Keajaiban Silaturahmi: Memperpanjang Usia dan Meluaskan Rezeki
Oleh Mufti Marlina Penyuluh Agama Islam Purbalingga Jawa Tengah
Oleh Mufti Marlina Penyuluh Agama Islam Purbalingga Jawa Tengah
Editor: Imam Edi Siswanto
Silaturahmi berasal dari dua kata, Shilah yang berarti menyambung atau menghubungkan, dan Ar-Rahm yang berarti kasih sayang atau rahim ibu. Maka, silaturahmi bukan sekadar berkunjung atau bersalaman, melainkan menyambungkan kembali tali kasih sayang yang mungkin mulai mengendur atau bahkan sempat terputus.
Al-Qur'an Surah An-Nisa ayat 1:
"Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."
Ayat ini menegaskan bahwa menjaga hubungan kekeluargaan dan kasih sayang adalah bagian tak terpisahkan dari ketakwaan kita kepada Allah SWT.
Rasulullah Saw. memberikan motivasi yang gemar menjaga silaturahmi. Beliau bersabda:
Silaturahmi berasal dari dua kata, Shilah yang berarti menyambung atau menghubungkan, dan Ar-Rahm yang berarti kasih sayang atau rahim ibu. Maka, silaturahmi bukan sekadar berkunjung atau bersalaman, melainkan menyambungkan kembali tali kasih sayang yang mungkin mulai mengendur atau bahkan sempat terputus.
Al-Qur'an Surah An-Nisa ayat 1:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
"Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."
Ayat ini menegaskan bahwa menjaga hubungan kekeluargaan dan kasih sayang adalah bagian tak terpisahkan dari ketakwaan kita kepada Allah SWT.
Rasulullah Saw. memberikan motivasi yang gemar menjaga silaturahmi. Beliau bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
"Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi."
Mari kita ulas dalam prespektif iman dan realitas sosial:
1. Melapangkan Rezeki: Dalam psikologi sosial, silaturahmi membuka pintu-pintu peluang. Bertemu saudara dan kawan membuka jalan informasi, kolaborasi, dan kepercayaan. Namun lebih dari itu, rezeki dalam Islam bukan sekadar materi, melainkan keberkahan. Orang yang gemar bersilaturahmi hatinya akan tenang, dan ketenangan itulah modal utama produktivitas.
2. Memperpanjang Usia: Para ulama menafsirkan 'panjang usia' dalam dua makna. Pertama, keberkahan waktu sehingga ia mampu melakukan banyak kebaikan dalam umur yang singkat. Kedua, ia akan tetap 'hidup' dan dikenang kebaikannya meskipun jasadnya sudah tiada. Secara medis, interaksi sosial yang hangat terbukti menurunkan tingkat stres dan meningkatkan imunitas tubuh.
Di era digital, tantangan silaturahmi semakin nyata. Kadang kita merasa sudah 'bersilaturahmi' hanya dengan memberi tanda like di media sosial atau mengirim pesan WhatsApp. Sentuhan fisik, tatapan mata yang penuh kasih, dan kehadiran raga dalam sebuah pertemuan majelis seperti ini memiliki energi spiritual yang tidak bisa digantikan oleh layar ponsel.
Rasulullah mengajarkan kita untuk saling mengunjungi, terutama kepada mereka yang sedang sakit, yang sedang berduka, atau yang sudah lama tidak terdengar kabarnya.
Silaturahmi yang paling mulia adalah ketika kita menyambung hubungan dengan orang yang telah memutusnya. Menghubungi saudara yang mungkin sedang berselisih dengan kita, memaafkan kerabat yang pernah menyakiti hati kita. Inilah puncak dari akhlak seorang mukmin. Kita tidak melakukannya karena mereka baik, tapi kita melakukannya karena kita patuh pada perintah Allah SWT.
Kesimpulanya, silaturahmi bukan sekadar interaksi sosial, tetapi ibadah yang memiliki dampak besar bagi kehidupan dunia dan akhirat, karena dengan menyambung tali kasih sayang, seseorang dapat memperoleh keberkahan rezeki, ketenangan hati, serta “panjang usia” dalam makna keberkahan amal dan dikenangnya kebaikan.
Silaturahmi yang paling mulia adalah ketika kita menyambung hubungan dengan orang yang telah memutusnya. Menghubungi saudara yang mungkin sedang berselisih dengan kita, memaafkan kerabat yang pernah menyakiti hati kita. Inilah puncak dari akhlak seorang mukmin. Kita tidak melakukannya karena mereka baik, tapi kita melakukannya karena kita patuh pada perintah Allah SWT.
Kesimpulanya, silaturahmi bukan sekadar interaksi sosial, tetapi ibadah yang memiliki dampak besar bagi kehidupan dunia dan akhirat, karena dengan menyambung tali kasih sayang, seseorang dapat memperoleh keberkahan rezeki, ketenangan hati, serta “panjang usia” dalam makna keberkahan amal dan dikenangnya kebaikan.
Di tengah tantangan era digital, silaturahmi sejati tetap menuntut kehadiran, kepedulian, dan keikhlasan, bahkan mencapai derajat tertinggi ketika seseorang mampu menyambung hubungan yang terputus. Dengan demikian, silaturahmi menjadi wujud nyata ketakwaan kepada Allah sekaligus kunci membangun kehidupan yang harmonis, sehat, dan penuh keberkahan(*)

Luarrrr biasaaa
BalasHapusJioooooss mantap
BalasHapus