Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Oktober 2025

#4 (Habis) Cerpen Kopi Senja

Ilustrasi by IES

#4 (Habis) Cerpen Kopi Senja: Menulis untuk Perubahan
Penulis: Imam Edi Siswanto

Senja mulai turun di Purbalingga, menyinari ruang kerja kecil di kantor D’Japri yang kini terasa lebih hangat dan penuh semangat. Imam dan Sayono duduk berdampingan, memandang layar laptop yang menampilkan tulisan-tulisan hasil karya para kontributor setelah workshop.

“Lihat, Mas,” kata Sayono, menunjuk ke layar. “Sekarang alur narasinya sudah mulai rapi dan mudah dipahami.”

Imam tersenyum. “Ini bukan cuma soal teknis menulis, tapi soal bagaimana kita menyampaikan cerita yang penting bagi banyak orang. 

Tulisan yang jernih, akurat, dan bertanggung jawab bisa membuka mata, menginspirasi, bahkan menggerakkan perubahan. karena lahir dari buah pikiran yang ikhlas, dari hati dan niat yang baik” ucapnya.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/2025/10/3-cerpen-kopi-pagi-workshop-mini-dan.html 

Ilustrasi by IES
Sayono mengangguk, “Ya, kita bukan sekadar menulis berita, tapi membangun budaya literasi yang baik. Dari ruang kecil ini, dari secangkir kopi dan semangat sederhana, D’Japri tumbuh jadi rumah cerita yang bermakna.”

Keduanya pun kembali menyiapkan panduan, mengedit artikel, dan menyiapkan langkah berikutnya, membawa berita positif dan bermutu ke tangan pembaca, satu kata, satu kalimat, satu paragraf pada satu waktu.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Cerpen

Sebagai penutup cerpen Kopi Siang Dua Editor, berikut rangkuman Panduan Mini Menulis Berita Positif.

  1. Judul yang Informatif dan Padat
    Buat judul yang singkat, jelas, dan menggambarkan isi berita secara akurat. Hindari judul clickbait atau terlalu panjang.
  2. Struktur Piramida Terbalik
    Informasi terpenting (5W+1H: What, Who, When, Where, Why, How) harus ada di paragraf pertama atau kedua. Detail pendukung ditulis setelahnya.
  3. Gunakan Bahasa Indonesia Baku
    Pastikan menggunakan kata dan ejaan sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Hindari kata yang tidak baku seperti ‘menginfokan’ atau ‘mensikapi’.
  4. Kutipan yang Jelas dan Lengkap
    Cantumkan nama narasumber, jabatan, dan pernyataan yang relevan. Kutipan membuat berita lebih hidup dan dapat dipercaya.
  5. Tanggal, Lokasi, dan Konteks Jelas
    Tuliskan kapan dan di mana peristiwa terjadi serta latar belakangnya agar pembaca mendapat gambaran lengkap.
  6. Caption dan Visual Pendukung
    Untuk media sosial atau blog, buat caption yang informatif, relevan, dan sertakan foto atau infografis bila memungkinkan.
  7. Periksa Kembali Tulisan
    Selalu baca ulang untuk memperbaiki kesalahan ejaan, tata bahasa, dan memastikan keakuratan informasi sebelum dipublikasikan.
  8. Tanggung Jawab Moral
    Menulis berita bukan hanya soal teknis, tapi juga soal integritas dan menyebarkan informasi yang benar dan bermanfaat. 

Sebagai tambahan, menulis juga tidak sekedar mengandalkan teknologi seperti Artificial Intellegence (AI) atau sejenisnya, namun lahir dari kemurnian pengetahuan, asumsi dan analisa pikiran manusia serta dukungan referensi dan data falid.

Terimakasih pembaca setia blog IPARI Purbalingga, berharap cerita pendek dari 4 episode ada manfaatnya untuk berbagi pengalaman kejurnalistikan, dan tetap semangat dan produktif berbagi informasi inspiratif, positif dan mencerahkan.(*) 

#3 Cerpen Kopi Pagi: Workshop Mini dan Cerita dari Para Kontributor

Ilustrasi by IES

#3 Cerpen Kopi Pagi: Workshop Mini dan Cerita dari Para Kontributor
Penulis: Imam Edi Siswanto

Hari Sabtu pagi, aula kantor D’Japri sudah mulai ramai. Kursi-kursi berjajar rapi, dan di depan, layar proyektor siap menampilkan slide panduan menulis yang beberapa hari lalu disusun Imam dan Sayono. Para kontributor muda hadir dengan semangat berbeda-beda, ada yang antusias, ada juga yang masih ragu.

Imam membuka acara dengan senyum hangat. “Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh, Selamat pagi, teman-teman! Hari ini kita akan berbagi tips dan trik menulis berita sesuai kaidah jurnalistik untuk website dan blog komunitas kita. Jangan khawatir, ini bukan ujian, tapi ajang belajar bersama.” 

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/2025/10/cerpen-kopi-siang-dua-editor.html

Sayono melanjutkan dengan menjelaskan satu per satu poin penting panduan mini yang telah mereka buat. Slide pertama memperlihatkan judul-judul sederhana namun efektif, contoh judul yang langsung menangkap esensi berita. Para peserta mencatat dengan serius, sesekali mengangguk. 

Ilustrasi by IES

Setelah pemaparan materi, Imam mengajak peserta untuk latihan menulis paragraf pembuka dengan metode piramida terbalik.

“Saya akan berikan sebuah kasus sederhana,” kata Imam. “Bayangkan ada acara pelatihan menulis di desa kalian. Tulislah paragraf pembuka yang mengandung informasi penting, seperti siapa, apa, kapan, dan di mana.” 

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/2025/10/2-cerpen-kopi-sore-karena-yang-kita.html

Seorang kontributor muda bernama Hendra mengangkat tangan. “Begini, Mas: ‘Pada Minggu, 19 Oktober 2025, Komunitas D’Japri menggelar pelatihan penulisan berita di Aula Gedung IPARI Purbalingga, yang diikuti oleh 30 peserta.”

Imam tersenyum puas. “Bagus, Hendra! Kamu sudah meletakkan informasi utama di depan. Ini sangat penting supaya pembaca langsung tahu inti berita.”

Giliran Rafi, kontributor pemula lain, menulis paragraf yang terlalu panjang dan berbelit-belit. Sayono dengan sabar memberikan masukan, “Rafi, coba fokus ke fakta utama dulu, baru sisipkan detail lainnya di paragraf selanjutnya. Jangan lupa gunakan kalimat aktif dan bahasa yang mudah dipahami.”

Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Beberapa peserta mengeluhkan sulitnya menghilangkan kebiasaan menulis seperti cerita narasi panjang atau opini yang tidak terstruktur. Imam dan Sayono saling melengkapi penjelasan dengan contoh sederhana yang bisa langsung dipraktikkan.

“Selain itu, ingat selalu untuk mengecek ejaan dan kata baku,” kata Sayono sambil menunjukkan daftar kata umum yang sering keliru, seperti ‘menginfokan’ menjadi ‘memberi informasi’ dan ‘mensikapi’ menjadi ‘menyikapi’ sesuai KBBI.

Workshop berlanjut dengan latihan membuat judul dan caption media sosial. Di sesi ini, banyak yang tertawa saat Imam memperagakan judul berlebihan ala “YouTuber,” kemudian membandingkannya dengan judul berita yang efektif.

Di sela-sela istirahat, beberapa peserta berbagi cerita tentang kesulitan dan pengalaman mereka menulis. Hendra bercerita tentang bagaimana awalnya ia merasa canggung menulis berita karena terbiasa dengan gaya cerita bebas di media sosial.

“Saya kira menulis berita itu harus kaku dan formal, ternyata tidak. Cukup jelas dan benar,” ujarnya.

Rafi menambahkan, “Kalau dulu saya malas baca ulang tulisan saya, sekarang jadi rajin. Karena kalau tidak, bisa salah informasi.”

Sayono tersenyum. “Itulah salah satu hasil dari workshop kita. Menulis itu proses, dan kita semua belajar bersama.”

Di akhir sesi, Imam dan Sayono membagikan panduan mini dalam bentuk PDF dan template ceklis untuk para kontributor. Mereka juga mengumumkan rencana pertemuan rutin untuk berbagi pengalaman menulis dan saling memberi masukan.

