Purbalingga-Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga turut memeriahkan Purbalingga Carnival 2026 dalam rangka menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan menampilkan layanan dan budaya, Sabtu (22/8/2026).
Dipimpin Agus Musalim dan sekretaris pelaksana Edi Rudjito, Kemenag Purbalingga mengikutsertakan 65 peserta dari unsur Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) dan Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) serta Kelompok Kerja Pengawas (POKJAWAS) dalam parade yang berlangsung dari Kodim 0702 menuju Pendapa Dipokusumo.
LIHAT VIDEO: https://www.tiktok.com/@kemenag_purbalingga/video/7676763148883528978?q=kemenag%20purbalingga&t=1787446255349
Keikutsertaan tersebut menjadi bentuk partisipasi Kemenag Purbalingga dalam kegiatan kemasyarakatan sekaligus sarana memperkenalkan peran penghulu dan penyuluh agama kepada masyarakat. Melalui berbagai barisan dan atraksi yang ditampilkan, APRI dan IPARI membawa pesan tentang layanan KUA, pembinaan masyarakat, keberagaman budaya, serta semangat kebangsaan.
Sebanyak 81 kontingen mengikuti Purbalingga Carnival 2026. Parade yang dibuka oleh Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif tersebut menempuh rute dari Kodim 0702 menuju Pendapa Dipokusumo.
Beragam kreativitas dan atraksi budaya ditampilkan untuk menyemarakkan peringatan kemerdekaan sekaligus mengangkat potensi lokal Purbalingga.
Delapan Kelompok APRI dan IPARI
Sebanyak 65 peserta Kemenag Purbalingga dibagi ke dalam delapan kelompok dengan konsep dan pesan yang berbeda. Pertama, pembawa spanduk/banner bagian depan, Kedua, pembawa bendera Merah Putih, Ketiga, pembawa bendera Kemenag dan asosiasi.
Keempat, peraga pasangan pengantin, diperankan oleh Syafik Muflih bersama istri dengan mengenakan pakaian adat NTT. Penampilan ini menjadi representasi keberagaman budaya sekaligus menggambarkan salah satu layanan KUA dalam bidang pernikahan.
Kelima, barisan Urab Mendoan, berjumlah 10 orang dari unsur IPARI dan APRI. Peserta mengenakan pakaian khas tani, berupa baju lurik dengan kaos putih, celana hitam komprang, serta caping/tudung. Peserta putri menyesuaikan dengan pakaian khas tani. Penampilan ini mengangkat identitas lokal dan kehidupan masyarakat agraris Purbalingga.
Keenam, barisan Paku Bumi, terdiri atas 10 orang unsur APRI dan IPARI. Ketujuh, barisan Layanan KUA, berjumlah 16 orang dari unsur APRI. Pakaian dan konten pesan yang dibawa disesuaikan dengan berbagai jenis layanan KUA, sehingga parade sekaligus menjadi media pengenalan layanan kepada masyarakat.
Kedelapan, barisan Babinluhmas, terdiri atas 16 orang unsur IPARI. Para peserta mengenakan jas Babinluhmas, celana dan sepatu hitam, serta peci hitam, sedangkan peserta putri menyesuaikan atasan dengan warna seragam. Barisan ini menggambarkan peran penyuluh agama dalam pembinaan dan penyuluhan kehidupan keagamaan masyarakat.
Perpaduan Budaya dan Layanan Keagamaan
Barisan Layanan KUA menjadi salah satu bagian penting karena memperkenalkan berbagai jenis layanan KUA kepada masyarakat dengan cara yang lebih komunikatif. Sementara penampilan pasangan pengantin dengan pakaian adat NTT menunjukkan keberagaman budaya yang hidup dalam masyarakat sekaligus memperkuat pesan tentang pentingnya pelayanan dan pembinaan keluarga.
Adapun barisan Urab Mendoan dan Paku Bumi mengangkat pertanian dan ekonomi lokal Purbalingga. Kehadiran unsur tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan lokal dapat dipadukan dengan semangat pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat.(*)
Pewarta: Imam Edi Siswanto





Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus