Jumat, 30 Oktober 2026

Maftuhatirrohmah dan Utami Fian Nurhanifa: Kunci Sukses Dunia dan Akhirat

 Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Maftuhatirrohmah (Kanan) dan Utami Fian Nurhanifa, saat siaran program Lentera Hati di LPPL Gema Soedirman pada frekuensi 96,3 FM, Kamis (21/10/2026) lalu. (Foto: Maftuhatirrohmah )
Kunci Sukses Dunia dan Akhirat
Oleh: Maftuhatirrohmah dan Utami Fian Nurhanifa (Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga)
Editor: Imam Edi Siswanto


Sukses merupakan impian setiap manusia. Namun, ukuran kesuksesan sering kali hanya dikaitkan dengan kekayaan, jabatan, popularitas, dan pencapaian duniawi. 
 
Dalam pandangan Islam, kesuksesan sejati bukan sekadar keberhasilan hidup di dunia, melainkan juga keberhasilan mempersiapkan kehidupan akhirat.
 
BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Siaran%20Radio

Pada dialog program Lentera Hati Radio Gema Soedirman, Utami Fian Nurhanifa mengawali perbincangan dengan menanyakan makna sukses yang sesungguhnya kepada Maftuhatirrohmah.

“Bu Rohmah, sebenarnya sebagai seorang muslim, bagaimana kita mengukur kesuksesan yang hakiki? Apakah cukup dengan memiliki harta melimpah dan jabatan tinggi?” tanya Utami.

Maftuhatirrohmah menjelaskan bahwa Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya, memiliki jabatan, maupun meraih keberhasilan dalam pekerjaan. 
 
Namun, semua pencapaian tersebut harus menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kesuksesan sejati adalah ketika kehidupan dunia berjalan baik tanpa melupakan bekal akhirat.

Hal tersebut tercermin dalam doa sapu jagat QS. Al-Baqarah ayat 201:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka.”

Tiga Pilar Utama Meraih Kesuksesan
Utami kemudian bertanya, apa saja kunci untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat?

Maftuhatirrohmah menjelaskan bahwa ada tiga pilar penting. Pertama, meluruskan niat dan memperkuat tauhid. Setiap aktivitas hendaknya diniatkan karena Allah SWT. 
 
Bekerja mencari nafkah, belajar, berdagang, dan menjalankan tanggung jawab keluarga dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW, “Innamal a‘malu binniyyat” (sesungguhnya segala amal bergantung pada niatnya).

Kedua, ikhtiar dan bekerja secara profesional. Islam mengajarkan umatnya untuk tidak berpangku tangan. Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Ra'd ayat 11 bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. 
 
Karena itu, kesuksesan harus diperjuangkan melalui ilmu, kerja keras, kedisiplinan, kejujuran, dan kesungguhan.

Ketiga, menjaga hubungan dengan Allah dan sesama manusia (hablum minallah wa hablum minannas). Ibadah seperti salat, puasa, dan zakat merupakan wujud penghambaan kepada Allah, sedangkan berbakti kepada orang tua, jujur dalam bekerja, membantu sesama, dan tidak menyakiti orang lain merupakan wujud kebaikan sosial. Keduanya harus berjalan seimbang.

Bukan Sekadar Banyak, tetapi Harus Berkah
Utami kemudian mengangkat persoalan mengapa ada orang yang memiliki banyak harta, tetapi hidupnya belum tentu merasa tenang.

Menurut Maftuhatirrohmah, di sinilah pentingnya memahami makna keberkahan. Kesuksesan tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tetapi juga dari ketenangan, kecukupan, dan manfaat yang dihasilkan.
 
Harta yang diperoleh secara halal, meskipun tidak berlimpah, tetapi membawa ketenteraman jauh lebih bernilai daripada kekayaan yang diperoleh dengan cara curang.

Untuk menjaga keberhasilan tersebut, umat Islam dianjurkan membiasakan salat tepat waktu, memperbanyak istighfar dan sedekah, meminta doa serta berbakti kepada orang tua, dan menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup. 
 
Selain itu, diperlukan sikap muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap perbuatan manusia, sehingga kita terhindar dari cara-cara yang haram dalam mengejar kesuksesan.

