Selasa, 25 November 2025

PAI KUA Karanganyar, Sayono Lestarikan Kesenian Tradisional Braen

Ketua grup Braen Tunggak Semi, Sumirah (Kiri), Desa Grantung, Kecmatan Karangmoncol foto bersama usai latihan yang dilaksanakan tiap Senin malam, Selasa (24/11/2025). (Foto: Sayono)

Purbalingga-Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Karanganyar, Sayono bersama grup kesenian adisional Braen Tunggak Semi Desa Grantung, Kecamatan Karangmoncol dalam latihan yang dilaksanakan tiap Senin malam, Selasa (24/11/2025).

Sebelum latihan dimulai, Sayono menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada anggota grup Braen tersebut. "Saya sangat gembira menyaksikan Ibu-ibu semua yang semangat dalam melestarikan budaya Braen ini," ucap Sayono mengawali sambutannya.

Menurutnya, kesenian tradisional Braen merupakan budaya warisan leluhur dari Mbah Mahdum Husen yang perlu kita lestarikan. 

"Mudah-mudahan dengan usaha dan kepedulian kita, Braen tetap lestari," harapnya.

 
Seni tradisionl Braen yang merupakan seni budaya peninggalan Syaikh Mahdum Husen ini, terdapat di peradilan Cahyana yang meliputi desa Grantung, Pekiringan, Tajug dan Rajawana. Ia merupakan seni pertunjukan yang hanya menggunakan satu alat musik yaitu terbang sebagai musik pengiring syair-syair yang dinyanyikan.
Penyuluh Agama Islam KUA Karanganyar, Sayono saat bersama grup kesenian Braen Tunggak Semi Desa Grantung, Kec. Karangmoncol dalam latihan yang dilaksanakan tiap Senin Malam, Selasa (24/11/2025). (Foto: Sayono)

Sebagai pemerhati seni tradisional Braen, Sayono berpesan untuk terus melakukan upaya pelestarian dengan melakukan kaderisasi, mengingat para praktisi Braen kebanyakan sudah usia lanjut. 
 
Itulah sebabnya grup Braen menggelar latihan tiap malam Selasa dengan mengajak generasi muda turut bergabung. Upaya yang lain juga ditempuh oleh Sayono dengan cara mengumpulkan catatan syair-syair Braen.

"Saya sedang berusaha mengumpulkan catatan syair-syair Braen. Hal ini mendesak untuk dilakukan karena ternyata mereka (pegiat Braen) hanya mengandalkan hafalan yang mereka dapatkan secara turun temurun. Saya khawatir kalau para pegiat Braen yang notabene sudah lanjut usia wafat akan susah mencari penerusnya karena ketiadaan catatannya," ungkap Sayono.

Dia menambahkan, bahwa melestarikan budaya adalah tugas kita semua,  termasuk Braen yang syairnya sarat makna. 
Grup kesenian tradisional Braen Tunggak Semi, Desa Grantung, Kecmatan Karangmoncol foto bersama usai latihan yang dilaksanakan tiap Senin malam, Selasa (24/11/2025). (Foto: Sayono)
 
"Mudah-mudahan usaha yang kita tempuh dapat menjadi sarana Braen lestari dan dikenal masyarakat luas," harapnya.
 
Sementara itu, Ketua group Braen Tunggak Semi , Sumirah mengungkapkan bahwa ia berharap seni Braen tetap lestari. 
 
"Kami mengambil upaya agar Braen tidak hilang dengan cara terus mengajak yang muda-muda bergabung. Kami adakan latihan tiap malam Selasa" ungkapya.(*)
 
Kontributor: Sayono (PAI KUA Karanganyar)
Editor: Imam Edi Siswanto 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Penyuluh Agama KUA Karangreja Tekankan Pentingnya Sholat Lima Waktu pada Siswa MTs Ma’arif NU Gondang

PAI KUA Karangreja, Ngamali, S.H. , saat menyampaikan pesan keagamaan dalam peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang digelar di MTs Ma...