Jumat, 02 Oktober 2026

Musalim Ridlo: Mengenal dan Memperbaiki Diri, Menjernihkan Hati (Muhasabah)

Musalim Ridlo, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, dalam siaran radio dalam program Lentera Hati LPPL Gema Soedirman 96,3 FM pekan lalu.(Foto: Musalim Ridlo)

Mengenal dan Memperbaiki Diri, Menjernihkan Hati (Muhasabah)
Oleh: Musalim Ridlo
Editor: Imam Edi Siswanto


PURBALINGGA – Mengenal diri sendiri bukan perkara sederhana. Seseorang mungkin merasa dirinya sabar, sementara orang terdekat justru melihatnya mudah tersinggung. Ada pula yang merasa telah menjadi pendengar yang baik, tetapi tanpa disadari sering memotong pembicaraan orang lain. Perbedaan cara melihat diri inilah yang menjadi salah satu pintu masuk penting untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri.

Hal tersebut disampaikan Musalim Ridlo, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, dalam program Lentera Hati yang disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman 96,3 FM pekan lalu.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search?q=siaran+radio


Dalam materi bertema “Muhasabah Diri: Mengenal Diri, Memperbaiki Hati”, ia mengajak masyarakat untuk berani melihat ke dalam diri, menerima nasihat, serta menjadikan evaluasi diri sebagai bagian dari kehidupan seorang Muslim.

Salah satu konsep yang dapat digunakan sebagai sarana refleksi adalah Johari Window atau Jendela Johari, sebuah konsep dalam psikologi komunikasi yang dikembangkan oleh Joseph Luft dan Harrington Ingham. Konsep ini membagi diri manusia ke dalam empat wilayah berdasarkan apa yang diketahui oleh diri sendiri dan apa yang diketahui oleh orang lain.

Empat Sisi Diri yang Perlu Dikenali
Pertama, Open Area, yaitu bagian diri yang diketahui oleh diri sendiri sekaligus diketahui orang lain. Wilayah ini berkaitan dengan keterbukaan dan kejujuran. Namun, keterbukaan tetap membutuhkan kebijaksanaan karena tidak semua hal dalam kehidupan harus disampaikan kepada publik.

Kedua, Blind Area, yaitu sisi diri yang diketahui orang lain tetapi tidak disadari oleh diri sendiri. Kritik atau nasihat dari orang lain terkadang dapat menjadi cermin untuk melihat kekurangan yang selama ini tidak kita sadari. Karena itu, tidak semua koreksi harus dipandang sebagai penghinaan. Bisa jadi, melalui orang lain Allah menunjukkan sesuatu yang perlu kita perbaiki.

Ketiga, Hidden Area, yaitu hal-hal yang kita ketahui tentang diri sendiri tetapi tidak diketahui orang lain. Wilayah ini berkaitan dengan pengalaman, kelemahan, maupun persoalan pribadi. Di era media sosial, menjaga privasi menjadi semakin penting. Tidak semua masalah harus dipublikasikan dan tidak semua kesedihan harus menjadi konsumsi publik. Bijaksana berarti mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus menjaga sesuatu tetap menjadi ruang pribadi.

Keempat, Unknown Area, yaitu potensi diri yang belum diketahui oleh diri sendiri maupun orang lain. Seseorang terkadang baru menemukan kemampuan dan kekuatannya ketika menghadapi tantangan. Karena itu, jangan terlalu cepat mengatakan, “Saya tidak bisa.” Bisa jadi, kemampuan tersebut belum pernah mendapatkan kesempatan untuk berkembang.

Muhasabah: Berani Bercermin kepada Diri
Konsep tersebut dapat menjadi sarana untuk memahami pentingnya muhasabah dalam Islam. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 18 agar setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk menghadapi hari esok.

Muhasabah berarti berhenti sejenak, melihat kembali perilaku, mengevaluasi kekurangan, kemudian memperbaikinya. Kita tidak hanya bertanya, “Mengapa dia tidak memahami saya?”, tetapi juga berani bertanya, “Apakah saya sudah berusaha memahami orang lain?”

