalib menikahi Fatimah binti Rasulullah SAW. Ali sendiri adalah sepupu Nabi Muhammad SAW (anak Abu Thalib). Contoh ini menunjukkan bahwa pernikahan dengan kerabat yang bukan mahram nasab diperbolehkan dalam Islam. 

Kesimpulan
Dengan demikian, menikahi kerabat yang memiliki satu buyut dari ibu kandung hukumnya boleh (halal) menurut syariat Islam, karena tidak termasuk mahram nasab sebagaimana yang diharamkan dalam QS. An-Nisa’ ayat 23. Selama tidak terdapat sebab pengharaman lain seperti persusuan (radha’ah) atau hubungan pernikahan tertentu (mushoharah), maka pernikahan tersebut sah menurut Islam.

Untuk mendapatkan informasi dan konsultasi seputar pernikahan lebih lanjut pembaca setia IPARI bisa menghubungi Penyuluh Agama Islam KUA Kota Purbalingga atau Penyuluh Agama Islam di KUA terdekat pada jam kerja Senin - Jumat.(*)

Jumat, 02 Januari 2026

Tahun Baru sebagai Momentum Muhasabah dan Peningkatan Iman

Tahun Baru sebagai Momentum Muhasabah dan Peningkatan Iman
Oleh Siti Suwarti (PAIF Kankemenag Purbalingga KUA Purbalingga)
Editor: Imam Edi Siswanto


Bagi umat Islam, Tahun Baru Masehi dapat dimaknai sebagai momentum introspeksi diri, mengevaluasi perjalanan spiritual, memperbaiki kekurangan, serta menata langkah menuju kehidupan yang lebih baik dan bermakna. Momentum ini bukan sekadar pergantian waktu, melainkan kesempatan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. 

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Siti%20Suwarti

Pertama, bersyukur. Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah. Tahun baru menjadi saat yang tepat untuk merenungi segala karunia yang telah diterima dan mengekspresikannya melalui sikap positif, kepedulian sosial, serta peningkatan ibadah. Dengan memadukan nilai syukur dan tradisi pergantian tahun, umat Islam dapat menjalani hidup dengan kesadaran spiritual yang lebih mendalam.

Kedua, bertaubat. Pergantian tahun adalah waktu yang tepat untuk kembali kepada Allah dengan hati yang bersih. Taubat menjadi bentuk refleksi atas kesalahan masa lalu sekaligus tekad memperbaiki diri di masa depan. Doa, munajat, dan permohonan ampunan menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah serta memohon kekuatan dalam menjalani kehidupan yang lebih baik.

Ketiga, renungan spiritual dan peningkatan amal. Islam mendorong umatnya untuk terus melakukan muhasabah, menetapkan tujuan hidup yang selaras dengan nilai-nilai keimanan, serta meningkatkan amal seperti zakat, infak, dan sedekah. Kepedulian sosial menjadi bagian penting dari wujud keimanan yang nyata.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 18 agar setiap hamba memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok. Ayat ini menegaskan pentingnya takwa sebagai bekal utama kehidupan. Takwa berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya secara sungguh-sungguh.

Dengan demikian, menyambut tahun baru hendaknya diisi dengan dua hal utama: takwa dan muhasabah. Keduanya menjadi fondasi agar setiap langkah ke depan lebih terarah, bermakna, dan diridhai Allah SWT. Sebagaimana pesan Rasulullah SAW, orang yang beruntung adalah mereka yang hari ini lebih baik dari kemarin, dan merugi bila hari ini tak lebih baik dari sebelumnya.(*)

Selasa, 30 Desember 2025

Refleksi Akhir Tahun: Menguatkan Peran Keluarga, Profesi, dan Pengabdian Umat

Refleksi Akhir Tahun: Menguatkan Peran Keluarga, Profesi, dan Pengabdian Umat
Oleh : Artanti Laili Zulaiha (PAI KUA Karanganyar)
Editor: Imam Edi Siswanto


Akhir tahun merupakan momentum untuk melakukan refleksi, evaluasi, dan penguatan komitmen dalam menjalani peran kehidupan, baik secara personal maupun profesional. Penghujung tahun menjadi ruang renungan untuk mensyukuri perjalanan pengabdian sekaligus menata langkah menuju tahun 2026 dengan semangat yang lebih matang dan terarah.

Refleksi Pribadi: Bertumbuh dalam Nilai dan Integritas
Sebagai pribadi, tahun yang dilalui menghadirkan beragam dinamika kehidupan yang sarat pembelajaran. Setiap proses, baik keberhasilan maupun tantangan menjadi sarana pendewasaan diri. Nilai kesabaran, keikhlasan, dan konsistensi dalam menjaga integritas menjadi fondasi utama dalam menjalani peran-peran di tengah masyarakat. 

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Artikel%20Penyuluh

Sebagai Anak dan Istri/ suami: Menjaga Harmoni Keluarga
Keluarga merupakan basis utama pembentukan karakter. Sebagai seorang anak, refleksi tahun ini menegaskan pentingnya bakti kepada orang tua sebagai sumber keberkahan hidup. Sementara sebagai istri/ suami, perjalanan rumah tangga menjadi ruang belajar tentang tanggung jawab, komunikasi, dan kebersamaan. Keharmonisan keluarga dipahami sebagai hasil dari komitmen bersama untuk saling mendukung dan menguatkan.

Sebagai Penyuluh Agama Islam: Mengabdi dengan Pendekatan Humanis
Dalam kapasitas sebagai Penyuluh Agama Islam, memaknai tugas penyuluhan bukan sekadar penyampaian materi keagamaan, tetapi sebagai proses pendampingan umat secara berkelanjutan. Kehadiran penyuluh di tengah masyarakat dituntut mampu menjadi jembatan antara nilai-nilai keagamaan dan realitas sosial.

Pendekatan humanis, komunikatif, dan kontekstual menjadi kunci dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan agar dapat diterima, dipahami, dan diamalkan oleh masyarakat. Setiap interaksi dengan umat menjadi cermin untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan profesionalitas sebagai aparatur dan pelayan publik.

Peran dalam Masyarakat dan Pengabdian
Keterlibatan aktif dalam kehidupan masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peran sebagai penyuluh agama. Pengabdian tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan formal kelembagaan, tetapi juga melalui kehadiran nyata di tengah masyarakat—mendengar, memahami, dan turut menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan sosial dan keagamaan.

Melalui pendekatan yang komunikatif dan penuh empati, pengabdian dimaknai sebagai proses membangun kepercayaan dan menumbuhkan kesadaran kolektif. Sinergi dengan tokoh masyarakat, lembaga keagamaan, serta berbagai elemen sosial menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang harmonis, religius, dan berdaya. Peran ini dijalani dengan kesadaran bahwa pelayanan terbaik lahir dari ketulusan, konsistensi, dan komitmen untuk terus belajar dari masyarakat itu sendiri.

Menyongsong Tahun 2026: Komitmen dan Harapan
Menutup tahun dengan refleksi merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk melangkah lebih baik ke depan. Menyongsong tahun 2026, mari bersama berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas diri, memperkuat pengabdian kepada masyarakat, serta menjaga sinergi antara peran keluarga, profesi, dan organisasi.

Semoga tahun 2026 menjadi momentum yang baik untuk menghadirkan pelayanan keagamaan yang semakin berkualitas, responsif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai integritas, profesionalitas, dan moderasi beragama.(*) 

Rabu, 24 Desember 2025

Menanam Nilai, Merawat Bumi: Inovasi KUA Karanganyar Lewat Jumat Berakar dan Program BERLIAN

Kepala KUA Karanganyar, Amin Nasirudin memberikan bibit pohon manggis kepada pengguna layanan yang hadir pada Jumat pertama di KUA Karanganyar. (Foto: Tarom).

Purbalingga-Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Karanganyar terus berikhtiar menghadirkan wajah pelayanan publik yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga sarat nilai, makna, dan keberlanjutan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui dua program unggulan, yakni Jumat Berakar (Jumat Berkah KUA Karanganyar) dan BERLIAN (Bersih Lingkungan Asri dan Nyaman). 

Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Karanganyar, Artanti Laili Zulaiha menjelaskan, bahwa kedua program ini menjadi representasi nyata upaya KUA Karanganyar dalam mengintegrasikan pelayanan keagamaan dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup, sekaligus menjawab tantangan pelayanan publik yang berdampak dan berkelanjutan. 

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/KARANGANYAR

ASN KUA Karanganyar bersama-sama membersihkan lingkungan KUA Karanganyar. (Foto: Artanti).
Jumat Berakar: Pelayanan Keagamaan Berbasis Ekoteologi

Program Jumat Berakar lahir dari kesadaran bersama bahwa pelayanan keagamaan memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar ritual dan administrasi. Agama dipahami sebagai fondasi moral yang menuntun manusia untuk menjaga harmoni dengan alam sebagai amanah Tuhan.

Jumat Berakar sejalan dengan Asta Protas Kementerian Agama RI, khususnya penguatan Ekoteologi, yakni etika lingkungan berbasis nilai-nilai agama. Program ini juga selaras dengan gerakan Kemenag ASRI (Aman, Sehat, Rindang, Indah) yang diinisiasi oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga dengan slogan “Nandur Becik, Ati Resik”, yang menginspirasi KUA Karanganyar untuk menghadirkan inovasi serupa di tingkat kecamatan.

Program Jumat Berakar dilaksanakan setiap Jumat pertama dengan membagikan bibit pohon manggis kepada pengguna layanan, khususnya pasangan pengantin baru. Pemilihan pohon manggis memiliki makna filosofis dan ekologis: tanaman produktif, bernilai ekonomi, dan berumur panjang. Pohon ini diharapkan menjadi amal jariyah, kebaikan yang manfaat dan pahalanya terus mengalir hingga generasi berikutnya. 

Tujuan dan Manfaat Jumat Berakar 

Melalui Jumat Berakar, KUA Karanganyar berupaya mewujudkan KUA berbasis ekoteologi, yakni menjadikan kantor KUA sebagai ruang edukasi publik bahwa menjaga alam merupakan bagian dari ibadah. Selain itu, program ini berkontribusi dalam meningkatkan ruang terbuka hijau produktif, memperbaiki kualitas lingkungan, serta mendukung ketahanan pangan keluarga.

Dari sisi sosial dan edukatif, Jumat Berakar menanamkan kesadaran bahwa membangun rumah tangga berarti juga merawat kehidupan dan lingkungan. Sementara dari sisi spiritual, setiap pohon yang tumbuh, berbuah, dan memberi manfaat menjadi sumber pahala yang terus mengalir bagi penanamnya. 

ASN KUA Karanganyar tampak sedang melakukan kegiatan menjaga kebersihan halaman Kantor. (Foto: Aris Sungkowo).

BERLIAN KUA Karanganyar: Merawat Lingkungan Kerja, Menguatkan Pelayanan

Selain Jumat Berakar, KUA Karanganyar juga menjalankan program BERLIAN (Bersih Lingkungan Asri dan Nyaman) sebagai wujud komitmen menciptakan lingkungan kerja yang bersih, tertata, dan nyaman. Program ini dilaksanakan melalui kegiatan rutin bersih-bersih, penataan ruang kerja, serta perawatan taman dan area hijau di sekitar kantor.

Lingkungan kerja yang bersih dan asri diyakini mampu meningkatkan produktivitas, semangat kerja aparatur, sekaligus menghadirkan rasa nyaman dan kepercayaan bagi masyarakat yang datang untuk mendapatkan pelayanan.

