Manajemen Keuangan Keluarga dalam Pandangan Islam
Oleh: Syukur Ariyadi dan Fitriana Pusporini
Editor: Imam Edi Siswanto
PURBALINGGA – Uang dapat menjadi penunjang kebahagiaan keluarga, tetapi juga bisa memicu pertengkaran apabila tidak dikelola dengan baik. Tak sedikit keluarga merasa penghasilannya cukup, tetapi selalu kehabisan uang sebelum akhir bulan.
PURBALINGGA – Uang dapat menjadi penunjang kebahagiaan keluarga, tetapi juga bisa memicu pertengkaran apabila tidak dikelola dengan baik. Tak sedikit keluarga merasa penghasilannya cukup, tetapi selalu kehabisan uang sebelum akhir bulan.
Persoalannya bukan semata-mata besarnya pendapatan, melainkan bagaimana mengatur pemasukan dan pengeluaran secara bijaksana.
Pesan di atas disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Syukur Ariyadi dan Fitriana Pusporini, dalam program Lentera Hati yang disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman 96,3 FM, dengan tema “Pentingnya Manajemen Keuangan Keluarga dalam Pandangan Islam," pada pekan lalu.
Pesan di atas disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Syukur Ariyadi dan Fitriana Pusporini, dalam program Lentera Hati yang disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman 96,3 FM, dengan tema “Pentingnya Manajemen Keuangan Keluarga dalam Pandangan Islam," pada pekan lalu.
BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Siaran%20Radio
Dalam dialognya, Syukur dan Fitriana menekankan bahwa pengelolaan keuangan bukan sekadar urusan angka, tetapi bagian dari tanggung jawab menjaga amanah Allah SWT.
Syukur Ariyadi: “Dalam Islam, harta adalah amanah. Karena itu, keluarga perlu mengelolanya dengan jujur, sederhana, dan bertanggung jawab. Penghasilan besar tidak menjamin ketenangan jika dibelanjakan tanpa perencanaan.”
Fitriana Pusporini: “Literasi keuangan bukan hanya penting bagi keluarga berpenghasilan tinggi. Keluarga dengan penghasilan sederhana pun dapat mengelola keuangannya dengan baik, asalkan terbiasa mencatat pemasukan dan pengeluaran, membedakan kebutuhan dengan keinginan, serta menyisihkan uang untuk tabungan.”
Keduanya mengingatkan bahwa keuangan keluarga merupakan tanggung jawab bersama. Suami dan istri perlu terbuka membicarakan pendapatan, kebutuhan pokok, utang, tabungan, serta rencana masa depan. Komunikasi yang baik dapat mencegah kesalahpahaman dan membantu pasangan menentukan prioritas tanpa saling menyalahkan.
Dalam praktiknya, keluarga dapat memulai dari langkah sederhana: membuat anggaran bulanan, mendahulukan kebutuhan pokok, menyiapkan dana darurat, dan mengevaluasi pengeluaran secara berkala. Kebiasaan menabung sebaiknya dilakukan sejak awal menerima penghasilan, meskipun jumlahnya kecil.
Syukur Ariyadi: “Kita juga harus berhati-hati terhadap utang konsumtif, pinjaman online ilegal, dan investasi yang menjanjikan keuntungan tidak masuk akal. Jangan mengambil keputusan hanya karena tergiur tawaran atau mengikuti tren. Pahami risikonya dan pastikan kemampuan keuangan keluarga.”
Selain itu, Islam mengajarkan pentingnya mencari penghasilan halal, memenuhi kewajiban nafkah, menghindari pemborosan, serta menunaikan zakat, infak, dan sedekah sesuai ketentuan dan kemampuan. Anak-anak pun perlu dikenalkan pada kebiasaan menabung, hidup sederhana, merawat barang, dan berbagi sejak dini.
Fitriana Pusporini: “Mengatur keuangan bukan berarti keluarga tidak boleh menikmati hasil kerja. Keluarga tetap bisa memenuhi kebutuhan rekreasi dan hiburan, tetapi harus disesuaikan dengan kemampuan. Yang terpenting, jangan sampai keinginan sesaat mengorbankan kebutuhan utama dan masa depan keluarga.”
Melalui program siaran radio pada program Lentera Hati, masyarakat diajak memahami bahwa ketenangan rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh banyaknya harta, tetapi juga oleh cara memperoleh, menggunakan, dan mensyukurinya.
Dalam dialognya, Syukur dan Fitriana menekankan bahwa pengelolaan keuangan bukan sekadar urusan angka, tetapi bagian dari tanggung jawab menjaga amanah Allah SWT.
Syukur Ariyadi: “Dalam Islam, harta adalah amanah. Karena itu, keluarga perlu mengelolanya dengan jujur, sederhana, dan bertanggung jawab. Penghasilan besar tidak menjamin ketenangan jika dibelanjakan tanpa perencanaan.”
Fitriana Pusporini: “Literasi keuangan bukan hanya penting bagi keluarga berpenghasilan tinggi. Keluarga dengan penghasilan sederhana pun dapat mengelola keuangannya dengan baik, asalkan terbiasa mencatat pemasukan dan pengeluaran, membedakan kebutuhan dengan keinginan, serta menyisihkan uang untuk tabungan.”
Keduanya mengingatkan bahwa keuangan keluarga merupakan tanggung jawab bersama. Suami dan istri perlu terbuka membicarakan pendapatan, kebutuhan pokok, utang, tabungan, serta rencana masa depan. Komunikasi yang baik dapat mencegah kesalahpahaman dan membantu pasangan menentukan prioritas tanpa saling menyalahkan.
Dalam praktiknya, keluarga dapat memulai dari langkah sederhana: membuat anggaran bulanan, mendahulukan kebutuhan pokok, menyiapkan dana darurat, dan mengevaluasi pengeluaran secara berkala. Kebiasaan menabung sebaiknya dilakukan sejak awal menerima penghasilan, meskipun jumlahnya kecil.
Syukur Ariyadi: “Kita juga harus berhati-hati terhadap utang konsumtif, pinjaman online ilegal, dan investasi yang menjanjikan keuntungan tidak masuk akal. Jangan mengambil keputusan hanya karena tergiur tawaran atau mengikuti tren. Pahami risikonya dan pastikan kemampuan keuangan keluarga.”
Selain itu, Islam mengajarkan pentingnya mencari penghasilan halal, memenuhi kewajiban nafkah, menghindari pemborosan, serta menunaikan zakat, infak, dan sedekah sesuai ketentuan dan kemampuan. Anak-anak pun perlu dikenalkan pada kebiasaan menabung, hidup sederhana, merawat barang, dan berbagi sejak dini.
Fitriana Pusporini: “Mengatur keuangan bukan berarti keluarga tidak boleh menikmati hasil kerja. Keluarga tetap bisa memenuhi kebutuhan rekreasi dan hiburan, tetapi harus disesuaikan dengan kemampuan. Yang terpenting, jangan sampai keinginan sesaat mengorbankan kebutuhan utama dan masa depan keluarga.”
Melalui program siaran radio pada program Lentera Hati, masyarakat diajak memahami bahwa ketenangan rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh banyaknya harta, tetapi juga oleh cara memperoleh, menggunakan, dan mensyukurinya.
Pengelolaan keuangan yang terencana, keterbukaan pasangan, serta kepedulian terhadap sesama menjadi fondasi penting untuk membangun keluarga yang harmonis dan berkah.
Rezeki yang dikelola dengan amanah dan penuh syukur akan lebih bermakna: kebutuhan hari ini terpenuhi, masa depan lebih terencana, dan keharmonisan keluarga tetap terjaga.
Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)
Rezeki yang dikelola dengan amanah dan penuh syukur akan lebih bermakna: kebutuhan hari ini terpenuhi, masa depan lebih terencana, dan keharmonisan keluarga tetap terjaga.
Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)

Terimakasih IPARI Purbalingga kerennnnn
BalasHapusTetap semangat tebar manfaat
BalasHapus