Kamis, 01 Oktober 2026

Ngatour Rokhman: Menghidupkan Iman, Merawat Bumi, dan Menebar Manfaat

PAI Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Ngatour Rokhman, dari KUA Kemangkon, menyampaikan materi keagamaan dalam program Lentera Hati melalui siaran radio LPPL Gema Soedirman 96,3 FM dengan tema “Manusia sebagai Khalifah Fil Ardi.” (Foto: Ngatour Rokhman)
Menghidupkan Iman, Merawat Bumi, dan Menebar Manfaat (Khalifah Fil Ardi) 
Oleh: Ngatour Rokhman
Editor: Imam Edi Siswanto

Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Ngatour Rokhman, dari KUA Kemangkon, menyampaikan materi keagamaan dalam program Lentera Hati melalui siaran radio LPPL Gema Soedirman 96,3 FM dengan tema “Manusia sebagai Khalifah Fil Ardi.”

Materi tersebut mengajak masyarakat untuk memahami kembali hakikat manusia sebagai makhluk yang diberi amanah oleh Allah SWT untuk memakmurkan bumi dengan iman, ilmu, ketakwaan, dan kebaikan. Berikut rangkumannya. 

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search?q=siaran+radio

Manusia Bukan Sekadar Penghuni Bumi
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 30 bahwa manusia dijadikan sebagai khalifah di bumi. Khalifah dapat dimaknai sebagai pengganti, wakil, atau pengelola. 

Artinya, manusia tidak hanya menjalani kehidupan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan alam, menciptakan kedamaian, serta menjalankan kehidupan sesuai kehendak Allah SWT.

Potensi manusia untuk menjadi khalifah sangat besar. Allah membekali manusia dengan akal, ilmu, kemampuan berpikir, dan kebijaksanaan. Namun, kedudukan tersebut bukanlah hak istimewa untuk bertindak sesuka hati. 

Kekhalifahan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. QS. Al-Ahzab: 72 menggambarkan betapa beratnya amanah tersebut sehingga manusia dituntut memiliki ilmu, kesadaran, dan ketakwaan dalam menjalankannya.

Dua Pilar Kekhalifahan: Ibadah dan Memakmurkan Bumi
Sebagai khalifah, manusia memiliki dua tugas yang tidak dapat dipisahkan. Pertama, ibadah kepada Allah SWT. QS. Az-Zariyat: 56 menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. 

Ibadah tidak hanya berupa salat, puasa, dan zakat, tetapi juga berbagai aktivitas kehidupan yang dilakukan dengan niat karena Allah dan sesuai dengan syariat. Pedagang yang jujur, guru yang ikhlas, dan pemimpin yang adil merupakan contoh bagaimana aktivitas kehidupan dapat menjadi bagian dari ibadah.

Kedua, imarah atau memakmurkan bumi. Dalam QS. Hud: 61, Allah SWT menjelaskan bahwa manusia diberi tugas untuk memakmurkan bumi. Karena itu, manusia hendaknya mengembangkan ilmu pengetahuan, mengelola sumber daya secara bijaksana, membangun peradaban, dan menghadirkan manfaat bagi kehidupan.

Menjaga Alam adalah Bagian dari Amanah
Kerusakan lingkungan menjadi salah satu tantangan besar dalam menjalankan fungsi kekhalifahan. Allah SWT mengingatkan dalam QS. Ar-Rum: 41 bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat perbuatan manusia.

Kesadaran sebagai khalifah mendorong kita untuk menjaga lingkungan melalui tindakan sederhana: tidak membuang sampah sembarangan, menghemat air, menjaga pepohonan, serta tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan. Merawat bumi merupakan bagian dari tanggung jawab manusia kepada Allah SWT.

Menjadi Khalifah Dimulai dari Lingkungan Terdekat
Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut mengingatkan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab sesuai lingkupnya. Ayah bertanggung jawab terhadap keluarga, ibu berperan dalam mengatur rumah tangga dan mendidik generasi, sementara pemimpin bertanggung jawab terhadap amanah masyarakat. 

Dengan demikian, kekhalifahan bukan semata-mata tentang jabatan, melainkan tentang tanggung jawab dan keteladanan.

Bijak Menggunakan Teknologi
Di era digital, fungsi kekhalifahan menghadapi tantangan baru. Kecerdasan buatan, media sosial, dan kemajuan ilmu pengetahuan perlu dikelola dengan nilai-nilai ketuhanan. 

Teknologi hendaknya menjadi sarana untuk menyebarkan ilmu, dakwah, dan kebaikan, bukan untuk mencaci, menyebarkan fitnah, atau merusak kehidupan sosial.

Karena itu, manusia masa kini perlu melek teknologi sekaligus memiliki rem spiritual. Kemajuan materi harus berjalan seiring dengan kemajuan iman dan akhlak agar teknologi benar-benar menjadi sarana kemaslahatan.

Setiap Amanah Akan Dipertanggungjawabkan
Pada akhirnya, seluruh perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawaban. QS. Az-Zalzalah: 6–8 mengingatkan bahwa kebaikan maupun keburukan sekecil apa pun akan diperlihatkan balasannya. 

Karena itu, setiap kesempatan, ilmu, harta, kesehatan, jabatan, dan kemampuan yang diberikan Allah hendaknya digunakan untuk menghadirkan manfaat.

Menjadi khalifah fil ardi berarti tidak sekadar hidup di bumi, tetapi ikut merawatnya; tidak hanya menikmati kehidupan, tetapi memberikan manfaat bagi sesama. Mari membangun kehidupan dengan iman, keadilan, kepedulian terhadap lingkungan, dan akhlak mulia. 

Dengan demikian, kehadiran kita menjadi rahmat bagi keluarga, masyarakat, dan lingkungan, serta menjadi bekal kebaikan ketika kelak kembali menghadap Allah SWT. 

Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*) 

Tasyati Ertiningsih: Merawat Fitrah Kesucian Jiwa, Menjaga Benih Kebaikan Sejak Dini

PAI Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Tasyati Ertiningsih, dalam program siaran Lentera Hati di LPPL Radio Gema Soedirman 96,3 FM. (Foto: Tasyati)

Merawat Fitrah Kesucian Jiwa, Menjaga Benih Kebaikan Sejak Dini 
Oleh: Tasyati Ertiningsih
Editor: Imam Edi Siswanto
Manusia terlahir ke dunia layaknya lembaran putih yang bersih. Mereka belum mengenal harta, jabatan, permusuhan, maupun kesombongan duniawi. Konsep kesucian asal inilah yang disebut sebagai fitrah.
Pesan mendalam mengenai hakikat kesucian manusia ini disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Tasyati Ertiningsih, dalam program siaran Lentera Hati di LPPL Radio Gema Soedirman 96,3 FM. 
Melalui mimbar udara tersebut, ia mengajak seluruh pendengar untuk merenungkan kembali potensi dasar yang dibawa manusia sejak lahir dan bagaimana cara merawatnya di tengah tantangan zaman. Berikut rangkuman materi yang telah kami susun dan lebih sederhana.
1. Makna Fitrah: Potensi Tauhid dan Kebaikan
Dalam QS. Ar-Rum ayat 30, Allah SWT menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan naluri beragama, yaitu agama tauhid. Terjemahan Kementerian Agama menggarisbawahi bahwa fitrah bukan sekadar kondisi "anak kecil yang masih suci", melainkan potensi dasar yang Allah tanamkan dalam diri manusia untuk mengenal kebenaran, mencintai kebaikan, dan cenderung pada jalan yang lurus.
Islam memandang manusia sebagai makhluk yang pada dasarnya baik. Namun, potensi ini ibarat sebuah benih. Benih yang unggul hanya akan tumbuh subur dan berbuah manis jika ditanam di tanah yang baik, disiram, dirawat, serta mendapat cahaya matahari yang cukup.
2. Lingkungan dan Tantangan Menjaga Amanah
Merujuk pada hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah.” Hadis ini juga menjelaskan bahwa lingkungan dan orang tualah yang kemudian membentuk arah keyakinan dan karakter anak.
Dari tuntunan ini, terdapat pelajaran besar bahwa anak adalah amanah pendidikan, bukan sekadar tambahan anggota keluarga. Fitrah anak tidak hanya membutuhkan asupan fisik, tetapi juga:
  • Kasih sayang yang tulus
  • Lingkungan dan pergaulan yang sehat
  • Pendidikan agama yang kuat
  • Keteladanan nyata dari orang tua
Anak adalah peniru yang ulung. Mereka belajar bukan dari apa yang kita katakan, melainkan dari apa yang mereka lihat sehari-hari di dalam rumah.
3. Ikhtiar Merawat Jiwa (Tazkiyatun Nafs)
Seiring bertambahnya usia, manusia dihadapkan pada pilihan, hawa nafsu, ego, dan berbagai godaan dunia. Itulah mengapa manusia dibekali akal, hati, dan petunjuk agama. Menjaga fitrah bukan hanya tugas orang tua kepada anaknya, melainkan kewajiban setiap individu dewasa melalui proses tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa).
Empat langkah utama untuk menjaga agar fitrah tetap hidup dan hubungan dengan Allah SWT tetap kokoh meliputi:
  1. Menjaga Shalat: Sebagai media komunikasi vertikal dan sarana mengingat Allah, baik dalam kondisi lapang maupun sempit.
  2. Membaca dan Memahami Al-Qur'an: Menjadikan kitab suci sebagai kompas dan petunjuk hidup sehari-hari.
  3. Memperbanyak Dzikir dan Doa: Menjaga hati agar tetap tenang dan terhubung dengan Sang Pencipta.
  4. Menjauhi Penyakit Hati: Membentengi diri dari sifat iri, dengki, dan sombong yang dapat mengotori kesucian jiwa.
Ketika hati dijaga dalam kondisi bersih, maka seluruh perilaku dan tutur kata manusia secara otomatis akan memancarkan kebaikan. Mendidik dan menjaga fitrah adalah investasi jangka panjang demi keselamatan di dunia dan akhirat.
Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*) 

Ngatour Rokhman: Menghidupkan Iman, Merawat Bumi, dan Menebar Manfaat

PAI Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Ngatour Rokhman, dari KUA Kemangkon, menyampaikan materi keagamaan dalam program Lentera Hati ...