Selasa, 27 Oktober 2026

Wahidah: Kenapa Istiqomah Mudah Diucapkan, Sulit Dipertahankan?

Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Wahidah, dalam program Lentera Hati yang disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman pada frekuensi 96,3 FM, pada pekan lalu. (Foto: Wahidah)
Istiqomah Mudah Diucapkan Sulit Dipertahankan
(Menjaga Konsistensi dalam Iman, Ibadah, dan Kebaikan)
Oleh: Wahidah (Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga)
Editor: Imam Edi Siswanto


Istiqamah sering kali mudah diucapkan, tetapi tidak selalu mudah dipertahankan. Kita mungkin pernah berjanji untuk rajin salat berjamaah, membaca Al-Qur’an setiap hari, memperbanyak sedekah, atau memperbaiki diri. Semangat itu menggebu pada awalnya, tetapi perlahan melemah ketika kesibukan, rasa malas, dan berbagai persoalan kehidupan datang menghampiri.

Istiqamah berarti teguh berada di jalan kebaikan dan ketaatan kepada Allah SWT meskipun menghadapi berbagai ujian. Allah SWT berfirman dalam QS. Fussilat ayat 30 bahwa orang-orang yang berkata, “Tuhan kami ialah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendirian, akan mendapatkan kabar gembira dan ketenteraman dari para malaikat.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Siaran%20Radio

Ayat tersebut mengingatkan bahwa iman bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Istiqamah bukan berarti tidak pernah salah atau jatuh dalam dosa. Istiqamah adalah kesediaan untuk bangkit ketika terjatuh, kembali mengingat Allah ketika lalai, segera bertobat ketika berbuat dosa, serta menyalakan kembali semangat ibadah ketika mulai melemah.

Mengapa Istiqamah Sulit Dipertahankan?
Melakukan kebaikan sekali mungkin terasa mudah. Namun, mempertahankannya secara berkelanjutan membutuhkan kesungguhan. Membaca Al-Qur’an satu hari tidaklah sulit, tetapi membiasakannya setiap hari memerlukan komitmen. Begitu pula dengan sedekah, salat sunah, dan berbagai amal saleh lainnya.

Karena itu, istiqamah tidak harus dimulai dengan amalan besar. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit. Membaca satu halaman Al-Qur’an setiap hari, bersedekah sesuai kemampuan, atau meluangkan beberapa menit untuk berzikir merupakan langkah sederhana yang bermakna apabila dijaga secara konsisten.

Lima Langkah Menjaga Istiqamah
Pertama, luruskan niat. Lakukan kebaikan karena Allah, bukan semata-mata demi pujian manusia. Kedua, mulailah dari amalan ringan dengan target yang realistis, kemudian tingkatkan secara bertahap setelah terbiasa. Ketiga, jangan bergantung pada suasana hati. Ketaatan perlu dijaga, baik ketika bersemangat maupun saat lelah, sedih, atau sibuk.

Keempat, pilih lingkungan yang baik. Bergaul dengan orang-orang yang mengingatkan kepada Allah dapat mendorong kita untuk terus berbuat baik. Kelima, jangan berhenti berdoa agar hati senantiasa diteguhkan dalam agama. Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah SAW ialah, “Ya Muqallibal-qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik”, “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Ketika mengalami kegagalan, jangan menjadikannya alasan untuk menyerah. Kita tidak perlu menunggu menjadi manusia sempurna untuk beribadah. Justru melalui ibadah dan pertobatan, kita berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

Istiqamah juga tidak terbatas pada ibadah ritual. Ia tercermin dalam kejujuran, menjaga ucapan, menghormati orang tua, menyayangi pasangan, mendidik anak, bekerja dengan amanah, menjaga silaturahmi, dan menolong sesama. Dengan demikian, istiqamah mencakup hubungan yang baik dengan Allah sekaligus perilaku mulia terhadap sesama manusia.

Mulailah Hari Ini, Pertahankan Kebaikan
Mari bertanya kepada diri sendiri: kebaikan apa yang selama ini ingin kita lakukan, tetapi belum mampu kita pertahankan? Mungkin salat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, bersedekah, menjaga lisan, atau memperbaiki hubungan keluarga. Tidak ada kata terlambat untuk kembali mendekat kepada Allah.

Mulailah hari ini dengan satu kebaikan kecil, lalu pertahankan. Sebab, bukan hanya besarnya amalan yang penting, melainkan juga kesungguhan untuk menjaganya secara berkelanjutan. Semoga Allah SWT meneguhkan hati kita agar istiqamah dalam iman, ibadah, dan kebaikan hingga akhir hayat.

Artikel ini telah disiarkan melalui LPPL Radio Gema Soedirman pada frekuensi 96,3 FM oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga 
yang bertugas di KUA Rembang , Wahidah, dalam program Lentera Hati, pada pekan lalu.

Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*) 

Jumat, 23 Oktober 2026

Mughofar dan Zamroni Irham: Ini Tujuh Fungsi Keluarga Membangun Rumah Tangga Sakinah

Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Mughofar (Kiri) dan Zamroni Irham, dalam program Lentera Hati yang disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman pada frekuensi 96,3 FM, pada Jumat (16/10/2026) lalu.(Zamroni Irham)

PURBALINGGA – Membangun keluarga sakinah tidak cukup hanya dengan ikatan pernikahan, tetapi juga membutuhkan komitmen untuk menjalankan peran dan fungsi keluarga secara optimal.

Keluarga yang harmonis adalah keluarga yang mampu menghadirkan setidaknya ada tujuh fungsi keluarga kasih sayang, pendidikan, perlindungan, dan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan buku Fondasi Keluarga Sakinah Kemenag RI.

Pesan tersebut disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Mughofar dan Zamroni Irham, dalam program Lentera Hati yang disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman pada frekuensi 96,3 FM, pada Jumat (16/10/2026) lalu.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Siaran%20Radio

Mughofar, saat mengawali dialognya mengatakan, dengan mengangkat tema “7 Fungsi Keluarga dalam Fondasi Keluarga Sakinah”, dialog ini mengajak masyarakat memahami bahwa keberhasilan rumah tangga ditentukan oleh kemampuan setiap anggota keluarga menjalankan tanggung jawabnya.

“Rumah tangga bukan sekadar tempat tinggal bersama, melainkan tempat tumbuhnya cinta, karakter, dan nilai-nilai kehidupan. Karena itu, keluarga harus dibangun dengan kesadaran untuk saling mendukung dan melengkapi,” demikian pesan yang mengemuka dalam dialog tersebut.

“Mengapa keluarga harus memahami fungsi-fungsinya?” tanya Zamroni dalam dialognya.

“Karena keluarga bukan sekadar tempat tinggal bersama. Keluarga adalah tempat pertama seseorang belajar tentang cinta, agama, tanggung jawab, dan kehidupan. Jika fungsi keluarga berjalan dengan baik, insyaallah fondasi keluarga sakinah akan semakin kuat.” Jawab Mughofar.

Lalu, apa saja tujuh fungsi keluarga yang perlu dijalankan? Zamroni melanjutkan pertanyaannya.

Pertama, menurut Mughofar, adalah fungsi biologis. Keluarga menjadi tempat menjaga keberlangsungan generasi melalui pernikahan yang sah menurut agama dan hukum negara. “Fungsi ini juga mencakup kepedulian terhadap kesehatan reproduksi agar pasangan dapat membangun kehidupan keluarga yang sehat dan bertanggung jawab,” ucapnya.

Kedua, fungsi pendidikan. “Siapa guru pertama bagi seorang anak?” Jawabannya adalah orang tua. Pendidikan tidak cukup hanya menyerahkan anak ke sekolah. Ayah dan ibu harus menjadi teladan dalam membentuk karakter, kecerdasan, akhlak, dan kesiapan mental anak. Suami, istri, dan anak juga perlu saling belajar serta berbagi pengetahuan.

Ketiga, fungsi keagamaan. “Bagaimana menjadikan rumah sebagai tempat tumbuhnya iman?” tanya Zamroni. “Mulailah dari kebiasaan sederhana: salat berjamaah, membaca Al-Qur'an, berdoa, dan membiasakan akhlak mulia. Anak lebih mudah meneladani perilaku orang tua daripada sekadar mendengarkan nasihatnya,” jelas Mughofar.

Kemudian, keempat, fungsi perlindungan. “Bukankah rumah seharusnya menjadi tempat paling aman?” Benar, kata Mughofar melanjutkan dialognya.

Menurutnya, keluarga harus memberikan perlindungan fisik, mental, sosial, dan finansial. Karena itu, hindari kekerasan, perkataan yang menyakiti, dan sikap saling merendahkan. Rumah harus menjadi tempat untuk mendapatkan ketenangan dan dukungan.

Kelima, fungsi sosialisasi. “Bagaimana anak belajar menghormati orang lain?” Dari keluarga. Anak perlu dibiasakan bersikap sopan, menghargai perbedaan, peduli kepada sesama, dan menaati norma masyarakat. Keluarga menjadi tempat pertama anak belajar hidup berdampingan dengan orang lain.

Keenam, fungsi rekreatif. “Apakah rumah sudah menjadi tempat yang nyaman untuk pulang?” Rumah ideal bukan sekadar bangunan, melainkan tempat berbagi cerita, tertawa bersama, dan melepas lelah. Kehangatan komunikasi dan kebersamaan sederhana dapat menghadirkan suasana rumahku adalah surgaku.

Ketujuh, fungsi ekonomi. “Bagaimana keluarga memenuhi kebutuhan tanpa terus-menerus dibebani persoalan keuangan?” Kuncinya adalah kerja sama, keterbukaan, dan pengelolaan keuangan yang bijak. Kebutuhan pangan, sandang, papan, dan kesehatan harus diupayakan melalui rezeki halal, disertai sikap hemat, adil, dan tidak boros.

Melalui dialog Lentera Hati, Mughofar dan Zamroni Irham menegaskan pentingnya menjadikan tujuh fungsi tersebut sebagai pedoman nyata dalam kehidupan rumah tangga. Keluarga sakinah tidak hadir dengan sendirinya, melainkan tumbuh melalui kerja sama, komunikasi yang sehat, tanggung jawab, dan keteladanan.

Pada akhirnya, keluarga yang kuat bukanlah keluarga tanpa masalah, melainkan keluarga yang mampu menghadapi masalah bersama dengan iman, kasih sayang, dan kebijaksanaan. Ketika tujuh fungsi keluarga dijalankan secara seimbang, rumah tangga diharapkan menjadi tempat tumbuhnya generasi berakhlak mulia sekaligus fondasi masyarakat yang harmonis dan sejahtera.

Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)

Pewarta: Imam Edi Siswanto 

Wahidah: Kenapa Istiqomah Mudah Diucapkan, Sulit Dipertahankan?

Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Wahidah, dalam program Lentera Hati yang disiarkan melalui LPPL Gema So...