Tampilkan postingan dengan label Khutbah Jumat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah Jumat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Desember 2025

Penyuluh Agama KUA Kaligondang Isi Khutbah Jumat di Masjid Ar-Rabbani Polres Purbalingga

PAI KUA Kaligondang, Wagino, S.H., M.H., melaksanakan khutbah Jumat di Masjid Ar-Rabbani Polres Purbalingga pada Jumat, 19 Desember 2025. (Foto: Istimewa)

Purbalingga-Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kaligondang, Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Wagino, S.H., M.H., melaksanakan khutbah Jumat di Masjid Ar-Rabbani Polres Purbalingga pada Jumat, 19 Desember 2025 lalu. 

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pembinaan keagamaan sekaligus penguatan nilai-nilai spiritual bagi anggota kepolisian dan jamaah masjid.

Khutbah Jumat tersebut merupakan wujud kolaborasi yang telah terjalin cukup lama antara Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga dengan Polres Purbalingga. Sinergi ini bertujuan untuk memperkuat pembinaan mental dan keagamaan, khususnya di lingkungan kepolisian, agar nilai-nilai religius dapat senantiasa terinternalisasi dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

Dalam khutbahnya, Wagino menyampaikan pesan-pesan keislaman yang menekankan pentingnya keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Ia juga mengingatkan pentingnya integritas, profesionalisme, serta tanggung jawab moral dalam menjalankan tugas dan pengabdian kepada masyarakat.

Selain itu, materi khutbah mengajak jamaah untuk senantiasa berbakti kepada kedua orang tua, menjaga ukhuwah Islamiyah, serta menampilkan akhlakul karimah dalam kehidupan pribadi maupun sosial. 

"Nilai-nilai tersebut menurut saya relevan bagi seluruh jamaah, khususnya anggota kepolisian yang mengemban amanah besar dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat," katanya saat di konfirmasi D'Japri melalui Whatsapp, Ahad (21/12/2025).

Kegiatan khutbah Jumat berlangsung dengan khidmat dan tertib. Jamaah yang hadir terdiri dari anggota Polres Purbalingga, termasuk Kapolres Purbalingga. 

Melalui kegiatan ini, diharapkan sinergi antara Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga dan Polres Purbalingga semakin kuat dalam membangun karakter aparatur negara yang religius, berintegritas, dan berakhlak mulia.(*)

Kontributor: Wagino (PAI KUA Kaligondanag)
Editor: Imam Edi Siswanto

Jumat, 21 November 2025

Khutbah Jumat di Rutan Purbalingga, PAI KUA Kaligondang Tekankan Dakwah Tanpa Batas Ruang dan Sekat Sosial

PAI KUA Kaligondang, Wagino, S.H., M.H., saat menjadi khatib pada pelaksanaan salat Jumat di Masjid Rumah Tahanan (RUTAN) Purbalingga, Jumat (21/11/2025). (Foto: Istimewa)

Purbalingga-Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kaligondang, Wagino, S.H., M.H., kembali menjalankan tugas dakwahnya dengan menjadi khatib pada pelaksanaan salat Jumat di Masjid Rumah Tahanan (RUTAN) Purbalingga, Jumat (21/11/2025).

Dalam khutabhnya, Ia menyampaikan pesan bahwa, dakwah dan pembinaan umat merupakan amanah besar yang tidak dibatasi oleh ruang, waktu, maupun sekat sosial

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Khutbah%20Jumat 

Menurutnya, bimbingan keagamaan harus dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

“Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga terus berikhtiar menghadirkan dakwah yang menyejukkan bagi semua kalangan,” ucapnya.

Dari masyarakat pedesaan, lanjutnya, hingga perkotaan, dari lingkungan pendidikan hingga komunitas pekerja, bahkan bagi warga binaan yang tengah menjalani masa pembinaan di Rutan Purbalingga.

Di hadapan jamaah, Ia menegaskan pula bahwa, hidayah Allah dapat turun kepada siapa saja, kapan saja, dan melalui cara apa saja

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Kaligondang 

Karena itu, penyuluh agama berkewajiban hadir tidak hanya bagi masyarakat umum, tetapi juga bagi warga binaan yang memiliki hak yang sama untuk memperoleh pencerahan spiritual, motivasi, dan bimbingan untuk memperbaiki diri.

“Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya bertaubat dan memberikan kesempatan kepada setiap manusia untuk berubah menjadi lebih baik,” ajaknya kepada para jemaah.

Dalam menjalankan tugasnya, penyuluh agama hadir dengan pendekatan yang lembut, edukatif, dan penuh empati, mengajarkan nilai moral, akhlak mulia, serta pentingnya menjaga hubungan baik dengan Allah SWT dan sesama manusia.