Program BERLIAN mencerminkan budaya kerja KUA Karanganyar yang menjunjung tinggi kerapian, keindahan, dan kepedulian terhadap detail. Pembiasaan nilai-nilai positif ini menjadi fondasi penting dalam menciptakan pengalaman pelayanan publik yang ramah, profesional, dan berkesan.

Melalui program Jumat Berakar dan BERLIAN, KUA Karanganyar menegaskan bahwa pelayanan keagamaan dapat berjalan seiring dengan kepedulian lingkungan dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan. KUA tidak hanya hadir sebagai tempat mengurus administrasi, tetapi juga sebagai ruang penebar nilai, kesadaran, dan keberkahan, bagi manusia, alam, dan generasi masa depan.(*)

Kontributor : Artanti Laili Zulaiha (Penyuluh Agama Islam KUA Karanganyar)
Editor: Imam Edi Siswanto
 

Senin, 01 Desember 2025

HIV/AIDS: Fenomena Global dan Fitnatul-Hayat, serta Ikhtiar Pencegahannya dalam Perspektif Islam

HIV/AIDS: Fenomena Global dan Fitnatul-Hayat, serta Ikhtiar Pencegahannya dalam Perspektif Islam
(judul asli: Refleksi Hari AIDS Sedunia: HIV AIDS Azab Tuhan atau Ujian Kehidupan)
Oleh: Yuyu Yuniawati (PAIF KUA Padamara Purbalingga)
Editor: Imam Edi Siswanto


Salah satu persoalan kesehatan dunia yang belum menemukan titik terang hingga kini adalah HIV/AIDS. Kasusnya telah menyebar hampir ke seluruh negara, termasuk Indonesia. 

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/YUYU%20YUNIAWATI

Walaupun penelitian medis berjalan puluhan tahun, hingga saat ini belum ditemukan obat yang dapat memusnahkan virus HIV maupun vaksin untuk mencegahnya. Obat ARV yang digunakan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) hanya berfungsi menekan perkembangan virus agar tidak merusak sistem kekebalan tubuh.

Momentum Hari AIDS Sedunia (1 Desember) menjadi kesempatan untuk meningkatkan kewaspadaan, edukasi, serta memperkuat komitmen bersama dalam pencegahan HIV/AIDS.

Perkembangan Kasus HIV/AIDS
Secara global, kasus HIV/AIDS pertama ditemukan di Kinshasha, Kongo, tahun 1959, dan kemudian teridentifikasi pada seorang remaja di Missouri, Amerika Serikat. Di Indonesia, kasus pertama dilaporkan tahun 1987 pada seorang turis asal Belanda berinisial EGH, dan sejak itu Indonesia menjadi negara ke-13 di Asia yang melaporkan adanya kasus HIV/AIDS.

Seiring berjalannya waktu, jumlah kasus meningkat signifikan. Berdasarkan laporan Ditjen P2P Kemenkes RI, sejak tahun 1987 hingga 30 Juni 2019 terdapat 558.618 kasus kumulatif HIV/AIDS di Indonesia.

Di Jawa Tengah, kasus pertama ditemukan tahun 1993 di Kabupaten Pemalang. Hingga pertengahan 2025 tercatat 22.410 orang terinfeksi HIV/AIDS, dengan kasus baru terbanyak pada kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL).

Di Kabupaten Purbalingga, data KPAD menunjukkan bahwa pada rentang 2010–2022 terdapat 666 kasus, dengan 239 di antaranya meninggal dunia.

Seperti gunung es, angka kasus yang tercatat kemungkinan jauh lebih kecil daripada kasus sebenarnya. Hal ini memperkuat pentingnya deteksi dini dan edukasi berkelanjutan. 

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Artikel%20Penyuluh

Siapa yang Berisiko?
Penting untuk dipahami bahwa HIV tidak hanya menjangkiti kelompok berperilaku berisiko, tetapi dapat menimpa siapa saja jika terjadi kontak dengan cairan tubuh tertentu, yaitu:
1. Sperma melalui hubungan seksual berisiko,
2. Darah melalui jarum suntik atau transfusi yang tidak steril,
3. ASI dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya.

Banyak kasus dialami oleh:
· anak-anak yang tertular dari ibu,
· ibu rumah tangga yang tertular dari suami,
· petugas medis yang tertusuk jarum tidak sengaja.

Karena itu, HIV tidak menular melalui interaksi sosial seperti bersalaman, makan bersama, atau berdekatan.

Perspektif Islam: HIV/AIDS sebagai Ujian Kehidupan
Dalam pandangan agama, munculnya HIV/AIDS tidak semata-mata dipahami sebagai hukuman bagi pelaku maksiat. Al-Qur’an menegaskan bahwa ujian dapat menimpa siapa pun, termasuk orang yang taat beribadah.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anfal [8]: 25: “Dan waspadalah terhadap suatu fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”

Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga kebersihan lahir dan batin, menjauhi perbuatan yang menimbulkan mudarat, termasuk zina dan perbuatan yang mendekatinya sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Isra’ [17]: 32: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”

Ikhtiar Pencegahan Menurut Ajaran Islam dan Kebijakan Pemerintah
Sebagai bentuk menjaga diri dan keluarga, beberapa upaya berikut perlu ditegakkan:
1. Meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya (QS. Al-Maidah: 35).
2. Menjauhi perbuatan zina dan seks bebas yang menjadi salah satu faktor risiko penularan HIV.
3. Membiasakan pola hidup sehat, menjauhi miras, narkoba, serta perilaku lain yang merusak diri.
4. Selektif dalam bergaul, serta tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan negatif.
5. Mendukung kebijakan pemerintah, seperti:

o Program VCT (Voluntary Counselling and Testing) untuk konseling dan tes HIV secara sukarela.
o Perbup Purbalingga No. 50 Tahun 2019 tentang konseling dan tes HIV bagi calon pengantin  sebagai langkah deteksi dini dan edukasi pranikah.

Upaya ini tidak hanya menjadi ikhtiar kesehatan, tetapi juga bagian dari amal saleh dan bentuk kepedulian sosial.

Penutup
Menyadari besarnya ancaman HIV/AIDS, seluruh elemen masyarakat perlu bersinergi dalam pencegahan, edukasi, dan pendampingan bagi ODHA tanpa stigma. Islam mengajarkan kasih sayang, kepedulian, dan upaya menjaga kehidupan. Dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh serta kesadaran kolektif, kita berharap dapat memutus rantai penularan HIV/AIDS dan mewujudkan masyarakat yang sehat, berdaya, dan berkeadaban.(*)

Senin, 03 November 2025

Sembilan Nilai Integritas Anti Korupsi

Design By IES

Sembilan Nilai Integritas Anti Korupsi
Oleh Siti Suwarti (PAIF Kankemenag Purbalingga KUA Purbalingga)
Editor: Imam Edi Siswanto


Korupsi bukan sekadar persoalan hukum, tetapi juga persoalan moral dan karakter. Di tengah berbagai tantangan zaman, pendidikan antikorupsi menjadi kunci penting dalam membentuk generasi yang berintegritas, jujur, dan bertanggung jawab. Pendidikan ini tidak hanya mengajarkan definisi korupsi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur yang dapat mencegahnya sejak dini, baik di sekolah maupun di rumah.

A. Pengertian dan Dampak Korupsi

  • Pengertian: Korupsi adalah tindakan melawan hukum yang memperkaya diri sendiri atau orang lain, yang dapat merugikan negara, masyarakat, atau pihak lain.
  • Dampak: Merugikan keuangan negara, menghambat pembangunan, merusak keadilan, dan menciptakan ketidakpercayaan publik.

