Senin, 01 Desember 2025

HIV/AIDS: Fenomena Global dan Fitnatul-Hayat, serta Ikhtiar Pencegahannya dalam Perspektif Islam

HIV/AIDS: Fenomena Global dan Fitnatul-Hayat, serta Ikhtiar Pencegahannya dalam Perspektif Islam
(judul asli: Refleksi Hari AIDS Sedunia: HIV AIDS Azab Tuhan atau Ujian Kehidupan)
Oleh: Yuyu Yuniawati (PAIF KUA Padamara Purbalingga)
Editor: Imam Edi Siswanto


Salah satu persoalan kesehatan dunia yang belum menemukan titik terang hingga kini adalah HIV/AIDS. Kasusnya telah menyebar hampir ke seluruh negara, termasuk Indonesia. 

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/YUYU%20YUNIAWATI

Walaupun penelitian medis berjalan puluhan tahun, hingga saat ini belum ditemukan obat yang dapat memusnahkan virus HIV maupun vaksin untuk mencegahnya. Obat ARV yang digunakan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) hanya berfungsi menekan perkembangan virus agar tidak merusak sistem kekebalan tubuh.

Momentum Hari AIDS Sedunia (1 Desember) menjadi kesempatan untuk meningkatkan kewaspadaan, edukasi, serta memperkuat komitmen bersama dalam pencegahan HIV/AIDS.

Perkembangan Kasus HIV/AIDS
Secara global, kasus HIV/AIDS pertama ditemukan di Kinshasha, Kongo, tahun 1959, dan kemudian teridentifikasi pada seorang remaja di Missouri, Amerika Serikat. Di Indonesia, kasus pertama dilaporkan tahun 1987 pada seorang turis asal Belanda berinisial EGH, dan sejak itu Indonesia menjadi negara ke-13 di Asia yang melaporkan adanya kasus HIV/AIDS.

Seiring berjalannya waktu, jumlah kasus meningkat signifikan. Berdasarkan laporan Ditjen P2P Kemenkes RI, sejak tahun 1987 hingga 30 Juni 2019 terdapat 558.618 kasus kumulatif HIV/AIDS di Indonesia.

Di Jawa Tengah, kasus pertama ditemukan tahun 1993 di Kabupaten Pemalang. Hingga pertengahan 2025 tercatat 22.410 orang terinfeksi HIV/AIDS, dengan kasus baru terbanyak pada kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL).

Di Kabupaten Purbalingga, data KPAD menunjukkan bahwa pada rentang 2010–2022 terdapat 666 kasus, dengan 239 di antaranya meninggal dunia.

Seperti gunung es, angka kasus yang tercatat kemungkinan jauh lebih kecil daripada kasus sebenarnya. Hal ini memperkuat pentingnya deteksi dini dan edukasi berkelanjutan. 

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Artikel%20Penyuluh

Siapa yang Berisiko?
Penting untuk dipahami bahwa HIV tidak hanya menjangkiti kelompok berperilaku berisiko, tetapi dapat menimpa siapa saja jika terjadi kontak dengan cairan tubuh tertentu, yaitu:
1. Sperma melalui hubungan seksual berisiko,
2. Darah melalui jarum suntik atau transfusi yang tidak steril,
3. ASI dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya.

Banyak kasus dialami oleh:
· anak-anak yang tertular dari ibu,
· ibu rumah tangga yang tertular dari suami,
· petugas medis yang tertusuk jarum tidak sengaja.

Karena itu, HIV tidak menular melalui interaksi sosial seperti bersalaman, makan bersama, atau berdekatan.

Perspektif Islam: HIV/AIDS sebagai Ujian Kehidupan
Dalam pandangan agama, munculnya HIV/AIDS tidak semata-mata dipahami sebagai hukuman bagi pelaku maksiat. Al-Qur’an menegaskan bahwa ujian dapat menimpa siapa pun, termasuk orang yang taat beribadah.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anfal [8]: 25: “Dan waspadalah terhadap suatu fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”

Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga kebersihan lahir dan batin, menjauhi perbuatan yang menimbulkan mudarat, termasuk zina dan perbuatan yang mendekatinya sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Isra’ [17]: 32: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”

Ikhtiar Pencegahan Menurut Ajaran Islam dan Kebijakan Pemerintah
Sebagai bentuk menjaga diri dan keluarga, beberapa upaya berikut perlu ditegakkan:
1. Meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya (QS. Al-Maidah: 35).
2. Menjauhi perbuatan zina dan seks bebas yang menjadi salah satu faktor risiko penularan HIV.
3. Membiasakan pola hidup sehat, menjauhi miras, narkoba, serta perilaku lain yang merusak diri.
4. Selektif dalam bergaul, serta tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan negatif.
5. Mendukung kebijakan pemerintah, seperti:

o Program VCT (Voluntary Counselling and Testing) untuk konseling dan tes HIV secara sukarela.
o Perbup Purbalingga No. 50 Tahun 2019 tentang konseling dan tes HIV bagi calon pengantin  sebagai langkah deteksi dini dan edukasi pranikah.

Upaya ini tidak hanya menjadi ikhtiar kesehatan, tetapi juga bagian dari amal saleh dan bentuk kepedulian sosial.

Penutup
Menyadari besarnya ancaman HIV/AIDS, seluruh elemen masyarakat perlu bersinergi dalam pencegahan, edukasi, dan pendampingan bagi ODHA tanpa stigma. Islam mengajarkan kasih sayang, kepedulian, dan upaya menjaga kehidupan. Dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh serta kesadaran kolektif, kita berharap dapat memutus rantai penularan HIV/AIDS dan mewujudkan masyarakat yang sehat, berdaya, dan berkeadaban.(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Penyuluh Agama KUA Karangreja Tekankan Pentingnya Sholat Lima Waktu pada Siswa MTs Ma’arif NU Gondang

PAI KUA Karangreja, Ngamali, S.H. , saat menyampaikan pesan keagamaan dalam peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang digelar di MTs Ma...