Jumat, 10 April 2026

KUA Kalimanah Terapkan WFH: Disiplin ASN dan Layanan Tetap Prima

Kepala KUA Kalimanah, Kholodin, saat memimpin rapat koordinasi (rakor) yang digelar oleh KUA Kalimanah, Jumat (10/4/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Kebijakan Work From Home (WFH) di lingkungan Kementerian Agama Republik Indonesia yang mulai berlaku sejak 1 April 2026 semakin diperjelas implementasinya melalui rapat koordinasi (rakor) yang digelar oleh KUA Kalimanah, Jumat (10/4/2026).

Rakor ini secara khusus membahas tindak lanjut Surat Edaran Menteri PAN-RB Nomor 3 Tahun 2026 sebagai dasar pelaksanaan tugas kedinasan Aparatur Sipil Negara (ASN).

Rakor yang dipimpin langsung oleh Kepala KUA Kalimanah, Kholidin, menegaskan bahwa kebijakan WFH merupakan bagian dari transformasi tata kelola pemerintahan yang mengedepankan fleksibilitas kerja tanpa mengurangi kinerja dan kualitas pelayanan publik. Pola kerja yang diterapkan adalah kombinasi antara Work From Office (WFO) selama empat hari (Senin–Kamis) dan WFH satu hari dalam sepekan, yakni setiap Jumat.

Dalam arahannya, Kholidin menekankan bahwa fleksibilitas kerja harus tetap diimbangi dengan kedisiplinan dan tanggung jawab.

“WFH bukan sekadar bekerja dari rumah, tetapi tetap harus siap siaga, responsif, dan menjaga ritme kerja sebagaimana di kantor,” tegasnya.

Kepala KUA Kalimanah, Kholodin, saat memimpin rapat koordinasi (rakor) yang digelar oleh KUA Kalimanah, Jumat (10/4/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Ia juga menambahkan bahwa ASN yang melaksanakan WFH wajib memastikan perangkat komunikasi aktif serta siap hadir ke kantor apabila sewaktu-waktu dibutuhkan.

Rakor juga menyoroti pentingnya peran pimpinan satuan kerja dalam mengatur proporsi pegawai serta mekanisme teknis pelaksanaan WFO dan WFH. Penyesuaian tersebut harus mempertimbangkan karakteristik tugas serta jenis layanan yang diberikan kepada masyarakat, sehingga kualitas pelayanan tetap terjaga dan tidak mengalami penurunan.

Dalam aspek pelayanan publik, KUA Kalimanah memastikan seluruh layanan esensial tetap berjalan optimal. Sistem piket diberlakukan untuk menjamin layanan seperti pencatatan nikah, konsultasi keluarga, serta administrasi keagamaan tetap dapat diakses masyarakat, baik secara langsung maupun melalui layanan digital.

BACA: https://kuakalimanah.blogspot.com/search/label/Rakor

Selain itu, rakor menegaskan pentingnya optimalisasi digitalisasi layanan. Pemanfaatan sistem informasi digunakan tidak hanya untuk pelayanan publik, tetapi juga untuk presensi, pelaporan kinerja, serta monitoring capaian ASN secara berkelanjutan. Hal ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan transparansi dan akuntabilitas kinerja. 

Suasana rapat koordinasi (rakor) yang digelar oleh KUA Kalimanah, Jumat (10/4/2026). (Foto: Imam Edi Siswanto)

Sebagai bagian dari kebijakan efisiensi, penerapan WFH juga diiringi dengan langkah strategis seperti pembatasan perjalanan dinas, optimalisasi rapat daring, pengurangan penggunaan kendaraan dinas hingga 50 persen, serta penghematan energi di lingkungan kantor. Langkah ini selaras dengan upaya pemerintah dalam mendorong efisiensi anggaran dan pengelolaan sumber daya yang lebih bijak.

Dalam pembahasan teknis, disepakati bahwa pelaksanaan WFH di KUA Kalimanah akan dilakukan secara bergiliran melalui sistem penjadwalan yang adil dan terukur. Setiap ASN tetap wajib memenuhi target kinerja, menjaga komunikasi aktif, serta melaporkan hasil kerja secara berkala melalui sistem yang telah disediakan.

Melalui rakor ini, KUA Kalimanah menegaskan komitmennya untuk mendukung kebijakan nasional sekaligus menjaga kualitas pelayanan kepada masyarakat. Penerapan WFH diharapkan menjadi langkah strategis dalam mewujudkan birokrasi yang modern, profesional, dan tetap berorientasi pada pelayanan prima.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto

Kamis, 09 April 2026

Berbahagialah yang Makan dari Keringat Sendiri: Pesan Emas Pramoedya Ananta Toer

 

Berbahagialah yang Makan dari Keringat Sendiri: Pesan Emas Pramoedya Ananta Toer
Oleh Fitriana Pusporini,S.Sy (PAI KUA Kutasari, Purbalingga Jawa tengah)
Editor: Imam Edi Siswanto
 
Pramoedya Ananta Toer, pernah mendengar nama itu? Dia adalah maestro dunia sastra Indonesia. Penulis novel kelas dunia Bumi Manusia yang mengguncang hati jutaan pembaca. Pramoedya lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925. 
 
Pram, seperti ia akrab disapa, bukan sekadar penulis. Ia adalah pejuang kata yang lahir dari perjuangan nyata, pernah dipenjara selama 14 tahun tanpa pengadilan di masa Orde Baru. Tapi justru di situlah ia melahirkan Tetralogi Pulau Buru yang mengukir sejarah. 
 
BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Artikel%20Penyuluh

Bayangkan, di tengah himpitan, Pram tetap menulis dengan tangan, menceritakan kisah Minke yang bangkit melawan penjajahan. Bumi Manusia bukan hanya novel; ia adalah cermin jiwa bangsa yang haus keadilan.
 
Ada satu kalimat dari Pram yang selalu memukulku dalam-dalam, seperti cambuk yang membangunkan dari tidur panjang. Pram berkata, “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri.”

Kalimat itu seperti obor di malam gelap. Ia mengajak kita untuk bahagia bukan dari mengharap rezeki jatuh dari langit, tapi dari keringat yang menetes di kening. Maju bukan karena warisan orang tua atau jalan pintas, tapi dari pelajaran hidup yang kita petik sendiri. 
 
 
Di era digital sekarang, pesan ini makin relevan. Banyak anak muda tergoda sukses instan lewat medsos atau skema cepat kaya. Padahal, seperti Pram yang bangkit dari penjara, kebahagiaan sejati datang dari perjuangan pribadi.

Coba renungkan: petani yang panen padi dari ladangnya sendiri, ibu rumah tangga yang membangun keluarga harmonis dari pengalaman mendidik anak, atau penyuluh agama seperti kita yang memberdayakan masyarakat lewat ilmu dan kesabaran. 
 
Mereka semua "makan dari keringatnya sendiri." Pram mengingatkan, hidup bukan soal tujuan akhir, tapi prosesnya. Pengalaman pahit adalah guru terbaik; ia membentuk kita jadi lebih kuat, lebih bijak.

Perihal kemandirian ekonomi juga pernah disinggung oleh Nabi Muhammad Saw:

عَنِ الْمِقْدَامِ رَضِي اللَّهم عَنْه عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ)) رواه البخاري.

Dari al-Miqdam Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Tidaklah seorang (hamba) memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya (sendiri), dan sungguh Nabi Dawud as makan dari hasil usaha tangannya (sendiri)”
HR. Al-Bukhari

Hadits di atas menerangkan bahwa begitu banyaknya keutamaan dari bekerja mencari nafkah yang halal dan berusaha mencukupi kebutuhan diri dan keluarga dengan usahanya sendiri. Bahkan hal ini termasuk sifat-sifat yang akan kita temui di setiap para Nabi dan orang-orang yang saleh.

Di hadis yang lain, Rasulullah bersabda: “Nabi Zakariya adalah seorang tukang kayu.” HR. Muslim.

Mari, keluar dari zona nyaman, kumpulkan keringatmu, dan maju dengan pengalamanmu sendiri. Siapa tahu, seperti Bumi Manusia, ceritamu pun akan menginspirasi generasi berikutnya. Berbahagialah, karena perjuanganmu adalah harta abadi.(*)

KUA Kalimanah Terapkan WFH: Disiplin ASN dan Layanan Tetap Prima

Kepala KUA Kalimanah, Kholodin, saat memimpin rapat koordinasi (rakor) yang digelar oleh KUA Kalimanah, Jumat (10/4/2026). (Foto: Imam Edi S...