Sabtu, 28 Februari 2026

Ramadan 2026 di Luar Negeri Tetap Membara Meski Tantangan Waktu dan Cuaca Berbeda

Ilustrasi Ramadhan pada musim dingin

Ramadan 2026 di Luar Negeri Tetap Membara Meski Tantangan Waktu dan Cuaca Berbeda
Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Ramadan 1447 H/2026 M telah dimulai di banyak negara di seluruh dunia, termasuk negara-negara dengan komunitas Muslim minoritas seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Swedia dan lainnya.

Penetapan awal puasa secara luas dilaksanakan pada pertengahan Februari hingga awal Maret 2026, dengan tradisi salat tarawih berjemaah tetap ramai diselenggarakan di masjid-masjid setempat meski umat Muslim jauh dari kampung halaman. 

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/RAMADHAN%202026

Fenomena unik Ramadan tahun ini adalah bagaimana komunitas Muslim di negara luar khatulistiwa menunjukkan keteguhan menjalankan ibadah puasa dan tarawih berjemaah.

Di negara-negara Eropa utara seperti Swedia, durasi puasa pada hari pertama tercatat sekitar 11 jam 52 menit, lebih singkat dibandingkan di Indonesia, karena posisi lintang utara dan waktu siang yang masih relatif pendek pada akhir musim dingin.

Sementara di negara seperti Korea Selatan, durasi puasa Ramadan 2026 diprediksi berkisar menurut variasi sekitar 12,5 hingga 13,5 jam karena pergeseran musim dari akhir musim dingin menuju awal musim semi.

Semangat beribadah di tengah perubahan iklim ini kerap dijalankan di masjid seperti Seoul Central Mosque, yang menjadi pusat aktivitas keagamaan umat Muslim di negeri tersebut.

Kondisi cuaca pada Februari–Maret di negara-negara ini umumnya masih dingin hingga sejuk karena transisi musim; namun suasana inilah yang justru memperkuat kekhusyukan ibadah.

Bagi Muslim di Swedia yang menghadapi angin dingin dan waktu siang yang masih singkat, ataupun bagi Muslim di Asia Timur yang menghadapi perubahan suhu dari dingin ke hangat, Ramadan menjadi momentum refleksi spiritual dan kebersamaan yang terjalin erat antar diaspora.

Semangat kaum Muslim di luar negeri untuk tetap melaksanakan ibadah puasa dan tarawih berjemaah ini memberi inspirasi penting bagi umat di Indonesia bahwa ibadah tidak terhalang oleh jarak, cuaca, atau kondisi geografis.

Ramadan tetap menjadi waktu untuk memperteguh iman, mempererat ukhuwah, dan berbagi makna kebaikan dengan sesama, menjadikan bulan suci ini sebagai momentum penanaman karakter serta rasa syukur yang mendalam.(*)

Sumber:
1. https://kumparan.com/berita-hari-ini/10-negara-dengan-durasi-puasa-tercepat-di-dunia-tahun-2026-26tIatSEz6U/3?utm_source=chatgpt.com
2. https://www.liputan6.com/islami/read/6284089/puasa-di-korea-berapa-jam-prediksi-durasi-dan-jadwal-ramadan-2026-di-seoul?utm_source=chatgpt.com

Semangat Puasa dan Tarawih 2026: Ibadah Kukuh Meski Cuaca Musim Hujan

Ilustrasi: Suasana jelang sholat tarawih di musim hujan

Semangat Puasa dan Tarawih 2026: Ibadah Kukuh Meski Cuaca Musim Hujan
Oleh Imam Edi Siswanto

Menjelang dan sepanjang awal bulan suci Ramadhan 1447 H, umat Islam di Indonesia menunjukkan semangat yang tinggi dalam menjalankan ibadah puasa dan shalat tarawih berjemaah.

Berdasarkan penetapan pemerintah melalui sidang isbat, awal puasa Ramadhan tahun ini jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026 1447 H, dan umat Islam dianjurkan melaksanakan salat tarawih sebagai bagian penting dari amalan Ramadhan setiap malamnya. 

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/RAMADHAN%202026

Data dari BMKG menunjukan bahwa fenomena cuaca pada periode Februari hingga awal Maret di Indonesia masih dipengaruhi musim hujan, dengan potensi hujan ringan hingga lebat di banyak wilayah, termasuk Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Papua.

Meskipun demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi antusiasme kaum Muslim untuk tetap beribadah secara berjemaah di masjid ataupun mushala. 

Bahkan, intensitas hujan yang sering turun justru dipandang sebagai karunia langit yang menyegarkan suasana spiritual Ramadhan, mengingat Ramadan kali ini bersamaan dengan waktu musim hujan.

Selain hujan, suhu di Indonesia pada bulan ini masih relatif hangat dengan kisaran rata-rata antara 23°C – 28°C, khas iklim tropis, dan terdapat periode penurunan curah hujan seiring mendekati musim kemarau yang diperkirakan akan berlangsung mulai April–Mei.

Bagi umat Islam, cuaca musim hujan menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas ibadah dengan suasana yang tenang dan reflektif, sekaligus memperkuat rasa empati dan kepedulian terhadap sesama yang mungkin menghadapi tantangan cuaca ekstrem. 

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/IMAM%20EDI%20SISWANTO

Semangat berjemaah dalam tarawih dan puasa di tengah cuaca yang tidak selalu cerah menjadi inspirasi tersendiri. 

Kisah-kisah jamaah yang tetap datang ke masjid meski diguyur hujan menggambarkan tekad untuk memanfaatkan bulan penuh rahmat, berkah, dan ampunan sebaik mungkin.

Kondisi cuaca yang dinamis ini sekaligus mengingatkan bahwa keteguhan dalam beribadah lebih ditentukan oleh niat dan disiplin hati, bukan oleh kondisi fisik atau tantangan alam semata.

Sumber:
https://www.bmkg.go.id/cuaca/prospek-cuaca-mingguan/prospek-cuaca-mingguan-periode-20-26-februari-2026-waspada-potensi-hujan-lebat-di-awal-bulan-ramadhan-2026-monsun-asia-dan-gelombang-ekuator-masih-mempengaruhi?utm_source=chatgpt.com

Ramadan 2026 di Luar Negeri Tetap Membara Meski Tantangan Waktu dan Cuaca Berbeda

Ilustrasi Ramadhan pada musim dingin Ramadan 2026 di Luar Negeri Tetap Membara Meski Tantangan Waktu dan Cuaca Berbeda Pewarta: Imam Edi Sis...