Jodoh Bukan Sekedar di Tunggu
Oleh: Ngamali dan Eva Lutfiati Khasanah
Editor: Imam Edi Siswanto
Beberapa hari yang lalu, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Ngamali dan Eva Lutfiati Khasanah, menyampaikan materi tentang ikhtiar mendapatkan jodoh dalam program Lentera Hati melalui siaran radio LPPL Gema Soedirman 96,3 FM.
Menurutnya, masyarakat memahami bahwa persoalan jodoh tidak cukup hanya diserahkan kepada takdir, tetapi perlu diiringi usaha, doa, proses memilih dengan bijak, dan tawakal kepada Allah SWT. Berikut isi rangkuman materinya.
BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search?q=siaran+radio
Memantaskan Diri Sebelum Mencari Jodoh
Al-Qur’an memberikan gambaran tentang pentingnya kualitas diri dalam memilih pasangan. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nur ayat 26 bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik.
Ayat ini dapat menjadi motivasi agar seseorang tidak hanya berharap mendapatkan pasangan yang saleh atau salehah, tetapi juga berusaha memperbaiki kualitas dirinya.
Ikhtiar dimulai dari memperbaiki iman, ibadah, akhlak, ilmu, kedewasaan, kesehatan, serta kesiapan finansial. Dengan demikian, proses mencari jodoh bukan sekadar mencari seseorang yang sesuai dengan keinginan, tetapi juga mempersiapkan diri agar mampu menjadi pasangan yang baik.
Allah SWT juga berfirman dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11 bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Pesan ini mengajarkan pentingnya usaha dan perubahan diri sebelum mengharapkan perubahan keadaan.
Jodoh Dicari dengan Cara yang Halal
Allah SWT menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan (QS. Az-Zariyat: 49) dan menjadikan pasangan sebagai sarana memperoleh ketenteraman, kasih sayang, dan rahmat (QS. Ar-Rum: 21). Namun, keyakinan terhadap takdir tidak berarti seseorang hanya menunggu tanpa melakukan usaha.
Rasulullah SAW mengajarkan prinsip penting dalam ikhtiar melalui sabdanya, “Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.” (HR. Tirmidzi). Pesannya jelas: lakukan usaha terlebih dahulu, kemudian serahkan hasilnya kepada Allah SWT.
Dalam mencari pasangan, Islam juga mengajarkan proses memilih dan menyeleksi. Rasulullah SAW bersabda bahwa perempuan dinikahi karena beberapa pertimbangan, termasuk harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya, lalu beliau menganjurkan memilih karena agama (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW menganjurkan agar seseorang yang agama dan akhlaknya diridai dapat dipertimbangkan untuk dinikahkan (HR. Tirmidzi).
Karena itu, jangan menjadikan rasa suka sebagai satu-satunya dasar. Perhatikan pula agama, akhlak, tanggung jawab, keluarga, visi kehidupan, dan kesiapan membangun rumah tangga.
Tiga Bentuk Ikhtiar Menuju Jodoh
Ikhtiar mendapatkan jodoh dapat dilakukan melalui tiga langkah yang saling melengkapi.
Pertama, ikhtiar langit berupa doa. Perbanyak doa, istighfar, ibadah malam, shalat hajat, dan memohon petunjuk Allah melalui istikharah.
Salah satu doa yang dapat diamalkan adalah QS. Al-Furqan ayat 74: “Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun…” memohon agar Allah menganugerahkan pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati.
Kedua, ikhtiar bumi berupa usaha nyata. Perbaiki kualitas diri, perluas jaringan silaturahmi dalam lingkungan yang baik, mintalah bantuan orang tua, keluarga, ustaz, guru, atau sahabat terpercaya untuk membantu menemukan calon yang sesuai. Proses ta’aruf dan musyawarah dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk mengenal calon pasangan secara terarah dan tetap menjaga batasan syariat.
Ketiga, tawakal. Setelah usaha dilakukan dengan sungguh-sungguh, hasilnya diserahkan kepada Allah SWT. Ketika sebuah proses tidak berlanjut atau seseorang belum menjadi pasangan kita, jangan buru-buru menganggapnya sebagai kegagalan. Bisa jadi Allah sedang mengarahkan kita kepada sesuatu yang lebih sesuai dengan kehendak dan hikmah-Nya.
Jodoh: Ikhtiar dengan Hati, Berserah dengan Iman
Jodoh bukan sekadar persoalan menunggu siapa yang datang, tetapi tentang bagaimana seseorang mempersiapkan diri, membuka jalan yang halal, memilih dengan pertimbangan yang matang, berdoa dengan sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
Dengan demikian, prinsip yang perlu dipegang adalah: “Perbaiki diri, perluas ikhtiar, pilih dengan bijak, perbanyak doa, lalu bertawakal.” Sebab tugas manusia adalah berusaha sebaik mungkin, sedangkan hasil akhir merupakan ketetapan Allah SWT(*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar