Rabu, 07 Oktober 2026

Munas Afifi dan Ahmad Afandi: Apa Makna Menikah Sebagai Ibadah?

Munas Afifi (Kiri) dan Ahmad Afandi, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, dalam program Lentera Hati “Sejukkan Hati – Cerahkan Hari” yang disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman 96,3 FM pada pekan lalu. (Foto: Afandi)

Menikah Itu Ibadah
Oleh: Munas Afifi dan Ahmad Afandi
Editor: Imam Edi Siswanto


PURBALINGGA – Pernikahan sering dibayangkan sebagai awal kehidupan yang penuh kebahagiaan. Ada pasangan, ada teman berbagi, dan ada harapan membangun keluarga yang sakinah. Namun, setelah akad selesai, kehidupan rumah tangga justru memasuki perjalanan baru yang membutuhkan ilmu, kesabaran, komunikasi, dan tanggung jawab.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search?q=siaran+radio

Demikian, tema obrolan Munas Afifi dan Ahmad Afandi, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, dalam program Lentera Hati “Sejukkan Hati – Cerahkan Hari” yang disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman 96,3 FM. 

Keduanya merupakan Penyuluh Agama Islam KUA Pengadegan yang berbincang santai mengenai kehidupan pernikahan dan berbagai tantangan dalam membangun rumah tangga.

Munas: “Pak Afandi, banyak orang mengatakan bahwa menikah itu ibadah. Sebenarnya apa makna menikah sebagai ibadah?”

Afandi: “Menikah bukan sekadar menyatukan dua orang yang saling mencintai. Pernikahan adalah amanah dan tanggung jawab. Ada hak dan kewajiban yang harus dijalankan. Karena itu, yang perlu dipersiapkan bukan hanya menjadi pengantin sehari, tetapi menjadi pasangan hidup setelah acara pernikahan selesai.”

Munas kemudian mengingatkan bahwa persiapan pernikahan jangan sampai hanya berfokus pada gedung, katering, pakaian pengantin, dan undangan, sementara persiapan menjadi suami atau istri justru terabaikan.

Munas: “Kalau ada yang mengatakan, ‘Yang penting cinta, nanti masalah pasti bisa diselesaikan’, apakah cinta saja cukup?”

Afandi: “Cinta itu penting, tetapi cinta saja tidak cukup. Rumah tangga membutuhkan komunikasi, kesabaran, tanggung jawab, kemampuan mengelola emosi, dan nilai-nilai agama. Ada saatnya perasaan sedang tidak baik-baik saja. Di situlah komitmen bekerja.”

Menurut Afandi, perbedaan pendapat dalam rumah tangga merupakan hal yang manusiawi. Persoalannya bukan bagaimana menghindari seluruh masalah, melainkan bagaimana pasangan menyelesaikannya dengan cara yang baik.

Berbagai ujian rumah tangga dapat muncul dari komunikasi, ekonomi, pengasuhan anak, campur tangan keluarga besar, kecemburuan, hingga penggunaan media sosial. Bahkan, penggunaan gawai yang berlebihan dapat membuat pasangan merasa tidak diperhatikan. Kebiasaan membandingkan kehidupan rumah tangga dengan kehidupan orang lain di media sosial juga dapat memunculkan kekecewaan.

Munas: “Padahal yang kita lihat di media sosial biasanya hanya bagian yang bagus-bagusnya saja.”

Afandi: “Betul. Kita melihat foto bahagianya, tetapi tidak selalu mengetahui perjuangan di balik foto tersebut.”

Dalam persoalan ekonomi, pasangan juga perlu terbuka mengenai kondisi keuangan, menentukan prioritas, dan membiasakan musyawarah. Masalah keuangan jangan sampai berkembang menjadi masalah kepercayaan.

Lalu, bagaimana membangun keluarga sakinah?

Afandi menjelaskan bahwa keluarga sakinah bukan berarti rumah tangga yang tidak pernah menghadapi masalah. Keluarga sakinah adalah keluarga yang berusaha menyelesaikan persoalan dengan cara yang baik. 

Karena itu, pasangan perlu membangun komunikasi terbuka, saling menghargai, belajar meminta maaf dan memaafkan, menjaga ibadah bersama, serta tidak ragu mencari bantuan atau berkonsultasi kepada pihak yang tepat ketika persoalan menjadi berat.

Menjelang akhir dialog, Munas meminta pesan bagi pasangan muda dan mereka yang sedang mempersiapkan pernikahan.

Afandi: “Jangan hanya mencari pasangan yang baik, tetapi persiapkan juga diri untuk menjadi pasangan yang baik. Pernikahan bukan tentang mencari orang yang sempurna. Pernikahan adalah perjalanan dua orang untuk belajar, bertumbuh, saling menguatkan, dan bersama-sama mencari keberkahan.”

Ia juga mengajak pasangan agar tidak selalu bertanya, “Siapa yang salah?” ketika menghadapi persoalan. Sebaliknya, pasangan perlu belajar bertanya, “Apa yang bisa kita lakukan agar keadaan menjadi lebih baik?”

Munas menutup dialog dengan sebuah kesimpulan sederhana: menikah memang ibadah, tetapi ibadah dalam rumah tangga membutuhkan ilmu, kesabaran, tanggung jawab, komunikasi, dan perjuangan.

Melalui program Lentera Hati, Munas Afifi dan Ahmad Afandi mengajak masyarakat untuk memandang pernikahan bukan sekadar sebagai peristiwa sakral sehari, melainkan perjalanan panjang untuk saling memahami, saling menguatkan, dan bersama-sama membangun keluarga yang penuh ketenangan serta keberkahan.

Sebab rumah tangga yang baik bukanlah rumah tangga yang bebas dari ujian, melainkan rumah tangga yang memilih untuk menghadapi ujian bersama, dengan doa, ikhtiar, komunikasi, dan komitmen.

Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)   

Selasa, 06 Oktober 2026

Ngato Urokhman: Fadhilah Istighfar, Jalan Kembali kepada Allah

Ngato Urokhman, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, dalam program Lentera Hati yang disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman 96,3 FM beberapa waktu lalu. (Foto: Ngato Urokhman)

Fadhilah Istighfar: Jalan Kembali kepada Allah
Oleh: Ngato Urokhman
Editor: Imam Edi Siswanto


PURBALINGGA – Istighfar sering kali dipahami sebatas ucapan “Astaghfirullah”. Padahal, istighfar memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia merupakan pengakuan atas kesalahan, permohonan ampun kepada Allah SWT, sekaligus tekad untuk kembali memperbaiki diri.

Demikian disampikan oleh Ngato Urokhman, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, dalam program Lentera Hati yang disiarkan melalui LPPL Radio Gema Soedirman 96,3 FM. Melalui tema “Fadhilah Istighfar”, ia mengajak masyarakat menjadikan istighfar sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya ketika menghadapi persoalan. Berikut rangkuman dari materi tersebut.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search?q=siaran+radio

Dalam materi tersebut dijelaskan sebuah hadis yang populer tentang keutamaan memperbanyak istighfar. Maknanya, orang yang memperbanyak istighfar akan mendapatkan kelapangan dari kegelisahan, jalan keluar dari kesempitan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Namun, istighfar tidak berarti sekadar memperbanyak ucapan tanpa perubahan perilaku. Istighfar yang benar semestinya diikuti penyesalan, meninggalkan dosa, dan usaha memperbaiki diri. Karena itu, memperbanyak istighfar bukan alasan untuk tetap mempertahankan maksiat atau meninggalkan ikhtiar.

Istighfar dan Jalan Keluar Kehidupan
Al-Qur’an memberikan gambaran kuat mengenai hubungan istighfar dengan berbagai bentuk kebaikan. Dalam QS. Nuh ayat 10–12, Nabi Nuh AS menyeru kaumnya untuk memohon ampun kepada Allah. Ayat tersebut kemudian menyebut berbagai bentuk karunia, seperti turunnya hujan, bertambahnya harta dan keturunan, serta hadirnya kebun dan sungai.

Pesan serupa terdapat dalam QS. Hud ayat 3 dan 52 yang mengaitkan istighfar dan taubat dengan kenikmatan hidup, kekuatan, serta turunnya rahmat Allah.

Sementara itu, QS. At-Talaq ayat 2–3 mengajarkan bahwa ketakwaan menjadi sebab Allah memberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Karena itu, rezeki tidak selalu berbentuk uang. Pekerjaan, kesehatan, keluarga yang harmonis, pertolongan orang lain, ketenangan hati, hingga terbukanya persoalan yang semula buntu juga merupakan bentuk rezeki Allah.

Istighfar Tidak Menggantikan Ikhtiar
Istighfar juga tidak boleh dipahami sebagai pengganti usaha. Seseorang yang memiliki utang tetap harus bekerja, mengatur keuangan, dan berusaha membayarnya. Orang yang mencari pekerjaan tetap perlu membuat lamaran, mengikuti seleksi, dan memperluas ikhtiar. Begitu pula persoalan rumah tangga perlu dihadapi dengan doa, introspeksi, komunikasi, nasihat, dan perbaikan sikap.

Dengan demikian, istighfar berjalan bersama ikhtiar. Seorang Muslim berdoa kepada Allah sekaligus melakukan usaha terbaik, kemudian menyerahkan hasilnya kepada-Nya.

Istighfar juga memiliki pengaruh penting terhadap pembentukan mental seorang mukmin. Kebiasaan memohon ampun melatih seseorang untuk rendah hati, berani mengakui kesalahan, tidak mudah menyalahkan orang lain, dan tetap optimistis terhadap rahmat Allah.

Allah SWT berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 53 agar manusia tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Ayat ini mengajarkan bahwa kesalahan tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan harapan. Selama masih hidup, kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri tetap terbuka.
Jangan Menunggu Masalah untuk Beristighfar

Pada akhirnya, istighfar bukan hanya amalan ketika seseorang sedang menghadapi kesulitan. Istighfar merupakan bentuk kedekatan seorang hamba kepada Allah yang perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, pesan utama materi ini adalah: istighfar, taubat, doa, ikhtiar, dan tawakal merupakan satu rangkaian dalam menghadapi persoalan kehidupan. Ketika hati dekat dengan Allah, masalah mungkin tidak selalu langsung hilang, tetapi seorang mukmin mendapatkan kekuatan untuk menghadapinya.

Jangan menunggu memiliki masalah untuk beristighfar. Beristighfarlah ketika menghadapi kesulitan maupun ketika memperoleh kemudahan. Sebab, istighfar bukan sekadar memohon penghapusan dosa, tetapi juga jalan untuk membersihkan hati, memperbaiki diri, menjaga kedekatan dengan Allah, serta menjemput keberkahan hidup.

Semakin banyak istighfar, semestinya semakin baik pula perilaku dan kualitas kehidupan seorang Muslim.

Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)   

Munas Afifi dan Ahmad Afandi: Apa Makna Menikah Sebagai Ibadah?

Munas Afifi (Kiri) dan Ahmad Afandi, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, dalam program Lentera Hati “Sejukka...