Demikian pula, bukan hanya bertanya, “Mengapa orang lain tidak menghargai saya?”, tetapi juga, “Apakah saya sudah menghargai orang lain?”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat mengubah cara kita memandang kehidupan. Muhasabah mengajarkan kita untuk tidak terlalu sibuk mencari kesalahan orang lain, tetapi berani melakukan evaluasi terhadap diri sendiri.

Mengenal Diri untuk Semakin Dekat kepada Allah
Pada akhirnya, manusia mungkin tidak sepenuhnya mengenal dirinya sendiri. Orang lain pun tidak akan pernah mengetahui seluruh sisi kehidupan kita. Allah SWT-lah yang paling mengetahui apa yang tampak maupun yang tersembunyi.

Karena itu, mengenal diri dalam perspektif Islam tidak berhenti pada pertanyaan “Siapa saya?”, tetapi berlanjut pada pertanyaan yang lebih mendalam: “Siapa saya di hadapan Allah?”

Kalam yang populer dalam tradisi spiritual Islam, “Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbahu”—“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya” dapat menjadi bahan renungan. Ketika menyadari keterbatasan diri, manusia belajar rendah hati dan semakin menyadari kebutuhannya kepada pertolongan Allah SWT.

Muhasabah pada akhirnya bukan sekadar bercermin untuk melihat wajah, tetapi bercermin untuk melihat hati. Mengenali kelebihan tanpa menjadi sombong, menerima kekurangan tanpa kehilangan harapan, menerima nasihat tanpa merasa direndahkan, serta terus memperbaiki diri tanpa harus menunggu orang lain berubah.

Sebab, perubahan yang bermakna sering kali dimulai ketika seseorang berani jujur melihat dirinya sendiri.

Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)

Nia Melawati: Islam KTP atau Islam Sejati?

Nia Melawati, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, saat siaran radioa dalam program Lentera Hati yang disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman 96,3 FM, pekan lalu. (Foto: Nia M) 

Islam KTP atau Islam Sejati?
(Menghidupkan Iman dalam Akidah, Ibadah, dan Akhlak)
Oleh: Nia Melawati
Editor: Imam Edi Siswanto


PURBALINGGA – Nikmat terbesar yang patut disyukuri seorang Muslim bukan hanya harta, kesehatan, jabatan, maupun berbagai kenikmatan dunia, tetapi juga nikmat iman dan Islam. Sebab, iman dan Islam menjadi landasan dalam menjalani kehidupan agar setiap nikmat, ujian, amanah, dan kesalahan dapat disikapi sesuai tuntunan Allah SWT.

Demikian disampaikan Nia Melawati, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, pekan kemarin dalam program Lentera Hati yang disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman 96,3 FM. 

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search?q=siaran+radio 

Nia mengangkat tema “Islam KTP atau Islam Sejati”, sebagai bahan refleksi agar umat Islam tidak berhenti pada identitas, tetapi menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, iman memberikan keyakinan bahwa kehidupan memiliki tujuan dan setiap amal akan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Sementara Islam memberikan pedoman dalam membangun hubungan dengan Allah, sesama manusia, maupun seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Kekayaan, jabatan, ilmu, dan kesehatan memang merupakan nikmat yang patut disyukuri. Namun, semua itu belum tentu menghadirkan ketenangan dan keselamatan hakiki apabila tidak dibarengi iman. 

Sebaliknya, iman dan Islam mengajarkan seorang Muslim untuk bersyukur ketika mendapatkan nikmat, bersabar ketika menghadapi ujian, bertanggung jawab ketika menerima amanah, serta segera bertaubat ketika melakukan kesalahan.

Islam Bukan Sekadar Identitas
PAI yang bertugas di KUA Kertanegara ini, mengajak pendengar untuk merenungkan satu pertanyaan penting: Apakah menjadi Muslim cukup hanya dengan memiliki identitas sebagai seorang Islam?

Jawabannya tentu tidak. Islam bukan hanya identitas, tetapi harus menjadi nilai yang hidup dalam diri dan tercermin dalam perilaku.

