![]() |
| PAI Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Tasyati Ertiningsih, dalam program siaran Lentera Hati di LPPL Radio Gema Soedirman 96,3 FM. (Foto: Tasyati) |
Oleh: Tasyati Ertiningsih
Editor: Imam Edi Siswanto
Manusia terlahir ke dunia layaknya lembaran putih yang bersih. Mereka belum mengenal harta, jabatan, permusuhan, maupun kesombongan duniawi. Konsep kesucian asal inilah yang disebut sebagai fitrah.
Pesan mendalam mengenai hakikat kesucian manusia ini disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Tasyati Ertiningsih, dalam program siaran Lentera Hati di LPPL Radio Gema Soedirman 96,3 FM.
Melalui mimbar udara tersebut, ia mengajak seluruh pendengar untuk merenungkan kembali potensi dasar yang dibawa manusia sejak lahir dan bagaimana cara merawatnya di tengah tantangan zaman. Berikut rangkuman materi yang telah kami susun dan lebih sederhana.
1. Makna Fitrah: Potensi Tauhid dan Kebaikan
Dalam QS. Ar-Rum ayat 30, Allah SWT menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan naluri beragama, yaitu agama tauhid. Terjemahan Kementerian Agama menggarisbawahi bahwa fitrah bukan sekadar kondisi "anak kecil yang masih suci", melainkan potensi dasar yang Allah tanamkan dalam diri manusia untuk mengenal kebenaran, mencintai kebaikan, dan cenderung pada jalan yang lurus.
Islam memandang manusia sebagai makhluk yang pada dasarnya baik. Namun, potensi ini ibarat sebuah benih. Benih yang unggul hanya akan tumbuh subur dan berbuah manis jika ditanam di tanah yang baik, disiram, dirawat, serta mendapat cahaya matahari yang cukup.
2. Lingkungan dan Tantangan Menjaga Amanah
Merujuk pada hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah.” Hadis ini juga menjelaskan bahwa lingkungan dan orang tualah yang kemudian membentuk arah keyakinan dan karakter anak.
Dari tuntunan ini, terdapat pelajaran besar bahwa anak adalah amanah pendidikan, bukan sekadar tambahan anggota keluarga. Fitrah anak tidak hanya membutuhkan asupan fisik, tetapi juga:
- Kasih sayang yang tulus
- Lingkungan dan pergaulan yang sehat
- Pendidikan agama yang kuat
- Keteladanan nyata dari orang tua
Anak adalah peniru yang ulung. Mereka belajar bukan dari apa yang kita katakan, melainkan dari apa yang mereka lihat sehari-hari di dalam rumah.
3. Ikhtiar Merawat Jiwa (Tazkiyatun Nafs)
Seiring bertambahnya usia, manusia dihadapkan pada pilihan, hawa nafsu, ego, dan berbagai godaan dunia. Itulah mengapa manusia dibekali akal, hati, dan petunjuk agama. Menjaga fitrah bukan hanya tugas orang tua kepada anaknya, melainkan kewajiban setiap individu dewasa melalui proses tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa).
Empat langkah utama untuk menjaga agar fitrah tetap hidup dan hubungan dengan Allah SWT tetap kokoh meliputi:
- Menjaga Shalat: Sebagai media komunikasi vertikal dan sarana mengingat Allah, baik dalam kondisi lapang maupun sempit.
- Membaca dan Memahami Al-Qur'an: Menjadikan kitab suci sebagai kompas dan petunjuk hidup sehari-hari.
- Memperbanyak Dzikir dan Doa: Menjaga hati agar tetap tenang dan terhubung dengan Sang Pencipta.
- Menjauhi Penyakit Hati: Membentengi diri dari sifat iri, dengki, dan sombong yang dapat mengotori kesucian jiwa.
Ketika hati dijaga dalam kondisi bersih, maka seluruh perilaku dan tutur kata manusia secara otomatis akan memancarkan kebaikan. Mendidik dan menjaga fitrah adalah investasi jangka panjang demi keselamatan di dunia dan akhirat.
Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar