Oleh: Maftuhatirrohmah dan Utami Fian Nurhanifa (Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga)
Editor: Imam Edi Siswanto
Sukses merupakan impian setiap manusia. Namun, ukuran kesuksesan sering kali hanya dikaitkan dengan kekayaan, jabatan, popularitas, dan pencapaian duniawi.
Pada dialog program Lentera Hati Radio Gema Soedirman, Utami Fian Nurhanifa mengawali perbincangan dengan menanyakan makna sukses yang sesungguhnya kepada Maftuhatirrohmah.
“Bu Rohmah, sebenarnya sebagai seorang muslim, bagaimana kita mengukur kesuksesan yang hakiki? Apakah cukup dengan memiliki harta melimpah dan jabatan tinggi?” tanya Utami.
Maftuhatirrohmah menjelaskan bahwa Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya, memiliki jabatan, maupun meraih keberhasilan dalam pekerjaan.
Hal tersebut tercermin dalam doa sapu jagat QS. Al-Baqarah ayat 201:
Tiga Pilar Utama Meraih Kesuksesan
Utami kemudian bertanya, apa saja kunci untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat?
Maftuhatirrohmah menjelaskan bahwa ada tiga pilar penting. Pertama, meluruskan niat dan memperkuat tauhid. Setiap aktivitas hendaknya diniatkan karena Allah SWT.
Kedua, ikhtiar dan bekerja secara profesional. Islam mengajarkan umatnya untuk tidak berpangku tangan. Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Ra'd ayat 11 bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
Ketiga, menjaga hubungan dengan Allah dan sesama manusia (hablum minallah wa hablum minannas). Ibadah seperti salat, puasa, dan zakat merupakan wujud penghambaan kepada Allah, sedangkan berbakti kepada orang tua, jujur dalam bekerja, membantu sesama, dan tidak menyakiti orang lain merupakan wujud kebaikan sosial. Keduanya harus berjalan seimbang.
Bukan Sekadar Banyak, tetapi Harus Berkah
Utami kemudian mengangkat persoalan mengapa ada orang yang memiliki banyak harta, tetapi hidupnya belum tentu merasa tenang.
Menurut Maftuhatirrohmah, di sinilah pentingnya memahami makna keberkahan. Kesuksesan tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tetapi juga dari ketenangan, kecukupan, dan manfaat yang dihasilkan.
Untuk menjaga keberhasilan tersebut, umat Islam dianjurkan membiasakan salat tepat waktu, memperbanyak istighfar dan sedekah, meminta doa serta berbakti kepada orang tua, dan menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup.
Sukses Sejati adalah Dunia dan Akhirat
Menutup dialog, Maftuhatirrohmah mengingatkan bahwa kesuksesan bukan hanya tentang seberapa tinggi kedudukan atau seberapa banyak kekayaan yang dimiliki, melainkan bagaimana semua itu menjadi jalan untuk beribadah dan memberikan manfaat.
Utami pun mengajak pendengar untuk senantiasa meluruskan niat, bersungguh-sungguh dalam berusaha, menjaga ibadah, serta membangun hubungan baik dengan sesama.
Pada akhirnya, dunia adalah tempat menanam amal kebaikan, sedangkan akhirat merupakan tempat mempertanggungjawabkan segala perbuatan.
Artikel ini telah disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman pada frekuensi 96,3 FM oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Maftuhatirrohmah dan Utami Fian Nurhanifa, dalam program Lentera Hati, pada Rabu (21/10/2026) lalu.
Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)

