Tahun Baru sebagai Momentum Muhasabah dan Peningkatan Iman
Oleh Siti Suwarti (PAIF Kankemenag Purbalingga KUA Purbalingga)
Editor: Imam Edi Siswanto
Bagi umat Islam, Tahun Baru Masehi dapat dimaknai sebagai momentum introspeksi diri, mengevaluasi perjalanan spiritual, memperbaiki kekurangan, serta menata langkah menuju kehidupan yang lebih baik dan bermakna. Momentum ini bukan sekadar pergantian waktu, melainkan kesempatan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Siti%20Suwarti
Pertama, bersyukur. Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah. Tahun baru menjadi saat yang tepat untuk merenungi segala karunia yang telah diterima dan mengekspresikannya melalui sikap positif, kepedulian sosial, serta peningkatan ibadah. Dengan memadukan nilai syukur dan tradisi pergantian tahun, umat Islam dapat menjalani hidup dengan kesadaran spiritual yang lebih mendalam.
Kedua, bertaubat. Pergantian tahun adalah waktu yang tepat untuk kembali kepada Allah dengan hati yang bersih. Taubat menjadi bentuk refleksi atas kesalahan masa lalu sekaligus tekad memperbaiki diri di masa depan. Doa, munajat, dan permohonan ampunan menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah serta memohon kekuatan dalam menjalani kehidupan yang lebih baik.
Ketiga, renungan spiritual dan peningkatan amal. Islam mendorong umatnya untuk terus melakukan muhasabah, menetapkan tujuan hidup yang selaras dengan nilai-nilai keimanan, serta meningkatkan amal seperti zakat, infak, dan sedekah. Kepedulian sosial menjadi bagian penting dari wujud keimanan yang nyata.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 18 agar setiap hamba memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok. Ayat ini menegaskan pentingnya takwa sebagai bekal utama kehidupan. Takwa berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya secara sungguh-sungguh.
Dengan demikian, menyambut tahun baru hendaknya diisi dengan dua hal utama: takwa dan muhasabah. Keduanya menjadi fondasi agar setiap langkah ke depan lebih terarah, bermakna, dan diridhai Allah SWT. Sebagaimana pesan Rasulullah SAW, orang yang beruntung adalah mereka yang hari ini lebih baik dari kemarin, dan merugi bila hari ini tak lebih baik dari sebelumnya.(*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar