Senin, 05 Oktober 2026

Edi Trisnanto: Membaca Tanda Kekuasaan Allah dan Menjaga Bumi sebagai Amanah

Edi Trisnanto, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, dalam program Lentera Hati yang disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman 96,3 FM beberapa waktu lalu. (Foto: Edi T)
Membaca Tanda Kekuasaan Allah dan Menjaga Bumi sebagai Amanah (Tafakkur Alam)
Oleh: Edi Trisnanto
Editor: Imam Edi Siswanto


PURBALINGGA – Alam semesta dengan segala keindahan, keteraturan, dan peristiwa yang terjadi di dalamnya merupakan sumber inspirasi untuk melakukan tafakkur, yaitu merenungkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. 

Dengan tafakkur, manusia tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga dapat memperkuat keimanan, meningkatkan ketakwaan, serta menyadari tanggung jawabnya sebagai khalifah di muka bumi.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search?q=siaran+radio

Pesan tersebut disampaikan Edi Trisnanto, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, dalam program Lentera Hati yang disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman 96,3 FM beberapa waktu lalu. 

Melalui tema “Renungan terhadap Alam Semesta”, Edi mengajak pendengar menjadikan alam sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

Menurutnya, ibadah seorang Muslim tidak hanya diwujudkan melalui aktivitas formal seperti membaca dan mendalami Al-Qur’an, bersedekah, serta melaksanakan berbagai ibadah lainnya. Ibadah juga dapat diperkuat dengan mengolah akal dan pikiran melalui tafakkur terhadap alam semesta.

Ketika melihat sungai yang mengalir di antara bebatuan, udara yang segar, tumbuh-tumbuhan dengan beragam manfaat, kicauan burung, kehidupan berbagai jenis hewan, keragaman manusia, hingga benda-benda langit, seorang Muslim diajak menyadari bahwa semua itu merupakan tanda kebesaran Allah SWT.

Demikian pula pergantian siang dan malam, perubahan musim, proses tumbuhnya tanaman dari biji hingga menghasilkan buah, serta pergantian generasi merupakan pelajaran berharga tentang keteraturan ciptaan Allah. Al-Qur’an menegaskan bahwa keteraturan tersebut menunjukkan keesaan dan kekuasaan-Nya. 

QS. Al-Anbiya ayat 22 menjelaskan bahwa apabila di langit dan bumi terdapat tuhan selain Allah, niscaya keduanya akan rusak binasa.

Tafakkur Menguatkan Iman dan Kesadaran Tauhid
Tafakkur yang dilakukan secara mendalam dapat mengantarkan manusia pada kesadaran bahwa alam semesta tidak hadir dengan sendirinya. Di balik keteraturan dan keindahannya terdapat Allah SWT sebagai Pencipta Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.

Karena itu, renungan terhadap alam semesta seharusnya tidak berhenti pada kekaguman, tetapi berlanjut menjadi keimanan, ketakwaan, dan rasa syukur. QS. Yunus ayat 6 juga mengingatkan bahwa pergantian malam dan siang serta berbagai ciptaan Allah di langit dan bumi merupakan tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi orang-orang yang bertakwa.

Menjaga Alam adalah Amanah
Tafakkur terhadap alam juga membawa manusia pada kesadaran ekologis. Allah SWT berfirman dalam QS. Fathir ayat 39:

هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ

“Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi.”

Sebagai khalifah, manusia memiliki amanah untuk memakmurkan, menjaga, dan merawat bumi, bukan merusaknya. Kenyataan bahwa berbagai kerusakan lingkungan dapat terjadi akibat ulah manusia menjadi pengingat agar amanah tersebut dijalankan secara bertanggung jawab.

Allah SWT juga melarang manusia membuat kerusakan di bumi. QS. Al-Baqarah ayat 11 menggambarkan larangan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa manusia seharusnya menjadi pihak yang melakukan perbaikan, bukan kerusakan. 

Menanam Pohon, Menebar Manfaat
Rasulullah SAW memberikan teladan dalam kepedulian terhadap lingkungan. Salah satu bentuknya adalah anjuran untuk menanam pohon. Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa seorang Muslim yang menanam pohon atau tanaman kemudian dimanfaatkan oleh manusia, burung, atau hewan, maka hal tersebut menjadi sedekah baginya.

Pesan ini menunjukkan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar tanggung jawab sosial, tetapi juga dapat menjadi bagian dari ibadah dan amal yang bernilai pahala. Menanam pohon, merawat tanaman, menjaga kebersihan, menghemat sumber daya, serta tidak melakukan tindakan yang merusak lingkungan merupakan bentuk nyata menjalankan amanah sebagai khalifah.

Melalui tafakkur, manusia diajak untuk membaca alam sebagai ayat-ayat kebesaran Allah, memperkuat tauhid, sekaligus memperbaiki hubungan dengan lingkungan. Alam telah memberikan kehidupan kepada manusia dan seluruh makhluk. Karena itu, sudah semestinya bumi dirawat dengan penuh tanggung jawab agar tetap memberikan manfaat bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang.

Tafakkur alam pada akhirnya bukan hanya tentang melihat keindahan ciptaan Allah, tetapi tentang menemukan kebesaran-Nya, memperkuat iman, dan membuktikan rasa syukur dengan menjaga bumi sebagai amanah.

Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)  

Dimas Kurniawan dan Barhim: Soroti Tingginya Angka Perceraian di Purbalingga

Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Dimas Kurniawan (Kanan) dan Barhim dalam program Lentera Hati di Radio Gema Sudirman Purbalingga 96,3 FM, Jumat (25/9/2026) lalu. (Foto: Dimas)

Penyuluh Agama Islam Soroti Tingginya Angka Perceraian di Purbalingga
Oleh: Dimas Kurniawan dan Barhim
Editor: Imam Edi Siswanto

Purbalingga-Tingginya angka perceraian di Kabupaten Purbalingga menjadi perhatian Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Dimas Kurniawan dan Barhim dalam program Lentera Hati di Radio Gema Sudirman Purbalingga 96,3 FM, Jumat (25/9/2026) lalu.

Dalam dialognya disebutkan bahwa berdasarkan data tahun 2025 tercatat 2.516 perkara perceraian, terdiri atas 2.025 cerai gugat dan 491 cerai talak. Persoalan ekonomi disebut menjadi salah satu faktor yang banyak melatarbelakangi pengajuan perceraian.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search?q=siaran+radio

Dimas mengatakan, kondisi tersebut menjadi tanggung jawab bersama, khususnya Penyuluh Agama Islam, untuk ikut memperkuat ketahanan keluarga melalui edukasi dan pendampingan kepada masyarakat.

“Bagaimana kita sebagai penyuluh bisa ikut berkontribusi dalam menurunkan angka perceraian di Purbalingga,” ucap Dimas.

Sementara itu, Barhim menyoroti pengaruh media sosial terhadap kehidupan pasangan muda. Menurutnya, pasangan perlu mampu menyaring informasi agar tidak menjadikan kehidupan yang ditampilkan di media sosial sebagai standar kebahagiaan.

Dimas menambahkan, media sosial sering menampilkan gaya hidup yang berorientasi pada jumlah tayangan dan pengunjung. Karena itu, pasangan muda perlu bijak dalam menerima informasi dan tidak menjadikan gaya hidup hedon sebagai ukuran kebahagiaan.

“Jangan semua dijadikan standar kebahagiaan. Semua ada takarannya. Kebahagiaan tidak hanya diukur dari materi, tetapi juga dari rasa syukur,” jelasnya.

Melalui edukasi dan pendampingan, Penyuluh Agama Islam diharapkan dapat terus berkontribusi dalam memperkuat ketahanan keluarga dan mencegah terjadinya perceraian di masyarakat.

Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)  

Edi Trisnanto: Membaca Tanda Kekuasaan Allah dan Menjaga Bumi sebagai Amanah

Edi Trisnanto, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, dalam program Lentera Hati yang disiarkan melalui LPPL G...