B. Sembilan Nilai Integritas Antikorupsi

Untuk mencegah korupsi, kita perlu menanamkan sembilan nilai integritas, yaitu:

  • Jujur: Mengakui kesalahan dan menyampaikan fakta dengan benar.
  • Peduli: Menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dan sesama, misalnya membantu teman yang kesulitan.
  • Mandiri: Mengerjakan tugas sekolah sendiri tanpa menyontek atau bergantung pada orang lain.
  • Disiplin: Melakukan tugas sesuai jadwal, aturan, dan tidak terlambat.
  • Tanggung Jawab: Menerima konsekuensi dari tindakan sendiri, menepati janji, dan mengembalikan barang yang dipinjam.
  • Kerja Keras: Mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh dan tidak mudah menyerah saat menemui kesulitan.
  • Sederhana: Hidup sesuai kemampuan, tidak berlebihan dalam berpakaian atau menggunakan barang mewah, serta menghindari perilaku boros.
  • Berani: Menyampaikan kebenaran meskipun ada ancaman atau tekanan, serta melaporkan tindakan korupsi.
  • Adil: Tidak memihak, memberikan kesempatan yang sama kepada semua orang, dan tidak membeda-bedakan. 

Nilai-nilai ini merupakan fondasi moral yang kokoh untuk membangun karakter antikorupsi dalam diri seseorang.

C. Bentuk Korupsi dan Contoh di Sekitar Kita

Korupsi tidak selalu terjadi di gedung pemerintahan; ia bisa muncul di sekitar kita dalam bentuk yang lebih kecil. Beberapa bentuk korupsi antara lain:
  • Suap: Memberi atau menerima uang/sesuatu untuk memengaruhi keputusan.
  • Nepotisme: Memilih atau mengutamakan keluarga atau teman untuk jabatan tertentu.
  • Penggelapan: Mengambil barang atau uang yang bukan miliknya.
  • Gratifikasi: Menerima hadiah yang berhubungan dengan jabatan.
  • Penyalahgunaan fasilitas: Menggunakan fasilitas sekolah atau kantor untuk kepentingan pribadi.
Mengenali bentuk-bentuk ini membantu kita lebih peka terhadap praktik korupsi yang mungkin tampak sepele, namun sesungguhnya melanggar kejujuran dan keadilan.

D. Penerapan di Kehidupan Sehari-hari

Pendidikan antikorupsi bukan sekadar teori, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
  • Membawa bekal dari rumah: Lebih hemat, sehat, dan menghindari keinginan untuk membeli makanan dengan cara yang tidak benar.
  • Merayakan ulang tahun secara sederhana: Menyesuaikan dengan kemampuan tanpa berlebihan atau memamerkan kekayaan.
  • Mengerjakan tugas sekolah dengan baik: Menunjukkan sikap kerja keras dan tanggung jawab.
  • Membayar barang yang dibeli secara jujur: Tidak mengurangi hak pedagang.
  • Menggunakan fasilitas sekolah dengan bijak: Tidak mencoret-coret dan tidak menyalahgunakannya untuk kepentingan pribadi.
Langkah kecil ini menjadi bagian dari upaya besar membangun masyarakat yang bersih, adil, dan bermartabat.(*)

Jumat, 31 Oktober 2025

Berlindung dari Penyakit Bakhil, Oleh PAIF KUA Purbalingga Siti Suwarti

Design by IES

Berlindung dari Penyakit Bakhil
Oleh: Siti Suwarti, S.Ag (PAIF KUA Purbalingga Kankemenag Purbalingga)
Editor: Imam Edi Siswanto

Bakhil, sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab yang berarti kikir atau pelit. Bakhil adalah sifat dan karakter yang harus dihindari oleh setiap Muslim. Sebab, kebakhilan adalah sikap egois, tercela dan berakibat buruk bagi kehidupan kita, baik di dunia maupun di akhirat. Kebakhilan juga bisa menimpa kepada siapa saja.

