Kamis, 15 Oktober 2026

Syukur Ariyadi dan Fitriana Pusporini: Manajemen Keuangan Keluarga dalam Pandangan Islam

PAI Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Syukur Ariyadi dan Fitriana Pusporini, dalam program Lentera Hati yang disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman 96,3 FM, dengan tema “Manajemen Keuangan Keluarga dalam Pandangan Islam," pada pekan lalu. (Foto: Fitriana Pusporini)

Manajemen Keuangan Keluarga dalam Pandangan Islam
Oleh: Syukur Ariyadi dan Fitriana Pusporini
Editor: Imam Edi Siswanto 

PURBALINGGA – Uang dapat menjadi penunjang kebahagiaan keluarga, tetapi juga bisa memicu pertengkaran apabila tidak dikelola dengan baik. Tak sedikit keluarga merasa penghasilannya cukup, tetapi selalu kehabisan uang sebelum akhir bulan. 
 
Persoalannya bukan semata-mata besarnya pendapatan, melainkan bagaimana mengatur pemasukan dan pengeluaran secara bijaksana.

Pesan di atas disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Syukur Ariyadi dan Fitriana Pusporini, dalam program Lentera Hati yang disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman 96,3 FM, dengan tema “Pentingnya Manajemen Keuangan Keluarga dalam Pandangan Islam," pada pekan lalu.
 
BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Siaran%20Radio

Dalam dialognya, Syukur dan Fitriana menekankan bahwa pengelolaan keuangan bukan sekadar urusan angka, tetapi bagian dari tanggung jawab menjaga amanah Allah SWT.

Syukur Ariyadi: “Dalam Islam, harta adalah amanah. Karena itu, keluarga perlu mengelolanya dengan jujur, sederhana, dan bertanggung jawab. Penghasilan besar tidak menjamin ketenangan jika dibelanjakan tanpa perencanaan.”

Fitriana Pusporini: “Literasi keuangan bukan hanya penting bagi keluarga berpenghasilan tinggi. Keluarga dengan penghasilan sederhana pun dapat mengelola keuangannya dengan baik, asalkan terbiasa mencatat pemasukan dan pengeluaran, membedakan kebutuhan dengan keinginan, serta menyisihkan uang untuk tabungan.”

Keduanya mengingatkan bahwa keuangan keluarga merupakan tanggung jawab bersama. Suami dan istri perlu terbuka membicarakan pendapatan, kebutuhan pokok, utang, tabungan, serta rencana masa depan. Komunikasi yang baik dapat mencegah kesalahpahaman dan membantu pasangan menentukan prioritas tanpa saling menyalahkan.

Dalam praktiknya, keluarga dapat memulai dari langkah sederhana: membuat anggaran bulanan, mendahulukan kebutuhan pokok, menyiapkan dana darurat, dan mengevaluasi pengeluaran secara berkala. Kebiasaan menabung sebaiknya dilakukan sejak awal menerima penghasilan, meskipun jumlahnya kecil.

Syukur Ariyadi: “Kita juga harus berhati-hati terhadap utang konsumtif, pinjaman online ilegal, dan investasi yang menjanjikan keuntungan tidak masuk akal. Jangan mengambil keputusan hanya karena tergiur tawaran atau mengikuti tren. Pahami risikonya dan pastikan kemampuan keuangan keluarga.”

Selain itu, Islam mengajarkan pentingnya mencari penghasilan halal, memenuhi kewajiban nafkah, menghindari pemborosan, serta menunaikan zakat, infak, dan sedekah sesuai ketentuan dan kemampuan. Anak-anak pun perlu dikenalkan pada kebiasaan menabung, hidup sederhana, merawat barang, dan berbagi sejak dini.

Fitriana Pusporini: “Mengatur keuangan bukan berarti keluarga tidak boleh menikmati hasil kerja. Keluarga tetap bisa memenuhi kebutuhan rekreasi dan hiburan, tetapi harus disesuaikan dengan kemampuan. Yang terpenting, jangan sampai keinginan sesaat mengorbankan kebutuhan utama dan masa depan keluarga.”

Melalui program siaran radio pada program Lentera Hati, masyarakat diajak memahami bahwa ketenangan rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh banyaknya harta, tetapi juga oleh cara memperoleh, menggunakan, dan mensyukurinya. 
 
Pengelolaan keuangan yang terencana, keterbukaan pasangan, serta kepedulian terhadap sesama menjadi fondasi penting untuk membangun keluarga yang harmonis dan berkah.

