Purbalingga-Penyuluh Agama Islam KUA Karangreja Ngamali bersama penyuluh dari KUA Mrebet, Ngatourrohman dan wilayah sekitar melaksanakan kegiatan trauma healing bagi warga terdampak banjir bandang di Posko Rumah Qur’an Desa Serang, Kamis (29/1/2026) kemarin sore.
Ngamali dan Ngatourrohman menceritakan bahwa, Posko Rumah Qur’an Desa Serang menjadi saksi hadirnya kehangatan di tengah luka yang belum sepenuhnya sembuh.
“Di lokasi ini, Bukan sekadar kegiatan seremonial, kehadiran para penyuluh menjadi oase penguat jiwa bagi masyarakat yang masih dibayangi trauma dan duka mendalam,” kata Ngatourrohman.
BACA :
https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/KARANGREJA
https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/MREBET%201
Dengan pendekatan yang sederhana namun penuh empati, para penyuluh menyapa warga satu per satu, mendengarkan kisah, menguatkan hati, dan menuntun kembali harapan yang sempat goyah.
Mereka hadir sebagai sahabat, pendengar, sekaligus penguat iman, membuktikan bahwa dakwah bukan hanya lewat mimbar, tetapi juga melalui sentuhan kemanusiaan.
![]() |
| PAI KUA Mrebet, Ngatourrohman saat melaksanakan kegiatan trauma healing bagi warga terdampak banjir bandang di Posko Rumah Qur’an Desa Serang, Kamis (29/1/2026) kemarin sore. (Foto: Ngamali) |
Menurutnya, salah satu kisah yang mengguncang hati datang dari Ibu Tarni, warga Desa Serang. Dengan mata berkaca-kaca, ia menuturkan peristiwa paling pilu dalam hidupnya.
Saat banjir melanda dan dirinya telah berada di pengungsian, kabar duka bahwa, ayah tercintanya, Bapak Wasmudi, meninggal dunia di rumah yang berada tak jauh dari lokasi terdampak. Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari sekitar pukul 04.00 WIB, di saat warga lain berjuang menyelamatkan diri.
Di tengah situasi darurat, keluarga Ibu Tarni harus mengurus jenazah almarhum dengan segala keterbatasan. Prosesi pemakaman yang seharusnya berlangsung khidmat berubah menjadi perjuangan berat.
Jalan menuju pemakaman tertutup lumpur banjir, memaksa keluarga dan kerabat mencari jalur alternatif. Jenazah akhirnya dimakamkan secara sederhana sekitar pukul 09.00 WIB, lalu keluarga kembali ke pengungsian, membawa duka yang tak terucap.
“Yang paling menyayat hati, jalan ke pemakaman tidak bisa dilewati karena lumpur banjir. Kami harus memutar mencari jalan lain,” tutur Ibu Tarni lirih, menahan air mata.
Di hadapan kisah pilu tersebut, para Penyuluh Agama Islam hadir memberikan penguatan rohani dan doa. Dengan bahasa yang menenangkan, mereka mengajak warga untuk bersabar, menumbuhkan ketabahan, dan memperkuat tawakal kepada Allah SWT.
Para penyuluh menegaskan bahwa setiap musibah tidak pernah datang tanpa hikmah, dan Allah SWT tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya.
Kegiatan trauma healing ini menjadi bukti nyata peran strategis Penyuluh Agama Islam sebagai pendamping umat di masa krisis. Tidak hanya menguatkan iman, tetapi juga membantu memulihkan luka batin masyarakat pascabencana, terutama bagi mereka yang kehilangan orang tercinta di tengah musibah.
Di tengah lumpur yang belum mengering dan duka yang masih terasa, kehadiran para penyuluh menjadi cahaya pengharapan.
Mereka hadir bukan sekadar sebagai penyampai pesan agama, tetapi sebagai pelipur lara, penopang jiwa, dan pengingat bahwa di balik setiap ujian, selalu ada kasih sayang Allah SWT yang menyertai.
“Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan, kesabaran, dan jalan terbaik bagi seluruh masyarakat Desa Serang dan semua pihak yang terdampak musibah,” ucap Ngamali.(*)
Kontributor: Ngamali (PAI KUA Karangreja dan Ngatourrohman (PAI KUA Mrebet)
Editor: Imam Edi Siswanto


Penyuluh menjadi garda terdepan kementerian Agama dalam menyapa masyarakat yang sedang mengalami musibah
BalasHapusBismillah...semampunya karena misi kemanusiaan.🙏
Hapus