Itulah sebabnya sifat bakhil atau kikir merupakan salah satu sifat tercela dalam agama Islam. Bahkan para ulama mengatakan jika orang yang memiliki sifat kikir adalah orang yang terlalu cinta terhadap dunia, sehingga orang tersebut tak akan mau membagikan hartanya sedikit pun termasuk untuk bersedekah.

Orang dengan sifat kikir bahkan akan menutup mata saat saudara dan orang terdekatnya merasa kesulitan. Dirinya tidak ingin harta benda yang didapatkannya dinikmati oleh orang lain.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Purbalingga

Syekh Nawawi Al Batani dalam kita Nashoihul Ibad menjelaskan jika kikir adalah bagian dari karakter hayawani, yang mana jika seseorang memiliki sifat kikir maka akan menghapus karakter kemanusiaan dan akan menumbuhkan karakter kebinatangan.

Karenanya, agar umat muslim terhindar dari sifat kikir ada beberapa doa yang bisa dipanjatkan. Pernah diajarkan Rasulullah saw kepada seorang sahabat Anshar, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Dawud, nomor hadis 1555.

اَللَّهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَاَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَاَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَاَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّ جَالِ

Artinya: “Ya Tuhanku, aku berlindung pada-Mu dari rasa bimbang dan rasa sedih, dari rasa lemah dan rasa malas, dari sifat pengecut dan sifat kikir, serta dari beban hutang dan tekanan orang-orang (jahat).”

Kata الْبُخْلِ yang mempunyai arti kikir adalah menahan atau menyimpan sesuatu dengan enggan memberikannya. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang menahan hartanya dan tidak mau mengeluarkan untuk keperluan yang semestinya, baik untuk dirinya sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Orang bakhil mencintai hartanya melebihi apapun juga. Sebab, ia merasa bahwa harta kekayaannya adalah miliknya secara hakiki, sehingga, sulit untuk melepaskannya.

Secara istilah dalam syariah, kikir atau bakhil ini merujuk pada sifat seseorang yang sangat enggan mengeluarkan hartanya untuk keperluan-keperluan yang disyariatkan atau dianjurkan dalam agama, seperti sedekah, zakat, dan infaq.

Ini adalah sifat yang menyebabkan seseorang menahan hartanya dari berbagi, bahkan dalam keadaan yang sangat membutuhkan. Sifat bakhil ini tidak hanya terbatas pada menahan harta, tetapi juga mencakup sikap enggan berbagi dalam bentuk apapun, termasuk ilmu, tenaga, dan waktu. Padahal, Allah sudah mengingatkan dalam surah Ali Imran ayat 180:

‌وَلَا يَحۡسَبَنَّ الَّذِيۡنَ يَبۡخَلُوۡنَ بِمَاۤ اٰتٰٮهُمُ اللّٰهُ مِنۡ فَضۡلِهٖ هُوَ خَيۡـرًا لَّهُمۡ‌ؕ بَلۡ هُوَ شَرٌّ لَّهُمۡ‌ؕ سَيُطَوَّقُوۡنَ مَا بَخِلُوۡا بِهٖ يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ

“Sekali-kali janganlah orang-orang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak dilehernya di hari kiamat.”

Menurut Imam al-Ghazali, ada dua hal penyebab penyakit bakhil. Pertama, cinta harta dan takut miskin. Kedua, panjangnya angan-angan. Untuk mengobatinya harus mencari lawan dari penyebabnya itu. Orang yang cinta harta dan takut miskin perlu pengobatan dengan cara melawannya dengan sifat qanaah (merasa cukup dengan apa yang telah ada).

Cinta harta dan takut miskin adalah lanjutan dari ketamakan dan kerakusan terhadap harta yang telah dimilikinya. Ia mengira dengan banyaknya harta yang dimiliki, akan akan bahagia hidupnya. Tidak! Jika kebakhilan disebabkan oleh karena panjangnya angan-angan, maka obatnya menurut Imam al-Ghazali adalah dengan mengingat kematian.

Dengan menyadarkan akan kematian pasti akan ada perubahan pada setiap manusia. Maka, akan lahir kemauan untuk mempersiapkan diri setelah kematian. Harta yang saat ini dimilikinya merupakan titipan Allah yang harus dijaga dan digunakan sesuai peruntukannya.

Orang yang di dalam hatinya sudah dirasuki sifat kikir akan mengorbankan dirinya demi mengejar harta dunia dan dia sendiri tidak mau membelanjakan hartanya untuk kebahagiaan diri sendiri maupun orang lain.

Sudah menjadi fitrah manusia untuk mencari harta selama hidup di dunia. Setiap manusia pasti berusaha mencari harta untuk mencukupi diri dan keluarganya. Begitu halnya dengan sifat kikir atau pelit. Sifat ini juga sudah menjadi fitrah tersendiri bagi manusia. Namun hanya sedikit sekali dari kita yang mampu mengendalikan fitrah ini ke arah yang lebih dicintai oleh Allah.

Sifat kikir banyak ditemui saat seseorang memiliki kecukupan harta. Di saat inilah manusia diuji untuk saling berbagi. Jika orang tersebut memiliki keimanan yang kuat, sudah tentu dia dengan mudah mengeluarkan hartanya untuk sesama. Namun jika tidak maka sifat kikir dan hobi menumpuk-numpuk harta telah menguasai jiwanya.

Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah (takutlah) oleh kalian perbuatan dzalim, karena kedzaliman itu merupakan kegelapan pada hari kiamat. Dan jauhilah oleh kalian sifat kikir, karena kikir telah mencelakakan umat sebelum kalian, yang mendorong mereka untuk menumpahkan darah dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan bagi mereka”. (HR: Muslim).

Saat ini kebakhilan sudah menjadi penyakit yang meluas dikalangan ummat Islam. Ekonomi kapitalis dan budaya hidup cuek inilah yang menjadikan kita tidak peka terhadap sesama. Lingkungan keluarga dan masyarakat telah berhasil menanamkan jiwa invidualisme. Yang penting menjadi kaya, kecukupan, semua kebutuhan serba ada, dan tidak memikirkan kebutuhan saudaranya yang lain.

Karena sebab itulah muncul berbagi bentuk kebahilan pada ummat islam ini. Bakhilnya seorang da’i untuk menyampaikan kebenaran karena takut nikmat dunianya berkurang. Bakhilnya seorang pemimpin untuk menggunakan kepemimpinannya guna membela islam dan kebenaran. Bakhilnya seseorang untuk mengorbankan waktunya berfikir untuk kemajuan Islam.

Bakhilnya seseorang untuk mengeluarkan hartanya di jalan Allah Ta’ala. Lebih parah lagi adalah bakhilnya seseorang untuk memberikan kemudahan bagi orang lain walaupun hanya dengan sesuatu yang remeh. Orang yang bakhil tidak akan mungkin mau memberikan hartanya, waktunya, tenaganya apalagi jiwa dan ruhnya untuk Islam.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita dalam melakukan kebaikan, melapangkan dada kita untuk berinfaq dan menjauhkan kita dari kebakhilan. Tidaklah seseorang dimudahkan dalam berinfaq kecuali atas kehendak-Nya, dan tidak ada yang disempitkan karena kebakhilan kecuali atas kehendak-Nya.(*)

Pujianto dan MA Zaenal Abidin: Silaturahmi Menguat, Kedamaian Rumah Menjadi Fondasi Masyarakat

PAI Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Pujianto dan Moh Agus Zaenal Abidin, dalam program Lentera Hati yang disiarkan melalui LPPL Gem...