![]() |
| Musalim Ridlo, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, dalam siaran radio dalam program Lentera Hati LPPL Gema Soedirman 96,3 FM pekan lalu.(Foto: Musalim Ridlo) |
Mengenal dan Memperbaiki Diri, Menjernihkan Hati (Muhasabah)
Oleh: Musalim Ridlo
Editor: Imam Edi Siswanto
PURBALINGGA – Mengenal diri sendiri bukan perkara sederhana. Seseorang mungkin merasa dirinya sabar, sementara orang terdekat justru melihatnya mudah tersinggung. Ada pula yang merasa telah menjadi pendengar yang baik, tetapi tanpa disadari sering memotong pembicaraan orang lain. Perbedaan cara melihat diri inilah yang menjadi salah satu pintu masuk penting untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri.
Hal tersebut disampaikan Musalim Ridlo, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, dalam program Lentera Hati yang disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman 96,3 FM pekan lalu.
BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search?q=siaran+radio
Dalam materi bertema “Muhasabah Diri: Mengenal Diri, Memperbaiki Hati”, ia mengajak masyarakat untuk berani melihat ke dalam diri, menerima nasihat, serta menjadikan evaluasi diri sebagai bagian dari kehidupan seorang Muslim.
Salah satu konsep yang dapat digunakan sebagai sarana refleksi adalah Johari Window atau Jendela Johari, sebuah konsep dalam psikologi komunikasi yang dikembangkan oleh Joseph Luft dan Harrington Ingham. Konsep ini membagi diri manusia ke dalam empat wilayah berdasarkan apa yang diketahui oleh diri sendiri dan apa yang diketahui oleh orang lain.
Empat Sisi Diri yang Perlu Dikenali
Pertama, Open Area, yaitu bagian diri yang diketahui oleh diri sendiri sekaligus diketahui orang lain. Wilayah ini berkaitan dengan keterbukaan dan kejujuran. Namun, keterbukaan tetap membutuhkan kebijaksanaan karena tidak semua hal dalam kehidupan harus disampaikan kepada publik.
Kedua, Blind Area, yaitu sisi diri yang diketahui orang lain tetapi tidak disadari oleh diri sendiri. Kritik atau nasihat dari orang lain terkadang dapat menjadi cermin untuk melihat kekurangan yang selama ini tidak kita sadari. Karena itu, tidak semua koreksi harus dipandang sebagai penghinaan. Bisa jadi, melalui orang lain Allah menunjukkan sesuatu yang perlu kita perbaiki.
Ketiga, Hidden Area, yaitu hal-hal yang kita ketahui tentang diri sendiri tetapi tidak diketahui orang lain. Wilayah ini berkaitan dengan pengalaman, kelemahan, maupun persoalan pribadi. Di era media sosial, menjaga privasi menjadi semakin penting. Tidak semua masalah harus dipublikasikan dan tidak semua kesedihan harus menjadi konsumsi publik. Bijaksana berarti mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus menjaga sesuatu tetap menjadi ruang pribadi.
Keempat, Unknown Area, yaitu potensi diri yang belum diketahui oleh diri sendiri maupun orang lain. Seseorang terkadang baru menemukan kemampuan dan kekuatannya ketika menghadapi tantangan. Karena itu, jangan terlalu cepat mengatakan, “Saya tidak bisa.” Bisa jadi, kemampuan tersebut belum pernah mendapatkan kesempatan untuk berkembang.
Muhasabah: Berani Bercermin kepada Diri
Konsep tersebut dapat menjadi sarana untuk memahami pentingnya muhasabah dalam Islam. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 18 agar setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk menghadapi hari esok.
Muhasabah berarti berhenti sejenak, melihat kembali perilaku, mengevaluasi kekurangan, kemudian memperbaikinya. Kita tidak hanya bertanya, “Mengapa dia tidak memahami saya?”, tetapi juga berani bertanya, “Apakah saya sudah berusaha memahami orang lain?”
Demikian pula, bukan hanya bertanya, “Mengapa orang lain tidak menghargai saya?”, tetapi juga, “Apakah saya sudah menghargai orang lain?”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat mengubah cara kita memandang kehidupan. Muhasabah mengajarkan kita untuk tidak terlalu sibuk mencari kesalahan orang lain, tetapi berani melakukan evaluasi terhadap diri sendiri.
Mengenal Diri untuk Semakin Dekat kepada Allah
Pada akhirnya, manusia mungkin tidak sepenuhnya mengenal dirinya sendiri. Orang lain pun tidak akan pernah mengetahui seluruh sisi kehidupan kita. Allah SWT-lah yang paling mengetahui apa yang tampak maupun yang tersembunyi.
Karena itu, mengenal diri dalam perspektif Islam tidak berhenti pada pertanyaan “Siapa saya?”, tetapi berlanjut pada pertanyaan yang lebih mendalam: “Siapa saya di hadapan Allah?”
Kalam yang populer dalam tradisi spiritual Islam, “Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbahu”—“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya” dapat menjadi bahan renungan. Ketika menyadari keterbatasan diri, manusia belajar rendah hati dan semakin menyadari kebutuhannya kepada pertolongan Allah SWT.
Muhasabah pada akhirnya bukan sekadar bercermin untuk melihat wajah, tetapi bercermin untuk melihat hati. Mengenali kelebihan tanpa menjadi sombong, menerima kekurangan tanpa kehilangan harapan, menerima nasihat tanpa merasa direndahkan, serta terus memperbaiki diri tanpa harus menunggu orang lain berubah.
Sebab, perubahan yang bermakna sering kali dimulai ketika seseorang berani jujur melihat dirinya sendiri.
Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)