Sukses Sejati adalah Dunia dan Akhirat
Menutup dialog, Maftuhatirrohmah mengingatkan bahwa kesuksesan bukan hanya tentang seberapa tinggi kedudukan atau seberapa banyak kekayaan yang dimiliki, melainkan bagaimana semua itu menjadi jalan untuk beribadah dan memberikan manfaat.

Utami pun mengajak pendengar untuk senantiasa meluruskan niat, bersungguh-sungguh dalam berusaha, menjaga ibadah, serta membangun hubungan baik dengan sesama.

Pada akhirnya, dunia adalah tempat menanam amal kebaikan, sedangkan akhirat merupakan tempat mempertanggungjawabkan segala perbuatan. 
 
Maka, kejarlah keberhasilan dunia tanpa melupakan akhirat. Sebab, sukses yang sesungguhnya adalah ketika hidup memperoleh keberkahan, hati mendapatkan ketenangan, dan segala ikhtiar menjadi bekal menuju rida Allah SWT.

Artikel ini telah disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman pada frekuensi 96,3 FM oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Maftuhatirrohmah dan Utami Fian Nurhanifa, dalam program Lentera Hati, pada Rabu (21/10/2026) lalu.

Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)

Mustolah dan Saryono: Dekat dengan Handphone Tapi Jauh dari Keluarga

 Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Mustolah dan Saryono, saat siaran program Lentera Hati di LPPL Gema Soedirman pada frekuensi 96,3 FM, Senin (26/10/2026) lalu. (Foto: Mustolah)

Dekat dengan Handphone, Jauh dari Keluarga
Mustolah dan Saryono (Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga)
Editor: Imam Edi Siswanto

Mengawali dialog tentang Keluarga Sakinah dengan  bertema "Dekat dengan Handphone dan Jauh dari Keluarga", Mustolah dan Saryono mengingatkan dan mengajak kepada kita untuk memanfaatkan waktu bersama keluarga dengan efektif yang sarat dengan manfaat, mempererat silaturahmi dan menguatkan tali kasih sayang. Berikut ringkasan dialog tersebut.

Mustolah : Kawan Setia program Lentera Hati LPPL Gema Soedirman dan Sahabat Religi di mana saja berada, pernahkah kita berkumpul bersama keluarga dalam satu ruangan, tetapi masing-masing justru sibuk dengan HP? Ayah membaca berita, ibu membuka media sosial, sementara anak asyik bermain gim atau menonton video. 

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Siaran%20Radio 

Secara fisik kita berdekatan, tetapi komunikasi dan perhatian justru semakin jauh. Inilah fenomena yang perlu kita renungkan: dekat dengan HP, tetapi jauh dari keluarga.

Saryono: Benar. HP bukanlah sesuatu yang buruk. Teknologi dapat membantu pekerjaan, pendidikan, komunikasi, bahkan menjadi sarana dakwah. Persoalan muncul ketika penggunaannya tidak terkendali sehingga mengambil waktu dan perhatian yang seharusnya menjadi hak keluarga. 

Islam mengajarkan tanggung jawab menjaga keluarga, sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Tahrim ayat 6: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Menjaga keluarga bukan hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga membimbing keimanan, akhlak, dan memberikan perhatian. 

Karena itu, orang tua harus menjadi teladan. Jangan melarang anak terus bermain HP, sementara kita sendiri tidak bisa melepaskannya.

Mustolah : Lalu, apa tanda penggunaan HP mulai mengganggu keharmonisan keluarga?

Saryono: Di antaranya, ketika anak bercerita tetapi orang tua tetap menatap layar; pasangan mengajak berbicara tetapi dijawab, “Sebentar,” tanpa kepastian; atau saat berkumpul, semua hadir secara fisik tetapi tidak saling memperhatikan. Kehadiran di rumah belum tentu berarti hadir secara emosional. Anak membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan, bukan sekadar berada di dekatnya.

Mustolah : Bagaimana Islam memberikan tuntunan agar kita tetap berakhlak dalam menggunakan teknologi?

Saryono: Ada tiga adab digital yang penting. Pertama, tabayyun, yaitu memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, sebagaimana QS. Al-Hujurat ayat 6. Kedua, menjaga kehormatan orang lain dengan tidak menyebarkan aib, menghina, atau menggunjing melalui media sosial, sebagaimana peringatan dalam QS. Al-Hujurat ayat 12. 

Ketiga, menjaga waktu dan tujuan penggunaan Handphone. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa kesehatan dan waktu luang merupakan dua nikmat yang sering disia-siakan (HR. Bukhari). Maka, sebelum membuka HP, tanyakan kepada diri sendiri: untuk apa, berapa lama, dan apakah ada keluarga yang sedang membutuhkan perhatian kita?

Mustolah : Bagaimana mengembalikan waktu berkualitas bersama keluarga, terutama bagi orang tua yang sibuk bekerja?

Saryono: Kita tidak harus berhenti menggunakan HP. Yang diperlukan adalah keseimbangan. Keluarga tidak hanya membutuhkan nafkah, tetapi juga kasih sayang dan perhatian. QS. Ar-Rum ayat 21 mengingatkan tentang tujuan pernikahan untuk membangun ketenteraman, cinta, dan kasih sayang (sakinah, mawaddah, wa rahmah). 

Karena itu, sediakan waktu khusus, misalnya setelah Magrib untuk mengaji, berbincang, atau mendampingi anak belajar. Saat makan bersama, letakkan HP jika tidak ada keperluan mendesak. Waktu berkualitas bukan semata-mata soal lamanya kebersamaan, melainkan ketulusan perhatian. Mendengarkan cerita anak dan menanyakan kabar pasangan merupakan tindakan sederhana yang menguatkan ikatan keluarga.

Mustolah : Bagaimana pula mendampingi anak yang sejak kecil sudah terbiasa menggunakan HP?

Saryono: Anak adalah amanah. Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya (HR. Bukhari dan Muslim). Orang tua perlu mengetahui konten yang diakses anak, mengatur waktu penggunaan, serta memastikan HP tidak mengganggu ibadah, belajar, tidur, aktivitas fisik, dan pergaulan. 

Jangan hanya melarang, tetapi ajak anak membuat kesepakatan dan sediakan kegiatan alternatif seperti membaca, bermain, membantu pekerjaan rumah, atau beraktivitas bersama. Untuk remaja, bangun komunikasi dua arah, berikan kepercayaan sesuai usia, dan ajarkan menjaga privasi serta menghadapi risiko di internet. Anak juga harus merasa aman untuk bercerita ketika mengalami perundungan atau hal yang membuatnya tidak nyaman.

Mustolah : Sebagai langkah sederhana, apa yang bisa langsung dilakukan keluarga mulai hari ini?

Saryono: Mari kita praktikkan Gerakan 3S: Simpan, Sapa, dan Simak. Pertama, Simpan HP ketika makan atau berkumpul bersama keluarga. Kedua, Sapa keluarga dengan salam, senyum, dan pertanyaan penuh perhatian. 

Ketiga, Simak ceritanya dengan sungguh-sungguh tanpa terburu-buru memotong atau menghakimi. Mulailah dari 15 menit tanpa HP setiap hari. Lakukan secara konsisten dan jadikan rumah sebagai tempat yang aman untuk berbagi cerita.

Mustolah : Masyaallah. Jadi, teknologi bukan untuk dijauhi, tetapi harus digunakan secara bijaksana. Jangan sampai kita begitu cepat menjawab notifikasi, tetapi lambat merespons panggilan kasih sayang keluarga.

Saryono: Betul. HP bisa diganti ketika rusak, tetapi waktu kebersamaan yang telah berlalu tidak dapat dibeli kembali. Mari jadikan teknologi sebagai sarana mempererat silaturahmi, bukan penghalang kasih sayang. Semoga keluarga kita senantiasa menjadi rumah yang penuh ketenangan, cinta, dan keberkahan.

Artikel ini merupakan rangkuman dialog yang telah disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman pada frekuensi 96,3 FM, oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Mustolah dan Saryono dalam program Lentera Hati, pada Senin (26/10/2026) lalu.

Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)   

Maftuhatirrohmah dan Utami Fian Nurhanifa: Kunci Sukses Dunia dan Akhirat

 Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga,  Maftuhatirrohmah (Kanan) dan Utami Fian Nurhanifa , saat siaran progra...