Rezeki yang dikelola dengan amanah dan penuh syukur akan lebih bermakna: kebutuhan hari ini terpenuhi, masa depan lebih terencana, dan keharmonisan keluarga tetap terjaga.

Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)

Rabu, 14 Oktober 2026

Dariman dan Siti Rofiqoh: Merawat Alam, Menghormati Makhluk Allah

Dariman dan Siti Rofiqoh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga dalam program Lentera Hati “Sejukkan Hati – Cerahkan Hari” yang disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman 96,3 FM pada Jumat (9/10/2026) pekan lalu. (Foto: Dariman)
Merawat Alam, Menghormati Makhluk Allah
Oleh: Dariman dan Siti Rofiqoh
Editor: Imam Edi Siswanto 

PURBALINGGA – Merawat alam bukan sekadar menjaga kebersihan lingkungan, melainkan juga wujud rasa syukur, ibadah, dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Dalam perspektif Islam, seluruh alam semesta merupakan ciptaan Allah yang senantiasa bertasbih dan tunduk kepada-Nya. Karena itu, merusak lingkungan berarti mengabaikan amanah yang telah diberikan oleh Sang Pencipta.

Pesan tersebut disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Dariman dan Siti Rofiqoh, dalam program Lentera Hati yang disiarkan LPPL Gema Soedirman 96,3 FM, dengan tema “Merawat Alam, Menghormati Makhluk Allah.” 

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Siaran%20Radio

Dalam dialognya, Siti Rofiqoh mengajak pendengar memahami bahwa alam bukan sekadar benda mati yang boleh dimanfaatkan tanpa batas.

Siti Rofiqoh: “Allah menegaskan dalam QS. Al-Isra’ ayat 44 bahwa langit, bumi, dan seluruh isinya senantiasa bertasbih kepada-Nya, meskipun manusia tidak memahami cara mereka bertasbih. Artinya, alam memiliki kedudukan sebagai ciptaan Allah yang harus kita hormati dan jaga.”

Ia juga mengingatkan kisah Rasulullah SAW yang mengenali sebuah batu di Makkah yang memberi salam sebelum beliau diangkat menjadi nabi, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim. Demikian pula kisah batang pohon kurma yang merintih ketika Rasulullah berpindah tempat berkhutbah, kemudian tenang setelah beliau memeluknya, sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari.

Dariman: “Kisah-kisah tersebut mengandung pelajaran bahwa makhluk Allah memiliki keadaan dan cara tersendiri sesuai kehendak-Nya. Maka, sungguh ironis apabila manusia yang diberi akal dan tanggung jawab justru merusak lingkungan melalui penebangan hutan tanpa kendali, pencemaran air, penumpukan sampah, dan polusi udara.”

Menurut keduanya, manusia diciptakan sebagai khalifah bukan untuk mengeksploitasi alam sesuka hati, melainkan menjaga keseimbangan dan memakmurkan bumi. Alam menyediakan air, udara, pangan, serta berbagai kebutuhan kehidupan yang patut disyukuri dan dirawat.

Karena itu, kepedulian lingkungan perlu diwujudkan melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten, seperti membuang sampah pada tempatnya, mengurangi plastik sekali pakai, menghemat air, merawat tanaman, serta menjaga kebersihan lingkungan rumah dan tempat kerja.

Siti Rofiqoh: “Jangan sampai kita mengaku mencintai Allah, tetapi abai terhadap ciptaan-Nya. Menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan. Kita tidak harus menunggu melakukan sesuatu yang besar; langkah kecil yang dilakukan bersama dapat memberikan manfaat bagi kehidupan.”

Dialog Lentera Hati ini mengajak masyarakat menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari pengamalan ajaran Islam. Tanah, air, tumbuhan, dan udara adalah karunia Allah yang harus dijaga, bukan dirusak demi kepentingan sesaat.

Pada akhirnya, merawat alam berarti menghormati makhluk Allah, mensyukuri nikmat-Nya, dan menjaga keberlangsungan kehidupan bagi generasi mendatang. Semangat tersebut diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan sehari-hari, sehingga nilai-nilai keimanan hadir tidak hanya dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam kepedulian nyata terhadap bumi.(*)

Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)

Mughofar dan Zamroni Irham: Ini Tujuh Fungsi Keluarga Membangun Rumah Tangga Sakinah

Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Mughofar (Kiri) dan Zamroni Irham, dalam program Lentera Hati yang disi...