Berbahagialah yang Makan dari Keringat Sendiri: Pesan Emas Pramoedya Ananta Toer
Oleh Fitriana Pusporini,S.Sy (PAI KUA Kutasari, Purbalingga Jawa tengah)
Editor: Imam Edi Siswanto
Pramoedya Ananta Toer, pernah mendengar nama itu? Dia adalah maestro dunia sastra Indonesia. Penulis novel kelas dunia Bumi Manusia yang mengguncang hati jutaan pembaca. Pramoedya lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925.
Pram, seperti ia akrab disapa, bukan sekadar penulis. Ia adalah pejuang kata yang lahir dari perjuangan nyata, pernah dipenjara selama 14 tahun tanpa pengadilan di masa Orde Baru. Tapi justru di situlah ia melahirkan Tetralogi Pulau Buru yang mengukir sejarah.
BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Artikel%20Penyuluh
Bayangkan, di tengah himpitan, Pram tetap menulis dengan tangan, menceritakan kisah Minke yang bangkit melawan penjajahan. Bumi Manusia bukan hanya novel; ia adalah cermin jiwa bangsa yang haus keadilan.
Bayangkan, di tengah himpitan, Pram tetap menulis dengan tangan, menceritakan kisah Minke yang bangkit melawan penjajahan. Bumi Manusia bukan hanya novel; ia adalah cermin jiwa bangsa yang haus keadilan.
Ada satu kalimat dari Pram yang selalu memukulku dalam-dalam, seperti cambuk yang membangunkan dari tidur panjang. Pram berkata, “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri.”
Kalimat itu seperti obor di malam gelap. Ia mengajak kita untuk bahagia bukan dari mengharap rezeki jatuh dari langit, tapi dari keringat yang menetes di kening. Maju bukan karena warisan orang tua atau jalan pintas, tapi dari pelajaran hidup yang kita petik sendiri.
Kalimat itu seperti obor di malam gelap. Ia mengajak kita untuk bahagia bukan dari mengharap rezeki jatuh dari langit, tapi dari keringat yang menetes di kening. Maju bukan karena warisan orang tua atau jalan pintas, tapi dari pelajaran hidup yang kita petik sendiri.
Di era digital sekarang, pesan ini makin relevan. Banyak anak muda tergoda sukses instan lewat medsos atau skema cepat kaya. Padahal, seperti Pram yang bangkit dari penjara, kebahagiaan sejati datang dari perjuangan pribadi.
Coba renungkan: petani yang panen padi dari ladangnya sendiri, ibu rumah tangga yang membangun keluarga harmonis dari pengalaman mendidik anak, atau penyuluh agama seperti kita yang memberdayakan masyarakat lewat ilmu dan kesabaran.
Coba renungkan: petani yang panen padi dari ladangnya sendiri, ibu rumah tangga yang membangun keluarga harmonis dari pengalaman mendidik anak, atau penyuluh agama seperti kita yang memberdayakan masyarakat lewat ilmu dan kesabaran.
Mereka semua "makan dari keringatnya sendiri." Pram mengingatkan, hidup bukan soal tujuan akhir, tapi prosesnya. Pengalaman pahit adalah guru terbaik; ia membentuk kita jadi lebih kuat, lebih bijak.
Perihal kemandirian ekonomi juga pernah disinggung oleh Nabi Muhammad Saw:
Perihal kemandirian ekonomi juga pernah disinggung oleh Nabi Muhammad Saw:
عَنِ الْمِقْدَامِ رَضِي اللَّهم عَنْه عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ)) رواه البخاري.
Dari al-Miqdam Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Tidaklah seorang (hamba) memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya (sendiri), dan sungguh Nabi Dawud as makan dari hasil usaha tangannya (sendiri)” HR. Al-Bukhari
Hadits di atas menerangkan bahwa begitu banyaknya keutamaan dari bekerja mencari nafkah yang halal dan berusaha mencukupi kebutuhan diri dan keluarga dengan usahanya sendiri. Bahkan hal ini termasuk sifat-sifat yang akan kita temui di setiap para Nabi dan orang-orang yang saleh.
Di hadis yang lain, Rasulullah bersabda: “Nabi Zakariya adalah seorang tukang kayu.” HR. Muslim.
Mari, keluar dari zona nyaman, kumpulkan keringatmu, dan maju dengan pengalamanmu sendiri. Siapa tahu, seperti Bumi Manusia, ceritamu pun akan menginspirasi generasi berikutnya. Berbahagialah, karena perjuanganmu adalah harta abadi.(*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar