Purbalingga-Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Kalimanah, Mughofar, dalam kegiatan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) bagi calon pengantin di Balai Nikah KUA Kalimanah, Kamis (16/4/2026), menyampaikan pentingnya memahami konsep keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah sebagai tujuan utama dalam membangun rumah tangga.
Dalam pemaparannya, Mughofar menjelaskan bahwa keluarga sakinah adalah keluarga yang diliputi ketenangan, ketenteraman, dan rasa aman, di mana setiap anggota keluarga merasa nyaman secara lahir maupun batin.
Sementara itu, mawaddah dimaknai sebagai cinta yang tumbuh dengan penuh kehangatan dan ketulusan, yang biasanya kuat di awal pernikahan. Adapun rahmah adalah kasih sayang yang lebih dalam, penuh empati, kesabaran, dan kepedulian, yang menjadi perekat hubungan ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa ketiga konsep tersebut harus berjalan beriringan. Mawaddah menjadi energi awal dalam membangun cinta, sedangkan rahmah menjaga keutuhan hubungan dalam jangka panjang, sehingga tercipta sakinah sebagai buah dari keduanya.
BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/KALIMANAH
Dalam
penerapannya, Mughofar menjelaskan bahwa membangun keluarga sakinah
tidak cukup hanya dengan niat, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan
nyata sehari-hari. Di antaranya adalah membiasakan komunikasi yang baik
antara suami dan istri, saling menghargai dan memahami perbedaan, serta
menyelesaikan masalah dengan musyawarah dan kepala dingin.
Selain
itu, kehidupan beragama juga menjadi fondasi utama, seperti menjaga
shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an bersama, serta saling mengingatkan
dalam kebaikan. Sikap saling mendukung, berbagi peran dalam keluarga,
serta menumbuhkan rasa tanggung jawab juga menjadi kunci penting dalam
menjaga keharmonisan rumah tangga.
Mughofar juga menekankan
bahwa keluarga sakinah bukan berarti tanpa masalah, melainkan keluarga
yang mampu menghadapi masalah dengan bijak, penuh kesabaran, dan tetap
berpegang pada nilai-nilai agama. Dengan demikian, keluarga tidak hanya
harmonis di dunia, tetapi juga diharapkan menjadi jalan menuju
kebahagiaan di akhirat.(*)
Pewarta: Imam Edi Siswanto