“Semoga dengan ini, D’Japri semakin solid dalam menyebarkan berita yang akurat, bermanfaat, dan beretika,” tutup Imam.

Kegiatan selesai, tapi semangat belajar dan berbagi tak berakhir. Di ruang kecil beraroma teh dan kopi, mimpi komunitas D’Japri membangun rumah digital yang penuh tulisan bermutu semakin nyata.(*)

Rabu, 15 Oktober 2025

#2 Cerpen Kopi Sore: Karena yang Kita Bangun Bukan Hanya Konten, Tapi Budaya Literasi

Iustrasi by IES

Cerpen Kopi Sore: Karena yang Kita Bangun Bukan Hanya Konten, Tapi Budaya Literasi
Penulis: Imam Edi Siswanto

Setelah jam makan siang, langit Purbalingga mulai mendung. Angin berembus pelan melewati kisi-kisi jendela ruang kecil itu, membawa aroma tanah yang basah. Di meja yang sama, Imam dan Sayono kembali duduk, kali ini ditemani laptop masing-masing yang menyala. Kopi panas dan teh hangat ikut menemaninya.

“Mas Imam, kita mulai saja ya nyusun panduan mini itu. Saya sudah siapkan draft kerangka dasarnya,” kata Sayono, sambil memutar laptop ke arah Imam. 

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/2025/10/cerpen-kopi-siang-dua-editor.html

Di layar terlihat dokumen berjudul "Panduan Menulis Berita D’Japri – Edisi Komunitas". Beberapa poin sudah tersusun rapi.

1. Judul Harus Informatif, Singkat, dan Sesuai Isi
2. Gunakan Struktur Piramida Terbalik
3. Terapkan Kaidah 5W + 1H (What, Who, When, Where, Why, How)
4. Gunakan Bahasa Indonesia Baku Sesuai KBBI
5. Cantumkan Sumber Data atau Kutipan
6. Perhatikan Tanggal, Lokasi, dan Konteks Kegiatan
7. Sisipkan Foto atau Visual Pendukung (Jika Ada)
8. Buat Caption foto yang Informatif dan Relevan serta memenuhi 5W + 1H 

Iustrasi Kopi dan Teh Panas

Imam mengangguk pelan. “Bagus ini. Kita jelaskan juga satu-satu ya, dengan contoh konkret. Misalnya soal piramida terbalik, kita bisa kasih contoh berita yang urutannya masih cerita naratif, padahal harusnya langsung ke poin.”

Sayono menambahkan bagian baru di bawah poin nomor 2. 
Contoh yang Kurang Tepat, seperti.
“Pada hari Minggu pagi yang cerah, para peserta berkumpul dengan semangat di aula Gedung IPARI Purbalingga. Mereka datang untuk mengikuti pelatihan menulis yang diadakan oleh IPARI…”

Contoh yang Lebih Tepat.
“IPARI menggelar pelatihan penulisan berita di Aula Gedung IPARI Purbalingga, Minggu (19/10/2025). Kegiatan ini diikuti oleh 40 peserta dari berbagai desa di Purbalingga.”

“Jadi yang utama dulu, siapa berbuat apa, di mana, dan kapan,” ujar Imam sambil mengetik cepat. “Nanti setelah paragraf pembuka, baru masuk ke latar belakang, narasumber, kutipan, dan kesan peserta.”

Sayono menambahkan catatan kecil di bawah dokumen:
Catatan:
Jangan menunda informasi penting di paragraf akhir. Pembaca blog atau media daring cenderung membaca cepat. Bila informasi utama tidak muncul di awal, bisa jadi mereka tidak membaca sampai selesai.

Imam mengangguk sambil tersenyum. “Masukkan yang sangat penting. Sekarang bagian kutipan. Kadang teman-teman hanya menulis: ‘Menurut narasumber, kegiatan ini bermanfaat.’ Padahal siapa narasumbernya, jabatannya apa, dan ucapannya bagaimana, itu yang bikin berita hidup.”

Sayono lalu menambahkan contoh:
Contoh Kutipan yang Lengkap:
Ketua IPARI Purbalingga, Hikam Aziz, mengatakan, “Kami berharap pelatihan ini meningkatkan kemampuan menulis berita teman-teman kontributor, agar bisa lebih tajam, padat, dan terpercaya.”

Tak terasa, hujan turun pelan. Rintiknya mengisi keheningan sejenak. Imam berdiri, mengambil camilan dari dapur, singkong goreng dan sambal kecap. Ia kembali ke meja dan meletakkannya di tengah.

“Kita butuh satu sesi juga buat gaya penulisan visual, flyer, infografis, atau caption IG. Itu penting biar semua platform kita konsisten.”

Sayono menyambut ide itu, menambahkan satu sub judul baru: "Gaya Bahasa Visual dan Caption di Media Sosial". Di bawahnya ia menulis.

· Hindari bahasa berlebihan seperti “luar biasa heboh”, “bikin geger”, atau “bongkar rahasia”.
· Fokus pada informasi pokok, siapa, kegiatan apa, kapan, di mana.
· Sertakan tagar komunitas dan kontak jika relevan.
· Gunakan kalimat aktif dan positif.

“Mas Imam, ini kalau selesai kita buat jadi e-book mini atau template PDF, lalu kita share ke grup kontributor. Bisa juga kita buat versi PowerPoint-nya buat pelatihan singkat.”

Imam mengangguk puas. “Lanjutkan, Mas. Saya bantu revisi bagian gaya penulisan dan nanti saya tambahkan lembar cek akhir atau checklist sebelum tayang.”

Mereka bekerja dalam diam selama beberapa menit, hanya terdengar ketikan keyboard dan suara hujan yang semakin deras.

Di ujung halaman, Imam menambahkan satu paragraf pendek, berjudul “Penutup: Menulis dengan Tanggung Jawab”.

Menulis berita bukan sekadar menyampaikan fakta, tapi juga membangun kepercayaan. Di era banjir informasi, tulisan yang rapi, jernih, dan jujur adalah bentuk tanggung jawab moral. Kita bukan hanya menyebar cerita, tapi menanam nilai, tentang kebenaran, akurasi, dan kepedulian.

Sayono membaca pelan kalimat itu, lalu menepuk meja ringan. “Penutup yang mantap, Mas. Ini bukan sekadar panduan teknis, tapi juga refleksi.”

Imam tersenyum. “Karena yang kita bangun bukan hanya konten, tapi budaya literasi.”

Sore pun tiba. Di balik jendela, hujan mulai reda. Di ruang kecil beraroma singkong goreng dan teh panas itu, dua editor komunitas menyusun sesuatu yang tampak sederhana, namun akan menjadi pondasi penting bagi kontributor D’Japri.(*)

Selasa, 14 Oktober 2025

#1 Cerpen: Kopi Siang Dua Editor

Ilustrasi By IES
Cerpen: Kopi Siang Dua Editor
Penulis: Imam Edi Siswanto

Di sebuah ruang kecil beraroma kopi panas, jam dinding menunjuk pukul 12.00 WIB. Sinar matahari menyelinap dari jendela kaca yang terbuka setengah, menyinari meja yang dipenuhi kertas coretan, laptop, dan dua piring berisi nasi rames.

Dua orang tampak asyik mengobrol santai sambil menyantap makan siang mereka. Mereka adalah Imam Edi Siswanto dan Sayono, editor artikel dan berita peristiwa di komunitas D'Japri IPARI Purbalingga.

BACA:
1. https://iparipurbalingga.blogspot.com/2025/10/2-cerpen-kopi-sore-karena-yang-kita.html
2. https://iparipurbalingga.blogspot.com/2025/10/3-cerpen-kopi-pagi-workshop-mini-dan.html
3. https://iparipurbalingga.blogspot.com/2025/10/4-habis-cerpen-kopi-senja-menulis-untuk.html

“Mas Imam, saya tadi baca lagi beberapa artikel dari kontributor kita,” buka Sayono sambil meniup secangkir kopi hitam. “Saya akui secara semangat teman-teman Kontributor bagus, namun masih banyak yang belum paham soal piramida terbalik. Artinya, informasi penting belum ditempatkan pada paragraph pertama atau utama,” ucapnya.

Imam tersenyum, mengangguk kecil. “Iya, saya juga perhatikan itu. Teman-teman mungkin masih terbawa gaya menulis opini atau esai. Padahal, dalam berita peristiwa, kita butuh struktur yang jelas, seperti apa, siapa, kapan, di mana, kenapa, dan bagaimana harus langsung muncul di paragraf pertama atau kedua.”

Sayono mencondongkan tubuh, meletakkan sendok, dan membuka KBBI online (kbbi.web.id) “Dan ini juga,” katanya sambil menunjuk halaman. “Banyak kata tidak baku yang muncul, seperti 'menginfokan', 'mensikapi', padahal di KBBI itu tidak ada. Harusnya, 'memberi informasi', 'menyikapi'. Ini penting kalau kita mau konten kita dipercaya dan jadi rujukan.”

Ilustrasi by IES

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/SAYONO

Imam mengangguk sambil menyeruput teh panas dengan sedikit manis kesukaanya. “Betul. ini berbagi pengalaman saja ya, bahwa saat menulis judul itu harus jelas, padat, dan menggambarkan inti berita. Jangan terlalu panjang dan jauh dari isi narasinya. Misalnya, kalau ada kegiatan pelatihan, jangan ditulis ‘Pelatihan Membongkar Rahasia Sukses!’ Cukup: ‘IPARI Gelar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Penulisan Berita’.”

Sayono tertawa kecil. “Kadang sulit membuat judul, tapi kadang juga keasyikan bikin judul seperti YouTuber.”

Keduanya tertawa bersama. Suasana santai tetap terjaga meski obrolan mereka teknis dan serius. Di sela makan siang, mereka membuka beberapa artikel di handphone. Imam menunjukkan beberapa flyer digital dan artikel berita peristiwa yang telah diunggah di sosial media.

“Ini contohnya. Secara visual sudah bagus, tapi captionnya kurang lengkap dan kurang informatif. Coba mas, baca ini,” ujar Imam.

Sayono membaca pelan, lalu mengangguk. “Nah, ini bisa diperbaiki. Tambahkan konteks waktu dan tempat. Dan pastikan data yang ditulis ada sumbernya, walaupun itu dari internal. Jangan sampai tidak dituliskan.”

“Setuju,” kata Imam. “Sepertinya kita juga perlu bikin panduan mini buat kontributor D'Japri. Nggak perlu panjang, cukup berisi pedoman gaya penulisan, struktur berita, kaidah KBBI, dan standar judul. Biar kualitas konten blog, flyer, dan video kita naik level.”

“Wah, ide bagus tuh. Kita bisa susun itu bareng pada pertemuan Tim D’Japri. Kita bagi tugas, saya buat bagian ejaan dan struktur, mas Imam bagian data dan gaya penulisan media,” ujar Sayono bersemangat.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/IMAM%20EDI%20SISWANTO

Waktu terus berjalan. Jam hampir menunjukkan pukul 13.00 WIB. Makanan sudah habis, kopi tinggal ampas. Tapi diskusi dua editor itu justru baru saja dimulai.

“Mas Sayono, saya percaya, kita tidak hanya menyunting kata, tapi juga membangun cara berpikir. Lewat tulisan yang baik, kita bisa mengajak banyak orang melihat dunia dengan lebih jernih,” ucap Imam sambil merapikan baju.

Sayono tersenyum lebar. “Dan itu dimulai dari makan siang dan secangkir kopi, ya, Mas?, dan itu sejalan banget dengan misi D’Japri, membawa inspirasi, menyebar berita positif, dan mencerahkan pembaca. Jadi bukan cuma soal teknis, tapi juga tanggung jawab moral.”

Keduanya tertawa, bangkit dari kursi, dan kembali ke tempat kerja masing-masing, membawa semangat baru untuk menjadikan D’Japri bukan sekadar komunitas, tapi rumah perpustakaan digital bagi tulisan-tulisan yang berbobot dan berdampak.(*)


Purbalingga Carnival 2026, Kemenag Purbalingga Tampilkan Layanan dan Budaya

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga saat memberikan gunungan buah dan sayuran kepada Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif dan ...