Fadhilah Istighfar: Jalan Kembali kepada Allah
Oleh: Ngato Urokhman
Editor: Imam Edi Siswanto
PURBALINGGA – Istighfar sering kali dipahami sebatas ucapan “Astaghfirullah”. Padahal, istighfar memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia merupakan pengakuan atas kesalahan, permohonan ampun kepada Allah SWT, sekaligus tekad untuk kembali memperbaiki diri.
Demikian disampikan oleh Ngato Urokhman, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, dalam program Lentera Hati yang disiarkan melalui LPPL Radio Gema Soedirman 96,3 FM. Melalui tema “Fadhilah Istighfar”, ia mengajak masyarakat menjadikan istighfar sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya ketika menghadapi persoalan. Berikut rangkuman dari materi tersebut.
BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search?q=siaran+radio
Dalam materi tersebut dijelaskan sebuah hadis yang populer tentang keutamaan memperbanyak istighfar. Maknanya, orang yang memperbanyak istighfar akan mendapatkan kelapangan dari kegelisahan, jalan keluar dari kesempitan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Namun, istighfar tidak berarti sekadar memperbanyak ucapan tanpa perubahan perilaku. Istighfar yang benar semestinya diikuti penyesalan, meninggalkan dosa, dan usaha memperbaiki diri. Karena itu, memperbanyak istighfar bukan alasan untuk tetap mempertahankan maksiat atau meninggalkan ikhtiar.
Istighfar dan Jalan Keluar Kehidupan
Al-Qur’an memberikan gambaran kuat mengenai hubungan istighfar dengan berbagai bentuk kebaikan. Dalam QS. Nuh ayat 10–12, Nabi Nuh AS menyeru kaumnya untuk memohon ampun kepada Allah. Ayat tersebut kemudian menyebut berbagai bentuk karunia, seperti turunnya hujan, bertambahnya harta dan keturunan, serta hadirnya kebun dan sungai.
Pesan serupa terdapat dalam QS. Hud ayat 3 dan 52 yang mengaitkan istighfar dan taubat dengan kenikmatan hidup, kekuatan, serta turunnya rahmat Allah.
Sementara itu, QS. At-Talaq ayat 2–3 mengajarkan bahwa ketakwaan menjadi sebab Allah memberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Karena itu, rezeki tidak selalu berbentuk uang. Pekerjaan, kesehatan, keluarga yang harmonis, pertolongan orang lain, ketenangan hati, hingga terbukanya persoalan yang semula buntu juga merupakan bentuk rezeki Allah.
Istighfar Tidak Menggantikan Ikhtiar
Istighfar juga tidak boleh dipahami sebagai pengganti usaha. Seseorang yang memiliki utang tetap harus bekerja, mengatur keuangan, dan berusaha membayarnya. Orang yang mencari pekerjaan tetap perlu membuat lamaran, mengikuti seleksi, dan memperluas ikhtiar. Begitu pula persoalan rumah tangga perlu dihadapi dengan doa, introspeksi, komunikasi, nasihat, dan perbaikan sikap.
Dengan demikian, istighfar berjalan bersama ikhtiar. Seorang Muslim berdoa kepada Allah sekaligus melakukan usaha terbaik, kemudian menyerahkan hasilnya kepada-Nya.
Istighfar juga memiliki pengaruh penting terhadap pembentukan mental seorang mukmin. Kebiasaan memohon ampun melatih seseorang untuk rendah hati, berani mengakui kesalahan, tidak mudah menyalahkan orang lain, dan tetap optimistis terhadap rahmat Allah.
Allah SWT berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 53 agar manusia tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Ayat ini mengajarkan bahwa kesalahan tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan harapan. Selama masih hidup, kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri tetap terbuka.
Jangan Menunggu Masalah untuk Beristighfar
Pada akhirnya, istighfar bukan hanya amalan ketika seseorang sedang menghadapi kesulitan. Istighfar merupakan bentuk kedekatan seorang hamba kepada Allah yang perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, pesan utama materi ini adalah: istighfar, taubat, doa, ikhtiar, dan tawakal merupakan satu rangkaian dalam menghadapi persoalan kehidupan. Ketika hati dekat dengan Allah, masalah mungkin tidak selalu langsung hilang, tetapi seorang mukmin mendapatkan kekuatan untuk menghadapinya.
Jangan menunggu memiliki masalah untuk beristighfar. Beristighfarlah ketika menghadapi kesulitan maupun ketika memperoleh kemudahan. Sebab, istighfar bukan sekadar memohon penghapusan dosa, tetapi juga jalan untuk membersihkan hati, memperbaiki diri, menjaga kedekatan dengan Allah, serta menjemput keberkahan hidup.
Semakin banyak istighfar, semestinya semakin baik pula perilaku dan kualitas kehidupan seorang Muslim.
Siaran radio tersebut dapat diakses melalui https://jogjastreamers.com/mobile/detail.php?radio=98 pada pukul 05.30 WIB dan Ba'da Adzan Maghrib setiap hari.(*)

