Rabu, 30 September 2026

Ngamali dan Eva Lutfiati Khasanah: Jodoh Bukan Sekedar di Tunggu

PAI Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Ngamali dan Eva Lutfiati Khasanah, saat menyampaikan materi tentang ikhtiar mendapatkan jodoh dalam program Lentera Hati melalui siaran radio LPPL Gema Soedirman 96,3 FM.(Foto: Ngamali)

Jodoh Bukan Sekedar di Tunggu
Oleh: Ngamali dan Eva Lutfiati Khasanah
Editor: Imam Edi Siswanto


Beberapa hari yang lalu, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Ngamali dan Eva Lutfiati Khasanah, menyampaikan materi tentang ikhtiar mendapatkan jodoh dalam program Lentera Hati melalui siaran radio LPPL Gema Soedirman 96,3 FM. 

Menurutnya, masyarakat memahami bahwa persoalan jodoh tidak cukup hanya diserahkan kepada takdir, tetapi perlu diiringi usaha, doa, proses memilih dengan bijak, dan tawakal kepada Allah SWT. Berikut isi rangkuman materinya.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search?q=siaran+radio

Memantaskan Diri Sebelum Mencari Jodoh
Al-Qur’an memberikan gambaran tentang pentingnya kualitas diri dalam memilih pasangan. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nur ayat 26 bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik. 

Ayat ini dapat menjadi motivasi agar seseorang tidak hanya berharap mendapatkan pasangan yang saleh atau salehah, tetapi juga berusaha memperbaiki kualitas dirinya.

Ikhtiar dimulai dari memperbaiki iman, ibadah, akhlak, ilmu, kedewasaan, kesehatan, serta kesiapan finansial. Dengan demikian, proses mencari jodoh bukan sekadar mencari seseorang yang sesuai dengan keinginan, tetapi juga mempersiapkan diri agar mampu menjadi pasangan yang baik.

Allah SWT juga berfirman dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11 bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Pesan ini mengajarkan pentingnya usaha dan perubahan diri sebelum mengharapkan perubahan keadaan. 

Jodoh Dicari dengan Cara yang Halal
Allah SWT menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan (QS. Az-Zariyat: 49) dan menjadikan pasangan sebagai sarana memperoleh ketenteraman, kasih sayang, dan rahmat (QS. Ar-Rum: 21). Namun, keyakinan terhadap takdir tidak berarti seseorang hanya menunggu tanpa melakukan usaha.

Rasulullah SAW mengajarkan prinsip penting dalam ikhtiar melalui sabdanya, “Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.” (HR. Tirmidzi). Pesannya jelas: lakukan usaha terlebih dahulu, kemudian serahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Dalam mencari pasangan, Islam juga mengajarkan proses memilih dan menyeleksi. Rasulullah SAW bersabda bahwa perempuan dinikahi karena beberapa pertimbangan, termasuk harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya, lalu beliau menganjurkan memilih karena agama (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW menganjurkan agar seseorang yang agama dan akhlaknya diridai dapat dipertimbangkan untuk dinikahkan (HR. Tirmidzi).

Karena itu, jangan menjadikan rasa suka sebagai satu-satunya dasar. Perhatikan pula agama, akhlak, tanggung jawab, keluarga, visi kehidupan, dan kesiapan membangun rumah tangga.
Tiga Bentuk Ikhtiar Menuju Jodoh

Ikhtiar mendapatkan jodoh dapat dilakukan melalui tiga langkah yang saling melengkapi.
Pertama, ikhtiar langit berupa doa. Perbanyak doa, istighfar, ibadah malam, shalat hajat, dan memohon petunjuk Allah melalui istikharah. 

Salah satu doa yang dapat diamalkan adalah QS. Al-Furqan ayat 74: “Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun…”  memohon agar Allah menganugerahkan pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati.

Kedua, ikhtiar bumi berupa usaha nyata. Perbaiki kualitas diri, perluas jaringan silaturahmi dalam lingkungan yang baik, mintalah bantuan orang tua, keluarga, ustaz, guru, atau sahabat terpercaya untuk membantu menemukan calon yang sesuai. Proses ta’aruf dan musyawarah dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk mengenal calon pasangan secara terarah dan tetap menjaga batasan syariat.

Ketiga, tawakal. Setelah usaha dilakukan dengan sungguh-sungguh, hasilnya diserahkan kepada Allah SWT. Ketika sebuah proses tidak berlanjut atau seseorang belum menjadi pasangan kita, jangan buru-buru menganggapnya sebagai kegagalan. Bisa jadi Allah sedang mengarahkan kita kepada sesuatu yang lebih sesuai dengan kehendak dan hikmah-Nya.

Jodoh: Ikhtiar dengan Hati, Berserah dengan Iman
Jodoh bukan sekadar persoalan menunggu siapa yang datang, tetapi tentang bagaimana seseorang mempersiapkan diri, membuka jalan yang halal, memilih dengan pertimbangan yang matang, berdoa dengan sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Dengan demikian, prinsip yang perlu dipegang adalah: “Perbaiki diri, perluas ikhtiar, pilih dengan bijak, perbanyak doa, lalu bertawakal.” Sebab tugas manusia adalah berusaha sebaik mungkin, sedangkan hasil akhir merupakan ketetapan Allah SWT(*)

Sisa Rahayu: Bijak Bermedia Digital, Jaga Hati dan Akhlak

PAI Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Sisa Rahayu saat menyampaikan materi edukasi tentang “Bijak Bermedia Digital: Menjaga Hati, Keluarga, dan Akhlak di Era Informasi” dalam siaran radio LPPL Gema Soedirman 96,3 FM, Rabu (23/9/2026) lalu. (Foto: Sisa R)

Bijak Bermedia Digital, Jaga Hati dan Akhlak
Oleh: Sisa Rahayu
Editor: Imam Edi Siswanto

Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Sisa Rahayu, menyampaikan materi bertema “Bijak Bermedia Digital: Menjaga Hati, Keluarga, dan Akhlak di Era Informasi” melalui siaran radio LPPL Gema Soedirman 96,3 FM, dalam program Lentera Hati “Sejukkan Hati Cerahkan Hari”. 

Materi tersebut mengajak masyarakat untuk menggunakan teknologi dan media sosial secara cerdas, santun, serta bertanggung jawab sesuai nilai-nilai Islam.

Di era digital, telepon genggam dan media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Teknologi dapat menjadi sarana belajar, berdagang, berkomunikasi, berdakwah, dan menyebarkan kebaikan. Namun, jika tidak digunakan dengan bijaksana, teknologi juga dapat menjadi pintu munculnya berbagai persoalan. 

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search?q=siaran+radio

https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/KARANGMONCOL%202

https://iparipurbalingga.blogspot.com/search?q=Sisa+Rahayu 

Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya “bolehkah menggunakan media sosial?”, tetapi juga untuk apa media sosial digunakan dan apakah aktivitas digital kita menjadi pahala atau justru membawa pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

MEDIA SOSIAL SEBAGAI RUANG MUAMALAH
Interaksi melalui WhatsApp, Facebook, berbagai platform digital, maupun transaksi internet merupakan bagian dari kehidupan sosial manusia. Karena itu, akhlak Islam juga harus hadir di ruang digital.

Jika berbohong, memfitnah, dan merendahkan kehormatan orang lain dilarang dalam kehidupan nyata, maka hal yang sama berlaku di dunia maya. Pedoman bermuamalah melalui media sosial juga menekankan pentingnya iman, ketakwaan, kebenaran, ukhuwah, serta amar ma'ruf nahi munkar.

TABAYYUN SEBELUM MEMBAGIKAN INFORMASI
Banjir informasi membuat masyarakat perlu semakin berhati-hati. Islam mengajarkan tabayyun, yaitu memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya. QS. Al-Hujurat ayat 6 mengingatkan agar berita yang diterima diteliti terlebih dahulu.

Sebelum menekan tombol share, tanyakan: Siapa sumbernya? Apakah dapat dipercaya? Apakah informasinya lengkap? Apakah ada sumber resmi yang menguatkan? Apakah bermanfaat? Dan apakah ada pihak yang mungkin dirugikan? Kebiasaan sederhana ini merupakan bentuk tabayyun di era digital.

JANGAN BIARKAN “JEMPOL” MENJADI SUMBER DOSA
Di era media sosial, jempol dapat menjadi perantara kebaikan, tetapi juga dapat menjadi sumber masalah. Fitnah, ghibah, namimah, ujaran kebencian, bullying, dan konten yang merusak kehormatan orang lain dapat tersebar dengan cepat. 

Karena itu, sebelum menulis komentar, tanyakan kepada diri sendiri: “Jika kalimat ini saya sampaikan langsung di hadapan orangnya, apakah saya berani mengatakannya dengan sopan?”

Tidak semua informasi yang benar harus disebarkan. Ada persoalan pribadi dan aib seseorang yang mungkin benar terjadi, tetapi tidak pantas diumumkan kepada publik. Di sinilah pentingnya membedakan bukan hanya antara benar dan salah, tetapi juga antara pantas dan tidak pantas. Itulah bagian dari akhlak.

JAGA KEHANGATAN KELUARGA DI ERA GADGET
Teknologi jangan sampai membuat anggota keluarga yang secara fisik dekat justru jauh secara emosional. Orang tua perlu hadir, mendengarkan cerita anak, memberikan perhatian, dan menjadi teladan dalam penggunaan teknologi. Pendidikan digital sebenarnya dimulai dari rumah: anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari perilaku orang tuanya.

Media sosial juga dapat menjadi ladang pahala ketika digunakan untuk menyebarkan ilmu, mengingatkan salat, mengajak bersedekah, memperkuat silaturahmi, mempromosikan usaha halal, dan menyebarkan informasi yang bermanfaat. Namun, dakwah tetap harus disertai ilmu dan akhlak; jangan sampai demi mendapatkan perhatian, kita menyebarkan informasi yang tidak jelas atau membuka aib orang lain.

TIGA PERTANYAAN SEBELUM MENEKAN “KIRIM”
Sebagai pedoman sederhana, biasakan tiga pertanyaan sebelum mengirim pesan, komentar, foto, video, atau berita:
1. Apakah ini benar?
2. Apakah ini baik dan bermanfaat?
3. Apakah ini perlu saya sebarkan?

Jika ketiganya dipertimbangkan, insya Allah media sosial dapat menjadi ruang yang lebih sehat.

Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat; manusialah yang menentukan bagaimana alat tersebut digunakan. Mari menjadi umat yang cerdas secara digital, bijak menerima informasi, santun dalam berkomunikasi, dan kuat menjaga akhlak. 

Sebelum membagikan informasi, lakukan tabayyun. Sebelum menulis komentar, pikirkan dampaknya. Sebelum membalas dengan emosi, diam sejenak. Jadikan jempol sebagai jalan menuju kebaikan, bukan sebab orang lain terluka.

Siaran radio dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)

Ngamali dan Eva Lutfiati Khasanah: Jodoh Bukan Sekedar di Tunggu

PAI Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Ngamali dan Eva Lutfiati Khasanah, saat menyampaikan materi tentang ikhtiar mendapatkan jodoh d...