Jumat, 30 Oktober 2026

Muslikhah dan Achmad Umar: Ketaatan Isteri Di Era Modern

 Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Muslikhah dan Achmad Umar, saat siaran program Lentera Hati di LPPL Gema Soedirman pada frekuensi 96,3 FM, Kamis (22/10/2026) lalu. (Foto: Achmad Umar)

Ketaatan Isteri Di Era Modern
Oleh: Muslikhah dan Achmad Umar (Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga)
Editor: Imam Edi Siswanto


Perubahan zaman membawa banyak perubahan dalam kehidupan rumah tangga. Saat ini, tidak sedikit istri yang memiliki pendidikan tinggi, bekerja, mandiri secara finansial, dan turut berperan dalam memenuhi kebutuhan keluarga. 

Kondisi tersebut terkadang memunculkan pertanyaan: bagaimana memahami ketaatan istri kepada suami di tengah kehidupan modern?

Dalam sebuah dialog keagamaan, Muslikhah mengawali pembahasan dengan mengajak masyarakat memahami pentingnya refleksi diri. Menurutnya, setiap orang memiliki pengalaman dan perjalanan masa lalu yang dapat dijadikan pelajaran, bukan untuk diratapi. 

Begitu pula dalam kehidupan rumah tangga, berbagai persoalan yang pernah terjadi hendaknya menjadi bahan evaluasi agar pasangan suami istri dapat memperbaiki hubungan.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Siaran%20Radio

Achmad Umar menambahkan bahwa setiap keluarga memiliki ujian dan persoalan masing-masing, sesuai kemampuan yang diberikan Allah SWT. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah ayat 286:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Ketaatan Bukan Berarti Kehilangan Hak dan Suara
Muslikhah kemudian mengangkat persoalan bahwa istilah ketaatan istri terkadang dianggap kuno atau mengekang, terutama ketika perempuan semakin mandiri dan memiliki peran besar dalam kehidupan sosial maupun ekonomi.

Menanggapi hal tersebut, Achmad Umar menjelaskan bahwa ketaatan istri bukanlah hubungan antara atasan dan bawahan, apalagi majikan dan pelayan. Ketaatan merupakan bentuk penghormatan, kerja sama, dan kesediaan mendukung kepemimpinan suami demi menjaga keharmonisan rumah tangga. 

Namun, ketaatan bukan berarti istri kehilangan hak untuk menyampaikan pendapat atau mengungkapkan kebutuhannya.

Menurutnya, salah satu tantangan istri modern adalah kelelahan fisik dan mental. Setelah bekerja di luar rumah, istri masih harus menghadapi pekerjaan domestik dan tanggung jawab keluarga. Karena itu, ketaatan tidak bisa dilepaskan dari kasih sayang, perhatian, dan pengertian suami.

Komunikasi dan Musyawarah Menjadi Kunci
Muslikhah menegaskan bahwa ketika seorang istri merasa dihargai, didengarkan, dan dibantu, rasa hormat serta ketaatan akan tumbuh secara alami, bukan karena paksaan.

Achmad Umar menjelaskan bahwa solusinya adalah membangun komunikasi yang baik dan asertif. Istri perlu menyampaikan kelelahan maupun pendapatnya dengan santun, sementara suami harus mampu mengendalikan ego, memahami kondisi istri, dan ikut membantu tanggung jawab rumah tangga.

Setiap persoalan sebaiknya diselesaikan melalui musyawarah untuk menemukan titik temu. Apabila belum tercapai kesepakatan, suami sebagai kepala keluarga dituntut mengambil keputusan secara bijaksana, bukan berdasarkan ego atau kepentingan pribadi. Ketaatan istri tetap memiliki batas, yaitu selama keputusan suami tidak bertentangan dengan syariat agama dan tidak membawa kemudaratan bagi keluarga.

Saling Menghargai, Bukan Saling Menguasai
Dalam pembahasan berikutnya, keduanya mengingatkan bahwa kelebihan finansial seorang istri hendaknya menjadi sarana berbagi dan berbuat kebaikan, bukan alasan untuk merendahkan suami. 

Demikian pula suami tidak boleh menggunakan kedudukannya untuk bersikap sewenang-wenang terhadap istri.

Kehidupan rumah tangga membutuhkan kesadaran untuk saling menghargai, mengingat kembali komitmen awal pernikahan, serta belajar dari pengalaman. Ketaatan bukan tentang siapa yang menang atau kalah, melainkan seni menyelaraskan langkah dalam membangun keluarga yang harmonis.

Sebagai penutup, Muslikhah dan Achmad Umar mengajak para istri untuk menjaga kehormatan suami dan menaati dalam perkara kebaikan. Sementara para suami hendaknya menjadi pemimpin yang menyayangi, menghargai, membimbing dengan kelembutan, serta tidak mengabaikan hak dan kebutuhan istri.

Sebab, rumah tangga yang kokoh bukan dibangun dengan rasa takut dan pemaksaan, melainkan dengan cinta, tanggung jawab, komunikasi, dan saling pengertian. Ketaatan istri di era modernisasi pada akhirnya merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Artikel ini telah disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman pada frekuensi 96,3 FM oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Muslikhah dan Achmad Umar, dalam program
Lentera Hati, pada pekan lalu.

Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)  

Esti Yuliamah dan Suyono: Hidup Bermakna dengan Menjadi Pribadi yang Bermanfaat

 Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Esti Yuliamah dan Suyono, saat siaran program Lentera Hati di LPPL Gema Soedirman pada frekuensi 96,3 FM beberapa waktu lalu. (Foto: Esti Yuliamah)
Hidup Bermakna dengan Menjadi Pribadi yang Bermanfaat
Oleh: Esti Yuliamah dan Suyono (Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga)
Editor: Imam Edi Siswanto

“Khairunnasi anfa’uhum linnas”, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Hadis ini menjadi pengingat bahwa kualitas hidup seseorang tidak hanya diukur dari kekayaan, jabatan, atau keberhasilan yang diraih, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Siaran%20Radio

Dalam dialog program Lentera Hati Radio Gema Soedirman, Esti Yuliamah mengawali perbincangan dengan mengajukan pertanyaan kepada rekannya, Suyono, tentang makna menjadi pribadi yang bermanfaat.

“Pak Suyono, apakah menjadi manusia yang bermanfaat harus selalu diwujudkan dengan memberikan bantuan berupa uang atau materi?” tanyanya.

Suyono menjelaskan bahwa kebermanfaatan memiliki makna yang luas. Seseorang dapat memberikan manfaat melalui ilmu, tenaga, waktu, nasihat, senyuman, kepedulian, bahkan kesediaan mendengarkan keluh kesah orang lain. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Ma’idah ayat 2:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.”

Menurutnya, setiap orang memiliki kesempatan untuk bermanfaat sesuai kemampuan dan perannya. Guru melalui ilmunya, orang tua melalui pendidikan anak, pemuda melalui kreativitas dan tenaganya, serta tetangga melalui kepedulian sosial.

Kebaikan Tidak Harus Besar, tetapi Harus Nyata
Esti kemudian mengajak membahas bentuk kebermanfaatan dalam kehidupan sehari-hari. Suyono menjelaskan bahwa setidaknya ada beberapa cara sederhana, yakni melalui perkataan yang santun, perbuatan nyata, berbagi ilmu, serta meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu sesama.

Termasuk dalam menggunakan media sosial, setiap orang hendaknya menjaga ucapan dan tulisan. Nasihat boleh disampaikan, perbedaan pendapat boleh dibicarakan, tetapi semuanya harus dilakukan dengan santun tanpa merendahkan orang lain.

Dalam kesempatan tersebut, Esti juga mengangkat inovasi Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, yaitu program URAB MENDOAN (Umat Rajin Bertani Mendukung dan Menopang Kehidupan). Program ini menjadi salah satu contoh kebermanfaatan yang diwujudkan melalui pemberdayaan masyarakat.

Suyono menambahkan, program tersebut mendorong kemandirian umat melalui pemberdayaan pertanian, peternakan, perikanan, serta pelatihan dan pendampingan usaha. Pengembangannya juga diarahkan untuk membantu guru pendidikan keagamaan yang membutuhkan, termasuk membuka ruang kerja sama lintas iman. 

Dengan demikian, kebermanfaatan tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat agar lebih mandiri dan sejahtera.

Jangan Menunggu Hebat untuk Berbuat Manfaat
“Lalu, mengapa kita harus berusaha menjadi pribadi yang bermanfaat?” tanya Esti.

Suyono menjawab bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Kita dapat menikmati makanan karena jasa petani, memperoleh ilmu karena peran guru, dan merasakan pelayanan karena pengabdian banyak orang. Maka, sudah semestinya kita juga memberikan kontribusi positif kepada sesama.

Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa orang yang menunjukkan jalan kebaikan akan memperoleh pahala seperti orang yang mengerjakannya. Artinya, sekecil apa pun kebaikan yang kita ajarkan dan tularkan dapat bernilai ibadah.

Ketika Esti menanyakan bagaimana seseorang yang merasa tidak memiliki kelebihan dapat tetap bermanfaat, Suyono berpesan agar tidak meremehkan kemampuan diri sendiri. Tidak punya banyak uang bukan berarti tidak bisa membantu. Tidak memiliki jabatan bukan berarti tidak bisa peduli. Bahkan menjadi pendengar yang baik pun merupakan bentuk kepedulian.

Namun, kebermanfaatan juga bukan berarti harus selalu tampil di depan atau terlibat dalam setiap persoalan. Ada saatnya berbicara, ada saatnya mendengarkan; ada saatnya memimpin, ada pula saatnya mendukung. Yang terpenting adalah mampu mengambil peran secara tepat dan ikhlas.

Sifat egois, malas, takut tidak dihargai, serta menganggap kebaikan terlalu kecil merupakan beberapa penghalang dalam berbuat baik. Padahal, sesuatu yang sederhana bagi kita bisa jadi sangat berarti bagi orang lain.

Hidup Bermakna Dimulai dari Diri Sendiri
Menutup dialog, Esti dan Suyono mengajak masyarakat untuk tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari orang lain?” tetapi membiasakan diri bertanya, “Apa yang bisa saya berikan kepada orang lain?”

Kebermanfaatan dapat dimulai dari keluarga, tetangga, lingkungan kerja, hingga masyarakat luas. Senyuman tulus, bantuan kecil, kepedulian terhadap lingkungan, dan kesediaan menguatkan orang yang sedang kesulitan merupakan kebaikan yang tidak boleh diremehkan.

Sebab, hidup yang bermakna bukan semata-mata tentang seberapa banyak yang kita miliki atau seberapa tinggi kedudukan yang kita raih, melainkan seberapa besar kehadiran kita mampu membawa kebaikan bagi sesama.

Artikel ini telah disiarkan melalui LPPL Gema Soedirman pada frekuensi 96,3 FM oleh Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Esti Yuliamah dan Suyono, dalam program Lentera Hati, pada pekan lalu.

Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)

Maftuhatirrohmah dan Utami Fian Nurhanifa: Kunci Sukses Dunia dan Akhirat

 Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga,  Maftuhatirrohmah (Kanan) dan Utami Fian Nurhanifa , saat siaran progra...