Sukses Mendidik Anak di Era Digital
Oleh: Tohar
Editor: Imam Edi Siswanto
Kembali Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga yang bertugas di KUA Bojongsari, Tohar, SE, menyampaikan materi tentang “Sukses Mendidik Anak di Era Digital” melalui siaran radio LPPL Gema Soedirman 96,3 FM, Kamis (24/9/2026).
Ia mengajak para orang tua memahami bahwa keberhasilan mendidik anak bukan semata-mata diukur dari prestasi akademik, jabatan, maupun kekayaan, tetapi dari tumbuhnya anak menjadi pribadi yang bertauhid, berakhlak mulia, bermanfaat bagi sesama, serta menjadi jalan menuju rida Allah SWT.
Anak adalah Amanah dan Investasi Akhirat.
BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search?q=siaran+radio
Dalam Islam, anak merupakan amanah sekaligus ujian bagi orang tua. Al-Qur’an menyebut anak sebagai perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal saleh memiliki nilai yang lebih utama di sisi Allah SWT. Karena itu, orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter dan kepribadian anak.
Allah SWT berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 6, yang memerintahkan orang beriman untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Rumah menjadi lingkungan pendidikan pertama, sehingga ayah dan ibu tidak dapat sepenuhnya menyerahkan pendidikan anak kepada sekolah maupun lembaga pendidikan lainnya.
Keberhasilan pendidikan anak membutuhkan sinergi tiga pilar, yaitu keluarga sebagai fondasi utama, sekolah sebagai tempat pengembangan ilmu dan karakter, serta masyarakat sebagai lingkungan pergaulan dan kontrol sosial.
Meneladani Pendidikan Luqman Al-Hakim
Al-Qur’an memberikan teladan pendidikan melalui nasihat Luqman Al-Hakim kepada putranya. Pendidikan dimulai dari tauhid, yaitu mengenalkan anak kepada Allah SWT dan menanamkan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatannya (muraqabatullah).
Selanjutnya, anak dibimbing untuk mendirikan shalat, mencintai kebaikan, menjauhi kemungkaran, serta memiliki kesabaran sebagaimana pesan Luqman dalam QS. Luqman ayat 17. Pendidikan juga harus membentuk akhlak dan adab, termasuk menjauhi kesombongan dan membangun sikap rendah hati sebagaimana pesan dalam QS. Luqman ayat 18.
Keteladanan Lebih Kuat daripada Nasihat
Orang tua adalah contoh pertama bagi anak. Anak lebih mudah meniru apa yang dilihat daripada sekadar mendengar nasihat. Karena itu, pendidikan harus dilakukan dengan keteladanan, kasih sayang, disiplin, tanggung jawab, keseimbangan ilmu agama dan ilmu umum, serta memperhatikan kehalalan makanan dan sumber rezeki keluarga.
Pola pendidikan juga perlu disesuaikan dengan perkembangan usia. Pada masa kanak-kanak, orang tua memberikan kasih sayang dan membangun rasa aman. Memasuki usia sekolah, anak mulai dibiasakan dengan disiplin dan tanggung jawab.
Sementara pada masa remaja, orang tua perlu membangun hubungan yang lebih dekat sebagai sahabat, menjadi pendengar yang baik, sekaligus tetap memberikan arahan dan batasan yang sehat.
Tantangan Gadget dan Dunia Digital
Era digital menghadirkan tantangan baru. Anak tidak mungkin sepenuhnya dijauhkan dari teknologi, karena teknologi juga menjadi bagian dari kehidupan dan pendidikan. Yang diperlukan adalah membekali mereka dengan “iman filter”, yaitu kemampuan menyaring informasi berdasarkan nilai agama dan kesadaran bahwa setiap aktivitas tetap berada dalam pengawasan Allah SWT.
Orang tua perlu mendampingi anak dalam menggunakan gadget, membangun komunikasi terbuka, memberikan batasan yang jelas, dan menjadi teladan dalam penggunaan teknologi. Dengan demikian, internet dan media digital tidak menjadi ancaman, tetapi dapat diarahkan menjadi sarana belajar, berkarya, bersilaturahmi, dan melakukan kebaikan.
Jangan Lupa Kekuatan Doa
Selain ikhtiar pendidikan, doa orang tua merupakan kekuatan yang sangat penting. Di antaranya doa Nabi Ibrahim AS dalam QS. Ibrahim ayat 40:
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat.” Orang tua juga dapat memanjatkan doa dalam QS. Al-Furqan ayat 74 agar pasangan dan keturunan menjadi qurrata a’yun, penyejuk hati.
Pada akhirnya, mendidik anak adalah investasi jangka panjang sekaligus amal jariyah. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, salah satunya anak saleh yang mendoakannya (HR. Muslim).
Maka, sukses mendidik anak bukan sekadar menjadikan mereka pintar dan berhasil secara duniawi, tetapi membimbing mereka agar memiliki iman yang kokoh, ibadah yang baik, akhlak yang mulia, kepedulian kepada sesama, serta mampu menggunakan teknologi dengan bijak.
Anak yang saleh bukan hanya menjadi kebahagiaan bagi orang tua di dunia, tetapi juga menjadi investasi kebaikan yang terus mengalir hingga akhirat.(*)
Jumat, 25 September 2026
Tohar: Sukses Mendidik Anak di Era Digital
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tohar: Sukses Mendidik Anak di Era Digital
PAI Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Tohar, saat menyampaikan materi tentang Sukses Mendidik Anak di Era Digital melalui siaran radi...
-
PAI Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Thofikkur Rokhman saat menyampaikan materi edukasi tentang pentingnya menjaga kehormatan diri...
-
PAI Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Azizah Dwi Purba, saat menyampaikan materi tentang komunikasi efektif dan Islami dalam keluarga...
-
PAI Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Tohar, saat menyampaikan materi tentang Sukses Mendidik Anak di Era Digital melalui siaran radi...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar