Jumat, 25 September 2026

Tohar: Sukses Mendidik Anak di Era Digital

PAI Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Tohar, saat menyampaikan materi tentang Sukses Mendidik Anak di Era Digital melalui siaran radio LPPL Gema Soedirman 96,3 FM, Kamis (24/9/2026) (Foto: Tohar)

Sukses Mendidik Anak di Era Digital
Oleh: Tohar
Editor: Imam Edi Siswanto


Kembali Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga yang bertugas di KUA Bojongsari, Tohar, SE, menyampaikan materi tentang “Sukses Mendidik Anak di Era Digital” melalui siaran radio LPPL Gema Soedirman 96,3 FM, Kamis (24/9/2026).

Ia mengajak para orang tua memahami bahwa keberhasilan mendidik anak bukan semata-mata diukur dari prestasi akademik, jabatan, maupun kekayaan, tetapi dari tumbuhnya anak menjadi pribadi yang bertauhid, berakhlak mulia, bermanfaat bagi sesama, serta menjadi jalan menuju rida Allah SWT.
Anak adalah Amanah dan Investasi Akhirat.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search?q=siaran+radio

Dalam Islam, anak merupakan amanah sekaligus ujian bagi orang tua. Al-Qur’an menyebut anak sebagai perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal saleh memiliki nilai yang lebih utama di sisi Allah SWT. Karena itu, orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter dan kepribadian anak.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 6, yang memerintahkan orang beriman untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Rumah menjadi lingkungan pendidikan pertama, sehingga ayah dan ibu tidak dapat sepenuhnya menyerahkan pendidikan anak kepada sekolah maupun lembaga pendidikan lainnya.

Keberhasilan pendidikan anak membutuhkan sinergi tiga pilar, yaitu keluarga sebagai fondasi utama, sekolah sebagai tempat pengembangan ilmu dan karakter, serta masyarakat sebagai lingkungan pergaulan dan kontrol sosial.

Meneladani Pendidikan Luqman Al-Hakim

Al-Qur’an memberikan teladan pendidikan melalui nasihat Luqman Al-Hakim kepada putranya. Pendidikan dimulai dari tauhid, yaitu mengenalkan anak kepada Allah SWT dan menanamkan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatannya (muraqabatullah).

Selanjutnya, anak dibimbing untuk mendirikan shalat, mencintai kebaikan, menjauhi kemungkaran, serta memiliki kesabaran sebagaimana pesan Luqman dalam QS. Luqman ayat 17. Pendidikan juga harus membentuk akhlak dan adab, termasuk menjauhi kesombongan dan membangun sikap rendah hati sebagaimana pesan dalam QS. Luqman ayat 18.

Keteladanan Lebih Kuat daripada Nasihat
Orang tua adalah contoh pertama bagi anak. Anak lebih mudah meniru apa yang dilihat daripada sekadar mendengar nasihat. Karena itu, pendidikan harus dilakukan dengan keteladanan, kasih sayang, disiplin, tanggung jawab, keseimbangan ilmu agama dan ilmu umum, serta memperhatikan kehalalan makanan dan sumber rezeki keluarga.

Pola pendidikan juga perlu disesuaikan dengan perkembangan usia. Pada masa kanak-kanak, orang tua memberikan kasih sayang dan membangun rasa aman. Memasuki usia sekolah, anak mulai dibiasakan dengan disiplin dan tanggung jawab.

Sementara pada masa remaja, orang tua perlu membangun hubungan yang lebih dekat sebagai sahabat, menjadi pendengar yang baik, sekaligus tetap memberikan arahan dan batasan yang sehat.

Tantangan Gadget dan Dunia Digital
Era digital menghadirkan tantangan baru. Anak tidak mungkin sepenuhnya dijauhkan dari teknologi, karena teknologi juga menjadi bagian dari kehidupan dan pendidikan. Yang diperlukan adalah membekali mereka dengan “iman filter”, yaitu kemampuan menyaring informasi berdasarkan nilai agama dan kesadaran bahwa setiap aktivitas tetap berada dalam pengawasan Allah SWT.

Orang tua perlu mendampingi anak dalam menggunakan gadget, membangun komunikasi terbuka, memberikan batasan yang jelas, dan menjadi teladan dalam penggunaan teknologi. Dengan demikian, internet dan media digital tidak menjadi ancaman, tetapi dapat diarahkan menjadi sarana belajar, berkarya, bersilaturahmi, dan melakukan kebaikan.

Jangan Lupa Kekuatan Doa
Selain ikhtiar pendidikan, doa orang tua merupakan kekuatan yang sangat penting. Di antaranya doa Nabi Ibrahim AS dalam QS. Ibrahim ayat 40:

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat.” Orang tua juga dapat memanjatkan doa dalam QS. Al-Furqan ayat 74 agar pasangan dan keturunan menjadi qurrata a’yun, penyejuk hati.

Pada akhirnya, mendidik anak adalah investasi jangka panjang sekaligus amal jariyah. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, salah satunya anak saleh yang mendoakannya (HR. Muslim).

Maka, sukses mendidik anak bukan sekadar menjadikan mereka pintar dan berhasil secara duniawi, tetapi membimbing mereka agar memiliki iman yang kokoh, ibadah yang baik, akhlak yang mulia, kepedulian kepada sesama, serta mampu menggunakan teknologi dengan bijak.

Anak yang saleh bukan hanya menjadi kebahagiaan bagi orang tua di dunia, tetapi juga menjadi investasi kebaikan yang terus mengalir hingga akhirat.

Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*) 

Azizah DP: Membangun "Surga" Di Rumah

PAI Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Azizah Dwi Purba, saat menyampaikan materi tentang komunikasi efektif dan Islami dalam keluarga melalui siaran radio LPPL Gema Soedirman 96,3 FM, Jumat (25/9/2026) (Foto: Azizah DP)

Membangun "Surga" Di Rumah
(Komunikasi Islami untuk Keluarga yang Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah)
Oleh Azizah Dwi Purba
Editor: Imam Edi Siswanto


Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Azizah Dwi Purba, menyampaikan materi tentang komunikasi efektif dan Islami dalam keluarga melalui siaran radio LPPL Gema Soedirman 96,3 FM. 

Materi tersebut mengajak keluarga untuk menjadikan komunikasi sebagai sarana membangun keharmonisan, saling menghargai, dan menciptakan rumah sebagai tempat yang penuh ketenangan dan keberkahan.

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat sekaligus pilar penting dalam membangun peradaban. Salah satu kunci keharmonisan keluarga adalah komunikasi. Tanpa komunikasi yang baik, perbedaan antara suami, istri, dan anak dapat berkembang menjadi konflik. Sebaliknya, komunikasi yang sehat menjadi jembatan untuk saling memahami, menghargai, dan menyelesaikan persoalan bersama.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search?q=siaran+radio

https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/KALIMANAH

https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/AZIZAH%20DWI%20P 

Komunikasi adalah Ibadah dan Amanah

Dalam Islam, setiap perkataan merupakan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Karena itu, komunikasi dalam keluarga hendaknya dibangun dengan prinsip qaulan sadidan, yaitu perkataan yang benar, jujur, tepat, dan tidak menyakiti. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar (qaulan sadidan). Niscaya Allah akan memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah mendapat kemenangan yang besar." (QS. Al-Ahzab: 70-71).

Komunikasi yang baik bukan hanya tentang apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disampaikan. Karena itu, Islam mengajarkan qaulan layyinan, yakni perkataan yang lembut. Nada suara yang tenang, kata-kata yang santun, serta menghindari umpatan dan sindiran akan membuat anggota keluarga merasa aman dan dihargai.

Belajar dari Rasulullah SAW

Rasulullah SAW memberikan teladan dalam membangun komunikasi dengan keluarga. Beliau bersikap lembut, mendengarkan, memberikan perhatian, serta membangun kedekatan emosional dengan keluarganya. Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Kebaikan dalam keluarga dapat diwujudkan melalui kesediaan mendengarkan secara aktif, memberikan perhatian, dan menghadirkan senyum ketika berbicara dengan pasangan maupun anak.

Hadir untuk Anak, Bukan Sekadar Berada di Rumah

Anak membutuhkan komunikasi dua arah yang penuh kasih sayang. Orang tua tidak cukup hanya memberikan instruksi dan larangan, tetapi perlu membangun ruang dialog, memberikan apresiasi, dukungan, dan doa. Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, komunikasi yang kuat di dalam keluarga menjadi semakin penting agar anak tidak mencari tempat curhat dan teladan di lingkungan yang belum tentu baik.

Salah satu tantangan keluarga saat ini adalah penggunaan gadget. Tidak jarang anggota keluarga berada dalam satu meja, tetapi masing-masing sibuk dengan telepon genggam. Karena itu, keluarga dapat membuat “waktu tanpa gadget”, misalnya ketika makan bersama atau menjelang tidur, agar komunikasi tatap muka dan perhatian kepada keluarga tetap terjaga.

Menyelesaikan Konflik dengan Adab Islami

Perbedaan pendapat dalam keluarga adalah hal yang wajar. Yang terpenting adalah bagaimana konflik tersebut dikelola. Islam mengajarkan tabayyun, kesabaran, pengendalian emosi, dan perkataan yang baik.

Dalam menyampaikan keluhan, gunakan pesan yang mengungkapkan perasaan tanpa menyalahkan. Misalnya, daripada mengatakan “Kamu tidak peduli!”, lebih baik mengatakan, “Aku merasa sedih ketika kita berbicara tetapi perhatianmu masih tertuju pada handphone. Aku ingin kita mempunyai waktu berkualitas bersama.” Pola komunikasi seperti ini membantu mengurangi sikap defensif dan membuka ruang dialog.

Penyelesaian masalah juga perlu berorientasi pada menang-menang, berusaha memahami sebelum ingin dipahami, serta membangun sinergi. Dengan demikian, suami dan istri tidak saling mencari siapa yang kalah atau menang, tetapi bersama-sama mencari solusi terbaik bagi keluarga.

Jadikan Rumah sebagai “Baiti Jannati”

Komunikasi efektif membutuhkan kerendahan hati untuk mengakui kesalahan dan berani meminta maaf. Rumah yang menjadi “Baiti Jannati” rumahku surgaku tidak dibangun semata-mata dengan kemewahan, tetapi dengan tutur kata yang indah, nasihat yang menyejukkan, dan kesediaan untuk saling mendengarkan.

Mari jadikan komunikasi di dalam keluarga sebagai ibadah: berbicara dengan benar, berkata dengan lembut, mendengarkan dengan hati, membatasi gadget saat bersama keluarga, serta menyelesaikan konflik dengan kesabaran dan kasih sayang. Dengan komunikasi yang Islami, rumah dapat menjadi tempat tumbuhnya cinta, ketenangan, keberkahan, dan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)

Tohar: Sukses Mendidik Anak di Era Digital

PAI Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Tohar, saat menyampaikan materi tentang Sukses Mendidik Anak di Era Digital melalui siaran radi...