Memahami, Mendampingi, dan Menjadi Tempat Pulang Anak Remaja
Oleh: Artanti Laili Zulaiha
Editor: Imam Edi Siswanto
“Memahami, Mendampingi, dan Menjadi Tempat Pulang” menjadi pesan penting dalam mendidik anak yang memasuki masa remaja. Materi ini disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Artanti Laili Zulaiha, melalui siaran radio LPPL Gema Soedirman 96,3 FM, Jumat (25/9/2026).
BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search?q=siaran+radio
Menurutnya, masa remaja merupakan fase penting dalam perkembangan seseorang. Pada tahap ini terjadi berbagai perubahan fisik, kognitif, emosional, dan sosial. Remaja mulai membangun identitas diri, mengembangkan kemandirian, memperluas pergaulan, serta belajar menentukan pilihan dan bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat. Karena itu, pola pengasuhan ketika anak masih kecil tidak selalu dapat diterapkan dengan cara yang sama ketika mereka memasuki masa remaja.
Pahami Perubahan, Jangan Terburu-Buru Menghakimi
Perubahan sikap remaja, lebih sering ingin bersama teman, mulai mempertanyakan aturan, atau terlihat semakin mandiri, tidak selalu berarti anak menjadi sulit diarahkan.
Perubahan tersebut merupakan bagian dari proses menuju kematangan. Remaja membutuhkan kesempatan untuk belajar berpikir, menentukan pilihan, dan memahami konsekuensi dari tindakannya.
Dalam kondisi ini, komunikasi menjadi kunci utama. Orang tua tidak cukup hanya memberikan nasihat, tetapi perlu menjadi pendengar yang baik. Ketika anak pulang dengan wajah murung, misalnya, daripada terus-menerus bertanya dan membuatnya merasa diinterogasi, orang tua dapat mengatakan, “Kalau kamu ingin bercerita, Ayah/Ibu siap mendengarkan.” Cara sederhana ini memberikan ruang aman bagi anak untuk membuka diri ketika sudah siap.
Dengarkan Sebelum Memberi Nasihat
Tidak setiap persoalan anak harus langsung diselesaikan oleh orang tua. Terkadang, kebutuhan utama remaja hanyalah didengarkan dan dipahami. Setelah anak merasa aman, orang tua dapat mengajaknya berdiskusi mengenai pilihan, solusi, dan konsekuensi.
Ketika terjadi persoalan terkait gawai, media sosial, pertemanan, belajar, aktivitas di luar rumah, atau pencapaian akademik, tujuan pengasuhan bukan sekadar membuat anak tunduk pada keinginan orang tua. Yang lebih penting adalah menyelesaikan masalah sambil menjaga kualitas hubungan antara orang tua dan anak.
Tegas Bukan Berarti Keras
Orang tua perlu membedakan antara ketegasan dan kekerasan. Tegas berarti memiliki aturan dan batasan yang jelas, tetapi tetap disampaikan dengan menghargai anak. Sebaliknya, kata-kata yang menyerang karakter seperti “Kamu memang tidak pernah bisa dipercaya!” dapat melukai perasaan dan tidak secara langsung menyelesaikan persoalan.
Remaja juga perlu diberi kesempatan mengembangkan tanggung jawab melalui hal-hal sederhana, seperti mengatur jadwal belajar, membantu pekerjaan rumah, mengelola uang saku, dan menentukan pilihan sesuai usia serta kematangannya.
Ketika melakukan kesalahan, orang tua dapat mengajak anak melakukan refleksi: “Menurutmu, apa yang menyebabkan masalah ini?” atau “Bagaimana cara memperbaikinya?” Dengan demikian, anak belajar memahami hubungan antara pilihan, tindakan, dan konsekuensi.
Jadikan Keluarga sebagai Tempat Pulang
Remaja membutuhkan keluarga sebagai tempat memperoleh rasa aman. Persoalan pertemanan, tekanan lingkungan, kegagalan, maupun kebingungan tentang masa depan dapat membuat mereka membutuhkan tempat untuk bercerita. Kepercayaan tidak terbentuk secara instan, tetapi tumbuh dari komunikasi yang konsisten setiap hari.
Karena itu, komunikasi jangan hanya muncul ketika anak melakukan kesalahan. Berbincanglah ketika suasana keluarga sedang baik, dengarkan cerita tentang teman-temannya, tanyakan minatnya, dan hadir tanpa selalu menghakimi. Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua tetap perlu memberikan batasan dan koreksi, tetapi dengan menunjukkan bahwa kasih sayang dan penerimaan tidak hilang.
Tiga Prinsip Mendampingi Remaja
Ada tiga prinsip sederhana yang dapat menjadi pegangan: memahami sebelum menilai, mendengarkan sebelum menasihati, dan membimbing sebelum mengendalikan. Orang tua tidak harus sempurna.
Yang dibutuhkan anak adalah orang tua yang mau terus belajar, terbuka untuk mendengarkan, mampu menetapkan batasan dengan kasih sayang, dan selalu hadir ketika anak membutuhkan dukungan.
Sebab, keberhasilan mendidik remaja bukan hanya ketika mereka meraih prestasi akademik atau kesuksesan karier, tetapi ketika mereka tumbuh menjadi manusia yang bertanggung jawab, mampu mengelola dirinya, dan tetap memiliki hubungan yang sehat dengan keluarganya.
Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar