Senin, 28 September 2026

Nida Lailiana NH: Cintailah Al-Qur’an, Maka Allah Akan Mencintaimu

PAI Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Nida Lailiana Nur Hanifah, dari KUA Karangmoncol, saat menyampaikan materi “Cintailah Al-Qur’an, Maka Allah Akan Mencintaimu” dalam program Lentera Hati melalui siaran radio LPPL Gema Soedirman 96,3 FM, Senini (14/9/2026). (Foto: Nida)

Cintailah Al-Qur’an, Maka Allah Akan Mencintaimu
Oleh: Nida Lailiana Nur Hanifah
Editor: Imam Edi Siswanto

Materi bertajuk “Cintailah Al-Qur’an, Maka Allah Akan Mencintaimu” disampaikan secara mendalam oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Nida Lailiana Nur Hanifah, dari KUA Karangmoncol, dalam program Lentera Hati melalui siaran radio LPPL Gema Soedirman 96,3 FM, Senin (14/9/2026) lalu. 

Nida, mengajak umat Islam untuk tidak sekadar membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami, merenungkan, mencintai, dan mengamalkan pesan-pesannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembaca setia iparipurbalingga.blogspot.com, berikut hasil rangkumanya.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search?q=siaran+radio  

Al-Qur’an adalah Sumber Kemuliaan
Al-Qur’an merupakan kalam Allah SWT sekaligus petunjuk bagi kehidupan manusia. Kemuliaannya memberikan keberkahan kepada siapa pun yang dekat dengannya. Karena itu, semakin baik interaksi seseorang dengan Al-Qur’an, semakin besar pula peluang lahirnya kemuliaan dalam pribadi dan perilakunya.

Rasulullah SAW memberikan teladan bahwa Al-Qur’an tidak cukup hanya dibaca dengan lisan, tetapi harus tercermin dalam akhlak. Aisyah r.a. menggambarkan akhlak Rasulullah SAW sebagai Al-Qur’an. Artinya, nilai-nilai Al-Qur’an benar-benar diwujudkan dalam tutur kata, sikap, dan perilaku beliau.

Cinta Al-Qur’an Harus Dibuktikan
Salah satu kisah dalam hadis Bukhari dan Muslim menceritakan seorang sahabat yang selalu membaca Surah Al-Ikhlas dalam salatnya. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab bahwa ia mencintai surah tersebut karena mengandung sifat-sifat Allah SWT. Rasulullah SAW kemudian menyampaikan bahwa Allah mencintainya.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa kecintaan kepada Al-Qur’an bukan sekadar ucapan. Cinta harus dibuktikan dengan kedekatan dan interaksi yang nyata: membaca, memahami, merenungkan, serta mengamalkan kandungannya. Bahkan, mencintai Al-Qur’an merupakan salah satu bentuk kecintaan kepada Allah SWT.

Empat Cara Menumbuhkan Cinta kepada Al-Qur’an
Pertama, memperbanyak membaca Al-Qur’an dengan tartil sekaligus berusaha memahami maknanya. Kualitas interaksi perlu dijaga melalui kebiasaan yang dilakukan secara istiqamah.

Kedua, mengenal keagungan dan kemukjizatan Al-Qur’an agar hati semakin terpaut dan terdorong untuk terus dekat dengannya.

Ketiga, mempelajari kehidupan para sahabat, ulama salaf, dan orang-orang yang dekat dengan Al-Qur’an. Keteladanan mereka dapat menjadi inspirasi untuk meningkatkan hubungan kita dengan Al-Qur’an.

Keempat, memperbanyak doa kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan untuk mencintai dan merindukan Al-Qur’an, termasuk doa: “Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku kecintaan kepada Al-Qur’an dan kerinduan untuk membacanya.”

Cinta yang Melahirkan Akhlak
Orang yang mencintai Al-Qur’an akan merasa senang ketika membacanya, tidak mudah bosan berinteraksi dengannya, merasa rindu ketika jauh darinya, menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan ketika menghadapi persoalan, serta berusaha menjalankan perintah dan menjauhi larangannya.

Karena itu, ukuran kecintaan kepada Al-Qur’an bukan hanya seberapa indah suara ketika membacanya, tetapi seberapa jauh nilai-nilainya hadir dalam kehidupan. Membaca Al-Qur’an adalah kebaikan, memahami kandungannya adalah pendalaman, sedangkan mengamalkannya merupakan bukti nyata kecintaan. 

MTQ dan Semangat Mencintai Al-Qur’an
MTQ Nasional juga menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an melalui berbagai cabang, seperti tilawah, tahfiz, tafsir, fahmil Qur’an, syarhil Qur’an, khattil Qur’an, dan karya tulis ilmiah Al-Qur’an. Namun, kecintaan kepada Al-Qur’an tidak harus menunggu seseorang menjadi qari, hafiz, atau juara MTQ.

Mari mulai dari langkah sederhana: luangkan waktu membaca Al-Qur’an setiap hari, pahami pesannya, ajarkan kepada keluarga, dan hadirkan akhlak Al-Qur’an dalam kehidupan.

Indahnya bacaan Al-Qur’an adalah syiar, tetapi indahnya akhlak karena Al-Qur’an adalah tujuan. Mari mencintai Al-Qur’an bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan hati, perbuatan, dan seluruh kehidupan.

Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)

Sabrina Rizqi Amalia: Menjadi Orang Tua Bijaksana

PAI Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Sabrina Rizqi Amalia, Penyuluh KUA Bojongsari, saat menyampaikan materi “Menjadi Orang Tua yang Bijaksana” dalam program Lentera Hati melalui siaran radio LPPL Gema Soedirman 96,3 FM. (Foto: Sabrina)

Menjadi Orang Tua Bijaksana
(Mendidik dengan Kasih Sayang, Keteladanan, dan Nilai Islam)
Oleh: Sabrina Rizqi Amalia
Editor: Imam Edi Siswanto


Kembali Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Sabrina Rizqi Amalia, Penyuluh KUA Bojongsari, menyampaikan materi “Menjadi Orang Tua yang Bijaksana” dalam program Lentera Hati melalui siaran radio LPPL Gema Soedirman 96,3 FM.

Dalam kesempatan ini, topik mendidik anak menjadi semakin menarik karena menurutnya bukan sekadar memenuhi kebutuhan duniawi, tetapi merupakan amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Berikut rangkumannya.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search?q=siaran+radio

Anak adalah Amanah, Bukan Sekadar Anugerah
Islam memandang anak sebagai anugerah sekaligus amanah. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk membimbing anak agar tumbuh menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi keluarga serta masyarakat.

Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Karena itu, pendidikan anak merupakan bagian dari tanggung jawab orang tua. 

Allah SWT juga mengingatkan dalam QS. At-Tahrim ayat 6: “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” 

Orang Tua adalah Pendidik Pertama
Pendidikan anak tidak hanya berkaitan dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga mencakup pembentukan spiritual, emosional, karakter, dan kemampuan bersosialisasi. 

Orang tua merupakan pendidik pertama dan utama. Apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan anak sejak kecil akan turut membentuk kepribadiannya ketika dewasa.

Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya dengan memberikan nasihat. Anak membutuhkan kasih sayang, pembiasaan perilaku baik, keteladanan, bimbingan, serta komunikasi yang terbuka.

15 Prinsip Menjadi Orang Tua yang Bijaksana

Dalam menjalankan amanah pengasuhan, orang tua dapat berpegang pada prinsip-prinsip berikut:
1. Berlaku adil kepada semua anak.
2. Mendidik dengan kasih sayang, bukan dengan kebencian.
3. Menjadi teladan yang baik, karena anak belajar dari perilaku orang tua.
4. Memberikan pendidikan yang berkualitas sesuai kebutuhan anak.
5. Mendoakan anak agar senantiasa mendapat petunjuk Allah SWT.
6. Mengajarkan tanggung jawab sejak dini.
7. Menghindari kekerasan fisik maupun verbal dalam mendidik.
8. Menanamkan tauhid dan kecintaan kepada Allah SWT sejak dini.
9. Mengajarkan keteladanan melalui perilaku nyata, bukan sekadar kata-kata.
10. Memahami tahapan perkembangan anak dan menyesuaikan pola asuh.
11. Mengajarkan akhlak melalui kisah dan teladan.
12. Membangun komunikasi yang terbuka agar anak merasa aman untuk bercerita.
13. Mengajarkan kemandirian secara bertahap.
14. Melatih kesabaran dalam menghadapi proses tumbuh kembang anak.
15. Membangun lingkungan Islami di rumah sebagai tempat pertama anak belajar nilai kehidupan. 

Bijaksana Menghadapi Tantangan Zaman
Menjadi orang tua bijaksana bukan berarti membiarkan anak tanpa aturan, tetapi mampu memberikan batasan dengan cara yang tepat. Perkembangan teknologi, pengaruh lingkungan pergaulan, dan gaya hidup menjadi tantangan yang membutuhkan pendampingan orang tua secara lebih bijaksana.

Karena itu, orang tua perlu terus belajar memahami kebutuhan anak sesuai zamannya, sekaligus menjaga nilai-nilai agama sebagai fondasi. Kasih sayang, keteladanan, komunikasi, dan doa harus berjalan bersama dalam proses pendidikan.

Allah SWT mengingatkan bahwa anak laki-laki maupun perempuan merupakan karunia yang diberikan sesuai kehendak-Nya (QS. Asy-Syura: 49–50). Karena itu, setiap anak perlu diterima, disyukuri, dan dididik dengan penuh tanggung jawab.
Mendidik dengan Hati, Membentuk Generasi

Pada akhirnya, menjadi orang tua bijaksana bukan tentang menjadi orang tua yang sempurna. Yang terpenting adalah mau belajar, bersabar, memberi teladan, mendengarkan anak, serta terus mendoakan kebaikan mereka.

Anak adalah amanah Allah SWT. Melalui pendidikan yang penuh kasih sayang, keteladanan, dan nilai-nilai Islam, semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang beriman, berakhlak mulia, mandiri, bertanggung jawab, dan membawa keberkahan bagi keluarga serta masyarakat.

“Didiklah dengan kasih sayang, bimbinglah dengan keteladanan, dan iringilah setiap langkah anak dengan doa.”

Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)

Nida Lailiana NH: Cintailah Al-Qur’an, Maka Allah Akan Mencintaimu

PAI Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Nida Lailiana Nur Hanifah, dari KUA Karangmoncol, saat menyampaikan materi “Cintailah Al-Qur’an...