Identitas menunjukkan siapa seseorang, sedangkan penghayatan terhadap Islam menunjukkan bagaimana nilai-nilai agama benar-benar diyakini dan diamalkan. Karena itu, seorang Muslim tidak cukup hanya mengaku beriman, tetapi perlu membuktikan keimanannya melalui keyakinan, ibadah, akhlak, dan perilaku sosial.

Iman harus hidup dalam akidah, yaitu keyakinan yang kokoh kepada Allah SWT. Islam harus diwujudkan dalam syariah, melalui ketaatan terhadap aturan dan tuntunan agama. 

Sementara itu, keimanan dan ketaatan tersebut harus tercermin dalam akhlak, baik dalam hubungan dengan keluarga, masyarakat maupun lingkungan.
Menjadikan Islam Pedoman Hidup

Tema “Islam KTP atau Islam Sejati” pada akhirnya bukan untuk memberikan label kepada seseorang, melainkan menjadi cermin untuk melakukan introspeksi diri. Setiap Muslim perlu bertanya kepada dirinya sendiri: sejauh mana Islam telah memengaruhi cara berpikir, berbicara, beribadah, bekerja, bermuamalah, dan memperlakukan orang lain?

Menjaga nikmat iman dan Islam berarti terus belajar, memperbaiki ibadah, memperkuat akidah, memperindah akhlak, serta berusaha menghadirkan nilai-nilai Islam dalam setiap aktivitas kehidupan.

Dengan demikian, Islam tidak berhenti sebagai identitas yang tertulis dalam administrasi, tetapi menjadi pedoman hidup yang nyata. Seorang Muslim diharapkan mampu menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, memiliki kehidupan yang terarah, serta memberikan manfaat bagi sesama.

Melalui materi tersebut, Nia Melawati mengajak masyarakat untuk senantiasa mensyukuri nikmat iman dan Islam dengan cara menjaganya, mengamalkannya, dan menghadirkannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Sebab, menjadi Muslim bukan sekadar tentang siapa kita menurut identitas, tetapi tentang bagaimana nilai Islam benar-benar hidup dalam diri dan terpancar melalui amal serta akhlak.

Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*) 

Kamis, 01 Oktober 2026

Ngatour Rokhman: Menghidupkan Iman, Merawat Bumi, dan Menebar Manfaat

PAI Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Ngatour Rokhman, dari KUA Kemangkon, menyampaikan materi keagamaan dalam program Lentera Hati melalui siaran radio LPPL Gema Soedirman 96,3 FM dengan tema “Manusia sebagai Khalifah Fil Ardi.” (Foto: Ngatour Rokhman)
Menghidupkan Iman, Merawat Bumi, dan Menebar Manfaat (Khalifah Fil Ardi) 
Oleh: Ngatour Rokhman
Editor: Imam Edi Siswanto

Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Ngatour Rokhman, dari KUA Kemangkon, menyampaikan materi keagamaan dalam program Lentera Hati melalui siaran radio LPPL Gema Soedirman 96,3 FM dengan tema “Manusia sebagai Khalifah Fil Ardi.”

Materi tersebut mengajak masyarakat untuk memahami kembali hakikat manusia sebagai makhluk yang diberi amanah oleh Allah SWT untuk memakmurkan bumi dengan iman, ilmu, ketakwaan, dan kebaikan. Berikut rangkumannya. 

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search?q=siaran+radio

Manusia Bukan Sekadar Penghuni Bumi
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 30 bahwa manusia dijadikan sebagai khalifah di bumi. Khalifah dapat dimaknai sebagai pengganti, wakil, atau pengelola. 

Artinya, manusia tidak hanya menjalani kehidupan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan alam, menciptakan kedamaian, serta menjalankan kehidupan sesuai kehendak Allah SWT.

Potensi manusia untuk menjadi khalifah sangat besar. Allah membekali manusia dengan akal, ilmu, kemampuan berpikir, dan kebijaksanaan. Namun, kedudukan tersebut bukanlah hak istimewa untuk bertindak sesuka hati. 

Kekhalifahan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. QS. Al-Ahzab: 72 menggambarkan betapa beratnya amanah tersebut sehingga manusia dituntut memiliki ilmu, kesadaran, dan ketakwaan dalam menjalankannya.

Dua Pilar Kekhalifahan: Ibadah dan Memakmurkan Bumi
Sebagai khalifah, manusia memiliki dua tugas yang tidak dapat dipisahkan. Pertama, ibadah kepada Allah SWT. QS. Az-Zariyat: 56 menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. 

Ibadah tidak hanya berupa salat, puasa, dan zakat, tetapi juga berbagai aktivitas kehidupan yang dilakukan dengan niat karena Allah dan sesuai dengan syariat. Pedagang yang jujur, guru yang ikhlas, dan pemimpin yang adil merupakan contoh bagaimana aktivitas kehidupan dapat menjadi bagian dari ibadah.

Kedua, imarah atau memakmurkan bumi. Dalam QS. Hud: 61, Allah SWT menjelaskan bahwa manusia diberi tugas untuk memakmurkan bumi. Karena itu, manusia hendaknya mengembangkan ilmu pengetahuan, mengelola sumber daya secara bijaksana, membangun peradaban, dan menghadirkan manfaat bagi kehidupan.

Menjaga Alam adalah Bagian dari Amanah
Kerusakan lingkungan menjadi salah satu tantangan besar dalam menjalankan fungsi kekhalifahan. Allah SWT mengingatkan dalam QS. Ar-Rum: 41 bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat perbuatan manusia.

Kesadaran sebagai khalifah mendorong kita untuk menjaga lingkungan melalui tindakan sederhana: tidak membuang sampah sembarangan, menghemat air, menjaga pepohonan, serta tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan. Merawat bumi merupakan bagian dari tanggung jawab manusia kepada Allah SWT.

Menjadi Khalifah Dimulai dari Lingkungan Terdekat
Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut mengingatkan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab sesuai lingkupnya. Ayah bertanggung jawab terhadap keluarga, ibu berperan dalam mengatur rumah tangga dan mendidik generasi, sementara pemimpin bertanggung jawab terhadap amanah masyarakat. 

Dengan demikian, kekhalifahan bukan semata-mata tentang jabatan, melainkan tentang tanggung jawab dan keteladanan.

Bijak Menggunakan Teknologi
Di era digital, fungsi kekhalifahan menghadapi tantangan baru. Kecerdasan buatan, media sosial, dan kemajuan ilmu pengetahuan perlu dikelola dengan nilai-nilai ketuhanan. 

Teknologi hendaknya menjadi sarana untuk menyebarkan ilmu, dakwah, dan kebaikan, bukan untuk mencaci, menyebarkan fitnah, atau merusak kehidupan sosial.

Karena itu, manusia masa kini perlu melek teknologi sekaligus memiliki rem spiritual. Kemajuan materi harus berjalan seiring dengan kemajuan iman dan akhlak agar teknologi benar-benar menjadi sarana kemaslahatan.

Setiap Amanah Akan Dipertanggungjawabkan
Pada akhirnya, seluruh perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawaban. QS. Az-Zalzalah: 6–8 mengingatkan bahwa kebaikan maupun keburukan sekecil apa pun akan diperlihatkan balasannya. 

Karena itu, setiap kesempatan, ilmu, harta, kesehatan, jabatan, dan kemampuan yang diberikan Allah hendaknya digunakan untuk menghadirkan manfaat.

Menjadi khalifah fil ardi berarti tidak sekadar hidup di bumi, tetapi ikut merawatnya; tidak hanya menikmati kehidupan, tetapi memberikan manfaat bagi sesama. Mari membangun kehidupan dengan iman, keadilan, kepedulian terhadap lingkungan, dan akhlak mulia. 

Dengan demikian, kehadiran kita menjadi rahmat bagi keluarga, masyarakat, dan lingkungan, serta menjadi bekal kebaikan ketika kelak kembali menghadap Allah SWT. 

Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*) 

Tasyati Ertiningsih: Merawat Fitrah Kesucian Jiwa, Menjaga Benih Kebaikan Sejak Dini

PAI Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Tasyati Ertiningsih, dalam program siaran Lentera Hati di LPPL Radio Gema Soedirman 96,3 FM. (Foto: Tasyati)

Merawat Fitrah Kesucian Jiwa, Menjaga Benih Kebaikan Sejak Dini 
Oleh: Tasyati Ertiningsih
Editor: Imam Edi Siswanto
Manusia terlahir ke dunia layaknya lembaran putih yang bersih. Mereka belum mengenal harta, jabatan, permusuhan, maupun kesombongan duniawi. Konsep kesucian asal inilah yang disebut sebagai fitrah.
Pesan mendalam mengenai hakikat kesucian manusia ini disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Tasyati Ertiningsih, dalam program siaran Lentera Hati di LPPL Radio Gema Soedirman 96,3 FM. 
Melalui mimbar udara tersebut, ia mengajak seluruh pendengar untuk merenungkan kembali potensi dasar yang dibawa manusia sejak lahir dan bagaimana cara merawatnya di tengah tantangan zaman. Berikut rangkuman materi yang telah kami susun dan lebih sederhana.
1. Makna Fitrah: Potensi Tauhid dan Kebaikan
Dalam QS. Ar-Rum ayat 30, Allah SWT menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan naluri beragama, yaitu agama tauhid. Terjemahan Kementerian Agama menggarisbawahi bahwa fitrah bukan sekadar kondisi "anak kecil yang masih suci", melainkan potensi dasar yang Allah tanamkan dalam diri manusia untuk mengenal kebenaran, mencintai kebaikan, dan cenderung pada jalan yang lurus.
Islam memandang manusia sebagai makhluk yang pada dasarnya baik. Namun, potensi ini ibarat sebuah benih. Benih yang unggul hanya akan tumbuh subur dan berbuah manis jika ditanam di tanah yang baik, disiram, dirawat, serta mendapat cahaya matahari yang cukup.
2. Lingkungan dan Tantangan Menjaga Amanah
Merujuk pada hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah.” Hadis ini juga menjelaskan bahwa lingkungan dan orang tualah yang kemudian membentuk arah keyakinan dan karakter anak.
Dari tuntunan ini, terdapat pelajaran besar bahwa anak adalah amanah pendidikan, bukan sekadar tambahan anggota keluarga. Fitrah anak tidak hanya membutuhkan asupan fisik, tetapi juga:
  • Kasih sayang yang tulus
  • Lingkungan dan pergaulan yang sehat
  • Pendidikan agama yang kuat
  • Keteladanan nyata dari orang tua
Anak adalah peniru yang ulung. Mereka belajar bukan dari apa yang kita katakan, melainkan dari apa yang mereka lihat sehari-hari di dalam rumah.
3. Ikhtiar Merawat Jiwa (Tazkiyatun Nafs)
Seiring bertambahnya usia, manusia dihadapkan pada pilihan, hawa nafsu, ego, dan berbagai godaan dunia. Itulah mengapa manusia dibekali akal, hati, dan petunjuk agama. Menjaga fitrah bukan hanya tugas orang tua kepada anaknya, melainkan kewajiban setiap individu dewasa melalui proses tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa).
Empat langkah utama untuk menjaga agar fitrah tetap hidup dan hubungan dengan Allah SWT tetap kokoh meliputi:
  1. Menjaga Shalat: Sebagai media komunikasi vertikal dan sarana mengingat Allah, baik dalam kondisi lapang maupun sempit.
  2. Membaca dan Memahami Al-Qur'an: Menjadikan kitab suci sebagai kompas dan petunjuk hidup sehari-hari.
  3. Memperbanyak Dzikir dan Doa: Menjaga hati agar tetap tenang dan terhubung dengan Sang Pencipta.
  4. Menjauhi Penyakit Hati: Membentengi diri dari sifat iri, dengki, dan sombong yang dapat mengotori kesucian jiwa.
Ketika hati dijaga dalam kondisi bersih, maka seluruh perilaku dan tutur kata manusia secara otomatis akan memancarkan kebaikan. Mendidik dan menjaga fitrah adalah investasi jangka panjang demi keselamatan di dunia dan akhirat.
Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*) 

Musalim Ridlo: Mengenal dan Memperbaiki Diri, Menjernihkan Hati (Muhasabah)

Musalim Ridlo, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, dalam siaran radio dalam program Lentera Hati LPPL Gema S...