Melalui kegiatan pembinaan, ceramah, dialog keagamaan, dan pendampingan spiritual, penyuluh agama di Kabupaten Purbalingga berupaya menebarkan cahaya kebaikan secara merata, menyentuh hati seluruh masyarakat tanpa terkecuali, termasuk warga binaan.

Di akhir khutbah, khatib mengajak seluruh jamaah untuk memperkuat solidaritas sosial dan senantiasa merangkul saudara-saudara yang sedang menjalani pembinaan, agar kelak dapat kembali ke masyarakat dengan hati yang lebih tenang, jiwa yang lebih kuat, dan akhlak yang lebih mulia.(*)

Kontributor : Wagino (Penyuluh Agama Islam KUA Kaligondang)
Editor: Imam Edi Siswanto

Jumat, 16 Mei 2025

Menanam untuk Surga: Lingkungan Sehat, Amal Berlipat

 

Menanam untuk Surga: Lingkungan Sehat, Amal Berlipat
Oleh: Imam Edi Siswanto

KHUTBAH PERTAMA

اْلحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيْدًا 

أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلهَ إِلاَّاللَّهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ 

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: 

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: 

يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اتَّقُوْا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، 

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ 

النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

Jama’ah Jumat rahimakumullah,.
Kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kita berbagai macam nikmat, terutama nikmat iman, Islam, dan kesempatan untuk hadir dalam majelis yang mulia ini.

Kita bershalawat serta mengucapkan salam kepada Nabi besar Muhammad ﷺ, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umat beliau yang istiqamah di jalan Islam hingga hari kiamat.

Jama’ah Jumat rahimakumullah,

Islam adalah agama yang sempurna, mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam hal menjaga dan merawat lingkungan hidup.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan bumi ini sebagai tempat tinggal yang penuh dengan keseimbangan. Bumi adalah amanah kita, menjaga lingkungan berarti bukti ketaatan dan sebagai tanda Iman kita kepada Allah SWT.

Allah berfirman dalam surat Ar-Rahman ayat 7-8:

   اَلَّا تَطْغَوْا فِى الْمِيْزَانِ وَالسَّمَاۤءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيْزَانَۙ - 

"Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan), supaya kamu jangan merusak keseimbangan itu."

Ayat ini menegaskan bahwa kita sebagai manusia dilarang merusak keseimbangan alam. Perusakan hutan, pencemaran udara, dan pemborosan sumber daya alam adalah bentuk kerusakan yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Nabi Muhammad ﷺ juga mengajarkan pentingnya menjaga alam. Beliau bersabda:

حَدَّثَنَا بَهْزٌ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ

Saya mendengar Anas bin Malik berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Jika kiamat hendak terjadi dan di tangan kalian ada biji tumbuhan, maka jika kalian sanggup menanamnya sebelum benar-benar terjadi kiamat, lakukanlah”.  (HR. Ahmad No. 12981).

Hadis ini menunjukkan bahwa penghijauan dan menanam pohon adalah perbuatan yang sangat mulia, bahkan dalam situasi yang tampak tidak lagi berguna.

Jama’ah yang dirahmati Allah,
Kita hari ini menyaksikan berbagai bencana alam: banjir, longsor, kekeringan, dan suhu ekstrem. Ini semua sering kali merupakan akibat dari kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh tangan manusia sendiri. Allah telah mengingatkan kita dalam surat Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Maka, mari kita renungkan: Sudahkah kita menjaga lingkungan? Sudahkah kita menanam pohon atau malah menebang pohon sembarangan? Sudahkah kita membuang sampah pada tempatnya?

Jama’ah Jumat yang dimuliakan Allah,
Sebagai umat Islam, mari kita wujudkan kepedulian terhadap lingkungan dengan langkah-langkah nyata:

  • Menanam pohon di sekitar rumah, kantor atau masjid,
  • Mengurangi penggunaan plastik,
  • Tidak membakar sampah sembarangan,
  • Menjaga kebersihan sungai dan tempat umum,
  • Mengajak keluarga dan anak-anak kita untuk mencintai alam.

Semua ini adalah bagian dari amal saleh yang akan dicatat sebagai pahala oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلاَّ كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَلاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ

Artinya, “Dari sahabat Jabir ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, ‘Tiada seorang muslim yang menanam pohon kecuali apa yang dimakan bernilai sedekah, apa yang dicuri juga bernilai sedekah. Tiada pula seseorang yang mengurangi buah (dari pohon-)nya melainkan akan bernilai sedekah bagi penanamnya sampai hari Kiamat,’” (Imam Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri, At-Targhib wat Tarhib minal Haditsisy Syarif, [Beirut, Darul Fikr: 1998 M/1418 H], juz III, halaman 304).

Semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai bumi ini sebagaimana Nabi kita mengajarkannya.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتُهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

 

KHUTBAH KE 2

اْلحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، 

أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلهَ إِلاَّاللَّهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ 

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: 

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: 

يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اتَّقُوْا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

اْلحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِميْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ والْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ 

قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ فَيَاقَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ عِلْمًا نَفِعًا وَرِزْقًا وَاسِعًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

Jumat, 02 Mei 2025

Khutbah Jumat, Halal Bi Halal Media Rekonsiliasi

Design grafis by IES

Halal Bi Halal: Media Rekonsiliasi
Purbalingga-Dalam suasana pasca Idul fitri yang penuh dengan semangat silaturahmi, Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga KUA Bukateja Rakhyanto Dwi Nugroho memberikan Khutbah Jumat dengan tema "Halal Bi Halal Media Rekonsiliasi", di Masjid Al Fadlilah Cipaku Kecamatan Mrebet, Jumat (4/4/2025) lalu.

Dalam khutbahnya, Ia menekankan pentingnya tradisi Halal Bi Halal sebagai sarana mempererat hubungan antar individu, memperbaiki komunikasi yang sempat renggang, serta memperkuat nilai persaudaraan dalam masyarakat.

"Halal Bi Halal bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum spiritual dan sosial yang sangat bernilai. Ia menjadi jembatan rekonsiliasi baik dalam keluarga, masyarakat, maupun bangsa," ungkapnya di hadapan jamaah.

Dalam khutbahnya, Ia juga menyoroti pentingnya memaafkan dan membuka ruang dialog antar warga sebagai langkah nyata menjaga kerukunan. 


Berikut materi khutbah jumat yang diolah dari Nidaul Ummah, PCNU Bantul, Yogyakarta. 
 
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ القَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيمِ

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ".

وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلى اٰلِه وَأَصْحَابِه وَالتَّابِعِيْنَ.

أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَه لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ

فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اوصينى واياكم بتقوى الله. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ


Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah- perintahNya dan menjauhi larangan-Nya. Dengan harapan semoga kita senantiasa mendapat rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Telah menjadi tradisi dan kebiasaan yang sangat baik dimasyarakat kita bahwa setiap bulan Syawal melakukan halal bihalal, saling memaafkan, dan bersilaturrahim. Kebiasaan ini kita jadikan sebagai momentum untuk rekonsiliasi dan merekatkan kembali persaudaraan diantara kita. Firman Allah :

۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ

Artinya “Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa” (QS.Ali Imran : 133).

Tradisi halal bihalal, ini substansinya merupakan media protektif bagi amal ibadahnya. Ini merujuk hadits Imam Muslim sebagai berikut :

Nabi pernah bersabda: “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” tanya Rasulullah kepada para sahabat. Para sahabat lalu menjawab, “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta benda”.

Rasulullah lalu bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun dia juga datang dengan membawa dosa kezaliman. 
 
Dia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si Anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kezalimannya itu, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. 
 
Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dizaliminya sementara belum semua kezalimannya tertebus, diambillah kejelekan/ kesalahan yang dimiliki oleh orang yang dizaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim) .

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Wusana kata semoga Allah melimpahkan rahmat dan hidayahNya pada kita semua, dan seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadhan lalu diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Semoga Allah melimpahkan rahmat dan hidayahNya pada kita semua, dan seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadhan lalu diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَاِن الرَّ جِيْمِ . ِبسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّ حِيْمِ
 
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ ۝١ مَلِكِ النَّاسِۙ ۝٢ اِلٰهِ النَّاسِۙ ۝٣ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ ۝٤ الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ ۝٥ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِࣖ ۝٦
 
بَارَكَ اللَّهُ لِىْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَاِيَّاكُمْ تِلاَ وَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلّٰهِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ بنِ عَبدِ الله وَعَلى اٰلِه وَأَصْحَابِه وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلى يَوْمِ القِيَامَة.

أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ أَمَّا بَعْدُ

فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُسلِمُونَ. اوصينى واياكم بتقوى الله اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ. وَاعلَمُوا إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ.

قَالَ تَعاَلى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيّ يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُم بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبى وَيَنْهى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلى نِعَمِه يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

Editor: Imam Edi Siswanto

Jumat, 14 Maret 2025

Khutbah Jumat: Ramadhan dan Kepedulian Lingkungan Sosial oleh Syukur Ariyadi

 

PAI KUA Kutasari Syukur Ariyadi, saat menyampaikan Khutbah Jumat di Masjid At Taubah Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Purbalingga, Jumat (14/3/2025).

Ringkasan Khutbah Jumat dengan topik Ramadhan dan Kepedulian Lingkungan Sosial disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kutasari Syukur Ariyadi di Masjid At Taubah Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Purbalingga, Jumat (14/3/2025).

Berikut ringkasan Khutbah Jumatnya.

Salah satu bentuk ketakwaan yang sering kita abaikan adalah kepedulian terhadap lingkungan hidup. Padahal, Islam mengajarkan kita untuk menjaga alam sebagai bentuk amanah dari Allah.


BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/2025/03/syukur-ariyadi-tiga-tingkatan-puasa.html

 

Ramadhan, kita bukan hanya melatih menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih diri untuk menjadi pribadi yang shaleh secara personal dan soleh secara sosial.

Kesolehan kita harus bisa terwujudkan dalam wujud mampu memberi kemaslahatan bagi diri dan lingkungan. Tidak merusak lingkungan setelah Allah menciptakannya dengan sangat sempurna. Allah SWT berfirman dalam Al-Qurʼan:


وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ


Artinya: "Dan Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.." (QS. Al-A'raf: 56)

Saat ini, kita melihat dan merasakan sendiri bahwa intensitas hujan tinggi terjadi di bulan Ramadhan. Kondisi ini telah menyebabkan bencana banjir terjadi di berbagai daerah di negeri kita.

Banyak saudara kita yang terdampak, kehilangan tempat tinggal, harta benda, bahkan nyawa. Ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah dan amanah yang harus kita laksanakan.

Banyak faktor yang menyebabkan bencana ini, salah satunya adalah ulah kita sendiri yang tidak menjaga alam dengan baik. Penebangan pohon secara liar, pembuangan sampah sembarangan, serta pembangunan yang tidak memperhatikan keseimbangan ekosistem menjadi penyebab utama bencana banjir dan longsor.

Rasulullah SAW telah mengingatkan dalam sabdanya untuk benar-benar merawat lingkungan dengan contoh menanam pohon.

Selain sebagai penjaga kelestarian lingkungan melalui resapan airnya dan oksigen yang bermanfaat bagi udara di bumi, menanam pohon juga merupakan ibadah yang masuk dalam kategori sedekah. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً، وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ، وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ


Artinya: “Jabir berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, Tidaklah seorang muslim menanam pohon kecuali buah yang dimakannya menjadi sedekah, yang dicuri menjadi sedekah, yang dimakan binatang buas adalah sedekah, yang dimakan burung adalah sedekah, dan tidak diambil seseorang kecuali menjadi sedekah,ˮ (HR. Muslim).

Maka, bulan Ramadhan ini mengingatkan kita untuk menjadikannya momentum lebih peduli terhadap lingkungan. Puasa mengajarkan kita untuk menahan diri dari tindakan yang merugikan, termasuk dalam merusak lingkungan.

Mari kita mulai dari hal-hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik, serta menanam pohon untuk menjaga keseimbangan alam.

Dengan merawat dan menjaga lingkungan, kita membangun masa depan yang berkelanjutan, sehat, dan harmonis bagi manusia dan seluruh makhluk hidup. Tindakan kecil dari setiap individu dapat memiliki dampak besar jika dilakukan secara kolektif dengan penuh kesadaran.

Syekh Abdul Qadir Jailani dalam Fathur Rabbani wal Faydur Rahmani mengatakan: “Jika kamu menyukai makanan enak, pakaian bagus, rumah mewah, wanita cantik, dan harta yang berlimpah, sementara pada saat yang sama kamu menginginkan agar saudara seimanmu mendapatkan kebalikannya, maka sungguh bohong bila kamu mengaku memiliki iman yang sempurna.

Wahai orang kurang akal! Kamu berdampingan dengan tetangga yang fakir dan mempunyai sanak-saudara miskin, sedangkan kamu memiliki harta yang sudah layak dizakati, keuntunganmu berlipat ganda setiap hari, dan kamu memiliki kekayaan lebih. Jika kamu enggan memberi dan menolong mereka, berarti kamu rela dengan kefakiran mereka.ˮ

Inilah gambaran bagaimana Allah, Rasulullah, dan para ulama mengingatkan kita semua untuk memiliki kebersamaan yang tinggi dan kepedulian kolektif. Kita perlu ingat, keimanan tidak selamanya diukur berdasarkan jumlah ibadah mahdhoh seperti shalat, zikir, haji dan sebagainya.

Walaupun kita rajin ibadah ritual dan percaya pada Allah jika kita tak memperkuat ibadah sosial atau tak peka pada lingkungan maka keimanan kita pun sangat layak dipertanyakan.(*)


Purbalingga Carnival 2026, Kemenag Purbalingga Tampilkan Layanan dan Budaya

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga saat memberikan gunungan buah dan sayuran kepada Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif dan ...