Mengusung tema “Kunci Keluarga Sakinah di Era Digital”, kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam menyiapkan pasangan muda agar mampu membangun keluarga yang kuat, harmonis, sekaligus adaptif terhadap tantangan zaman modern.
BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/IMAM%20EDI%20SISWANTO
Dalam materinya, Imam Edi menegaskan bahwa fondasi utama keluarga sakinah dimulai dari meluruskan niat pernikahan karena Allah SWT. Pernikahan bukan sekadar ikatan emosional atau romantisme sesaat, melainkan ibadah jangka panjang yang menuntut kesungguhan, tanggung jawab, dan komitmen.
Di tengah era digital yang cenderung menampilkan kehidupan serba instan dan penuh pencitraan, niat yang lurus menjadi benteng agar pasangan tidak mudah terpengaruh oleh standar kebahagiaan semu di media sosial.
Ia juga mengingatkan pentingnya mensyukuri nikmat dalam kehidupan rumah tangga. Dalam realitas digital saat ini, banyak pasangan muda terjebak pada budaya perbandingan atau membandingkan pasangan, gaya hidup, hingga kondisi ekonomi melalui media sosial.Padahal,
Allah SWT telah menegaskan dalam QS. Luqman: 12 bahwa siapa yang
bersyukur, maka manfaatnya kembali kepada dirinya sendiri. Rasa syukur
inilah yang menjadi kunci ketenangan batin dan keharmonisan keluarga.
Dari
sisi ketahanan keluarga, Imam Edi menyoroti pentingnya manajemen
keuangan. Tantangan era digital tidak hanya pada pola pikir, tetapi juga
gaya hidup konsumtif akibat kemudahan transaksi online.
Karena
itu, catin didorong untuk bijak dalam mengelola keuangan, mampu
membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menyusun perencanaan ekonomi
keluarga secara matang agar terhindar dari konflik rumah tangga akibat
masalah finansial.
Selain itu, hubungan suami istri harus
dibangun dengan prinsip mu’asyarah bil ma’ruf, yaitu pergaulan yang
baik, lemah lembut, saling menghargai, dan penuh kasih sayang. Dalam
konteks digital, komunikasi yang sehat tidak hanya dilakukan secara
langsung, tetapi juga melalui media.
Oleh
karena itu, pasangan suami istri perlu menjaga etika komunikasi,
menghindari konflik yang dipicu oleh kesalahpahaman pesan digital, serta
tidak membuka aib rumah tangga di ruang publik.
Lebih lanjut,
ia menekankan bahwa keluarga sakinah harus berdiri di atas pondasi
ibadah yang kuat, dengan menjaga shalat sebagai prioritas utama. Di
tengah kesibukan dan distraksi teknologi, shalat menjadi penyeimbang
spiritual yang menjaga ketenangan jiwa.
Selain
itu, pendidikan dalam keluarga juga harus menjadi prioritas, baik bagi
orang tua dalam meningkatkan kualitas diri maupun dalam mendidik
anak-anak agar tumbuh dengan nilai agama yang kuat di tengah arus
informasi yang tidak terbendung.
Sebagai solusi menghadapi
tantangan era digital, Bimwin ini menekankan beberapa langkah konkret,
di antaranya: membangun komunikasi yang sehat dan terbuka, bijak dalam
menggunakan media sosial.
Kemudian,
memperkuat literasi digital keluarga, serta menjadikan rumah tangga
sebagai ruang aman yang penuh nilai keimanan dan kasih sayang. Dengan
demikian, keluarga tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu berkembang
secara positif di tengah perubahan zaman.
Melalui pembekalan
ini, para calon pengantin diharapkan menjadi pasangan yang tidak hanya
siap secara emosional dan spiritual, tetapi juga cerdas dan tangguh
dalam menghadapi realitas era digital.
Keluarga yang dibangun dengan niat yang lurus, akhlak yang baik, serta manajemen kehidupan yang seimbang akan menjadi keluarga sakinah yang membawa keberkahan, baik di dunia maupun di akhirat.(*)
Pewarta: Imam Edi Siswanto


Tidak ada komentar:
Posting Komentar