Menikah Itu Ibadah
Oleh: Munas Afifi dan Ahmad Afandi
Editor: Imam Edi Siswanto
PURBALINGGA – Pernikahan sering dibayangkan sebagai awal kehidupan yang penuh kebahagiaan. Ada pasangan, ada teman berbagi, dan ada harapan membangun keluarga yang sakinah. Namun, setelah akad selesai, kehidupan rumah tangga justru memasuki perjalanan baru yang membutuhkan ilmu, kesabaran, komunikasi, dan tanggung jawab.
BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search?q=siaran+radio
Demikian, tema obrolan Munas Afifi dan Ahmad Afandi, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, dalam program Lentera Hati “Sejukkan Hati – Cerahkan Hari” yang disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman 96,3 FM.
Keduanya merupakan Penyuluh Agama Islam KUA Pengadegan yang berbincang santai mengenai kehidupan pernikahan dan berbagai tantangan dalam membangun rumah tangga.
Munas: “Pak Afandi, banyak orang mengatakan bahwa menikah itu ibadah. Sebenarnya apa makna menikah sebagai ibadah?”
Afandi: “Menikah bukan sekadar menyatukan dua orang yang saling mencintai. Pernikahan adalah amanah dan tanggung jawab. Ada hak dan kewajiban yang harus dijalankan. Karena itu, yang perlu dipersiapkan bukan hanya menjadi pengantin sehari, tetapi menjadi pasangan hidup setelah acara pernikahan selesai.”
Munas kemudian mengingatkan bahwa persiapan pernikahan jangan sampai hanya berfokus pada gedung, katering, pakaian pengantin, dan undangan, sementara persiapan menjadi suami atau istri justru terabaikan.
Munas: “Kalau ada yang mengatakan, ‘Yang penting cinta, nanti masalah pasti bisa diselesaikan’, apakah cinta saja cukup?”
Afandi: “Cinta itu penting, tetapi cinta saja tidak cukup. Rumah tangga membutuhkan komunikasi, kesabaran, tanggung jawab, kemampuan mengelola emosi, dan nilai-nilai agama. Ada saatnya perasaan sedang tidak baik-baik saja. Di situlah komitmen bekerja.”
Menurut Afandi, perbedaan pendapat dalam rumah tangga merupakan hal yang manusiawi. Persoalannya bukan bagaimana menghindari seluruh masalah, melainkan bagaimana pasangan menyelesaikannya dengan cara yang baik.
Berbagai ujian rumah tangga dapat muncul dari komunikasi, ekonomi, pengasuhan anak, campur tangan keluarga besar, kecemburuan, hingga penggunaan media sosial. Bahkan, penggunaan gawai yang berlebihan dapat membuat pasangan merasa tidak diperhatikan. Kebiasaan membandingkan kehidupan rumah tangga dengan kehidupan orang lain di media sosial juga dapat memunculkan kekecewaan.
Munas: “Padahal yang kita lihat di media sosial biasanya hanya bagian yang bagus-bagusnya saja.”
Afandi: “Betul. Kita melihat foto bahagianya, tetapi tidak selalu mengetahui perjuangan di balik foto tersebut.”
Dalam persoalan ekonomi, pasangan juga perlu terbuka mengenai kondisi keuangan, menentukan prioritas, dan membiasakan musyawarah. Masalah keuangan jangan sampai berkembang menjadi masalah kepercayaan.
Lalu, bagaimana membangun keluarga sakinah?
Afandi menjelaskan bahwa keluarga sakinah bukan berarti rumah tangga yang tidak pernah menghadapi masalah. Keluarga sakinah adalah keluarga yang berusaha menyelesaikan persoalan dengan cara yang baik.
Karena itu, pasangan perlu membangun komunikasi terbuka, saling menghargai, belajar meminta maaf dan memaafkan, menjaga ibadah bersama, serta tidak ragu mencari bantuan atau berkonsultasi kepada pihak yang tepat ketika persoalan menjadi berat.
Menjelang akhir dialog, Munas meminta pesan bagi pasangan muda dan mereka yang sedang mempersiapkan pernikahan.
Afandi: “Jangan hanya mencari pasangan yang baik, tetapi persiapkan juga diri untuk menjadi pasangan yang baik. Pernikahan bukan tentang mencari orang yang sempurna. Pernikahan adalah perjalanan dua orang untuk belajar, bertumbuh, saling menguatkan, dan bersama-sama mencari keberkahan.”
Ia juga mengajak pasangan agar tidak selalu bertanya, “Siapa yang salah?” ketika menghadapi persoalan. Sebaliknya, pasangan perlu belajar bertanya, “Apa yang bisa kita lakukan agar keadaan menjadi lebih baik?”
Munas menutup dialog dengan sebuah kesimpulan sederhana: menikah memang ibadah, tetapi ibadah dalam rumah tangga membutuhkan ilmu, kesabaran, tanggung jawab, komunikasi, dan perjuangan.
Melalui program Lentera Hati, Munas Afifi dan Ahmad Afandi mengajak masyarakat untuk memandang pernikahan bukan sekadar sebagai peristiwa sakral sehari, melainkan perjalanan panjang untuk saling memahami, saling menguatkan, dan bersama-sama membangun keluarga yang penuh ketenangan serta keberkahan.
Sebab rumah tangga yang baik bukanlah rumah tangga yang bebas dari ujian, melainkan rumah tangga yang memilih untuk menghadapi ujian bersama, dengan doa, ikhtiar, komunikasi, dan komitmen.
Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)

