Jumat, 31 Oktober 2025

APRI dan IPARI Purbalingga Sepakati Sekretariat Bersama di Eks KUA Mrebet 2

Rapat bersama APRI dan IPARI Kabupaten Purbalingga dalam kesepakatan menetapkan gedung eks KUA Mrebet 2 sebagai Sekretariat Bersama APRI–IPARI Kabupaten Purbalingga, Kamis (30/10/2025). (Foto: Ahmad Mufaqih)

Purbalingga-Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) dan Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Purbalingga akhirnya menggelar pertemuan koordinasi di Balai Nikah Eks KUA Mrebet 2 dan sepakat menetapkan gedung eks KUA Mrebet 2 sebagai Sekretariat Bersama APRI–IPARI Kabupaten Purbalingga, Kamis (30/10/2025) lalu.

Sebelumnya, terdapat beberapa opsi lokasi sekretariat, yaitu eks KUA Karangmoncol 1, eks KUA Purbalingga, dan eks KUA Mrebet 2. Setelah mempertimbangkan berbagai aspek, akhirnya diputuskan bahwa gedung eks KUA Mrebet 2 menjadi pilihan terbaik.

Ketua PC APRI Kabupaten Purbalingga, H. Agus Musalim, menyampaikan apresiasi atas inisiatif bersama ini.

“Sinergi antara penghulu dan penyuluh merupakan kunci dalam meningkatkan pelayanan umat. Dengan adanya sekretariat ini, kita harapkan program-program di lapangan bisa lebih terarah dan berdampak nyata,” ucapnya dihadapan perwakilan Pengurus Cabang APRI dan Pengurus Daerah IPARI Kabupaten Purbalingga.

Senada dengan itu, Ketua PD IPARI Kabupaten Purbalingga, Khikam Aziz, menambahkan bahwa sekretariat ini bukan hanya wadah administratif, tetapi juga ruang silaturahmi dan koordinasi lintas profesi.

“Kami ingin sekretariat ini menjadi ruang agar kegiatan lapangan bisa saling mendukung,” tuturnya.

Dengan terbentuknya Sekretariat Bersama APRI–IPARI ini, diharapkan koordinasi antaranggota semakin solid dan kegiatan keagamaan di Kabupaten Purbalingga dapat berjalan lebih efektif dan harmonis.(*)

Kontributor: Ahmad Mufaqih (PAI KUA Mrebet)
Editor: M Yulianto Sidiq/Imam Edi Siswanto

Berlindung dari Penyakit Bakhil, Oleh PAIF KUA Purbalingga Siti Suwarti

Design by IES

Berlindung dari Penyakit Bakhil
Oleh: Siti Suwarti, S.Ag (PAIF KUA Purbalingga Kankemenag Purbalingga)
Editor: Imam Edi Siswanto

Bakhil, sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab yang berarti kikir atau pelit. Bakhil adalah sifat dan karakter yang harus dihindari oleh setiap Muslim. Sebab, kebakhilan adalah sikap egois, tercela dan berakibat buruk bagi kehidupan kita, baik di dunia maupun di akhirat. Kebakhilan juga bisa menimpa kepada siapa saja.

Itulah sebabnya sifat bakhil atau kikir merupakan salah satu sifat tercela dalam agama Islam. Bahkan para ulama mengatakan jika orang yang memiliki sifat kikir adalah orang yang terlalu cinta terhadap dunia, sehingga orang tersebut tak akan mau membagikan hartanya sedikit pun termasuk untuk bersedekah.

Orang dengan sifat kikir bahkan akan menutup mata saat saudara dan orang terdekatnya merasa kesulitan. Dirinya tidak ingin harta benda yang didapatkannya dinikmati oleh orang lain.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Purbalingga

Syekh Nawawi Al Batani dalam kita Nashoihul Ibad menjelaskan jika kikir adalah bagian dari karakter hayawani, yang mana jika seseorang memiliki sifat kikir maka akan menghapus karakter kemanusiaan dan akan menumbuhkan karakter kebinatangan.

Karenanya, agar umat muslim terhindar dari sifat kikir ada beberapa doa yang bisa dipanjatkan. Pernah diajarkan Rasulullah saw kepada seorang sahabat Anshar, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Dawud, nomor hadis 1555.

اَللَّهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَاَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَاَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَاَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّ جَالِ

Artinya: “Ya Tuhanku, aku berlindung pada-Mu dari rasa bimbang dan rasa sedih, dari rasa lemah dan rasa malas, dari sifat pengecut dan sifat kikir, serta dari beban hutang dan tekanan orang-orang (jahat).”

Kata الْبُخْلِ yang mempunyai arti kikir adalah menahan atau menyimpan sesuatu dengan enggan memberikannya. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang menahan hartanya dan tidak mau mengeluarkan untuk keperluan yang semestinya, baik untuk dirinya sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Orang bakhil mencintai hartanya melebihi apapun juga. Sebab, ia merasa bahwa harta kekayaannya adalah miliknya secara hakiki, sehingga, sulit untuk melepaskannya.

Secara istilah dalam syariah, kikir atau bakhil ini merujuk pada sifat seseorang yang sangat enggan mengeluarkan hartanya untuk keperluan-keperluan yang disyariatkan atau dianjurkan dalam agama, seperti sedekah, zakat, dan infaq.

Ini adalah sifat yang menyebabkan seseorang menahan hartanya dari berbagi, bahkan dalam keadaan yang sangat membutuhkan. Sifat bakhil ini tidak hanya terbatas pada menahan harta, tetapi juga mencakup sikap enggan berbagi dalam bentuk apapun, termasuk ilmu, tenaga, dan waktu. Padahal, Allah sudah mengingatkan dalam surah Ali Imran ayat 180:

‌وَلَا يَحۡسَبَنَّ الَّذِيۡنَ يَبۡخَلُوۡنَ بِمَاۤ اٰتٰٮهُمُ اللّٰهُ مِنۡ فَضۡلِهٖ هُوَ خَيۡـرًا لَّهُمۡ‌ؕ بَلۡ هُوَ شَرٌّ لَّهُمۡ‌ؕ سَيُطَوَّقُوۡنَ مَا بَخِلُوۡا بِهٖ يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ

“Sekali-kali janganlah orang-orang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak dilehernya di hari kiamat.”

Menurut Imam al-Ghazali, ada dua hal penyebab penyakit bakhil. Pertama, cinta harta dan takut miskin. Kedua, panjangnya angan-angan. Untuk mengobatinya harus mencari lawan dari penyebabnya itu. Orang yang cinta harta dan takut miskin perlu pengobatan dengan cara melawannya dengan sifat qanaah (merasa cukup dengan apa yang telah ada).

Cinta harta dan takut miskin adalah lanjutan dari ketamakan dan kerakusan terhadap harta yang telah dimilikinya. Ia mengira dengan banyaknya harta yang dimiliki, akan akan bahagia hidupnya. Tidak! Jika kebakhilan disebabkan oleh karena panjangnya angan-angan, maka obatnya menurut Imam al-Ghazali adalah dengan mengingat kematian.

Dengan menyadarkan akan kematian pasti akan ada perubahan pada setiap manusia. Maka, akan lahir kemauan untuk mempersiapkan diri setelah kematian. Harta yang saat ini dimilikinya merupakan titipan Allah yang harus dijaga dan digunakan sesuai peruntukannya.

Orang yang di dalam hatinya sudah dirasuki sifat kikir akan mengorbankan dirinya demi mengejar harta dunia dan dia sendiri tidak mau membelanjakan hartanya untuk kebahagiaan diri sendiri maupun orang lain.

Sudah menjadi fitrah manusia untuk mencari harta selama hidup di dunia. Setiap manusia pasti berusaha mencari harta untuk mencukupi diri dan keluarganya. Begitu halnya dengan sifat kikir atau pelit. Sifat ini juga sudah menjadi fitrah tersendiri bagi manusia. Namun hanya sedikit sekali dari kita yang mampu mengendalikan fitrah ini ke arah yang lebih dicintai oleh Allah.

Sifat kikir banyak ditemui saat seseorang memiliki kecukupan harta. Di saat inilah manusia diuji untuk saling berbagi. Jika orang tersebut memiliki keimanan yang kuat, sudah tentu dia dengan mudah mengeluarkan hartanya untuk sesama. Namun jika tidak maka sifat kikir dan hobi menumpuk-numpuk harta telah menguasai jiwanya.

Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah (takutlah) oleh kalian perbuatan dzalim, karena kedzaliman itu merupakan kegelapan pada hari kiamat. Dan jauhilah oleh kalian sifat kikir, karena kikir telah mencelakakan umat sebelum kalian, yang mendorong mereka untuk menumpahkan darah dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan bagi mereka”. (HR: Muslim).

Saat ini kebakhilan sudah menjadi penyakit yang meluas dikalangan ummat Islam. Ekonomi kapitalis dan budaya hidup cuek inilah yang menjadikan kita tidak peka terhadap sesama. Lingkungan keluarga dan masyarakat telah berhasil menanamkan jiwa invidualisme. Yang penting menjadi kaya, kecukupan, semua kebutuhan serba ada, dan tidak memikirkan kebutuhan saudaranya yang lain.

Karena sebab itulah muncul berbagi bentuk kebahilan pada ummat islam ini. Bakhilnya seorang da’i untuk menyampaikan kebenaran karena takut nikmat dunianya berkurang. Bakhilnya seorang pemimpin untuk menggunakan kepemimpinannya guna membela islam dan kebenaran. Bakhilnya seseorang untuk mengorbankan waktunya berfikir untuk kemajuan Islam.

Bakhilnya seseorang untuk mengeluarkan hartanya di jalan Allah Ta’ala. Lebih parah lagi adalah bakhilnya seseorang untuk memberikan kemudahan bagi orang lain walaupun hanya dengan sesuatu yang remeh. Orang yang bakhil tidak akan mungkin mau memberikan hartanya, waktunya, tenaganya apalagi jiwa dan ruhnya untuk Islam.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita dalam melakukan kebaikan, melapangkan dada kita untuk berinfaq dan menjauhkan kita dari kebakhilan. Tidaklah seseorang dimudahkan dalam berinfaq kecuali atas kehendak-Nya, dan tidak ada yang disempitkan karena kebakhilan kecuali atas kehendak-Nya.(*)

Kamis, 30 Oktober 2025

Penyuluh Agama Islam Bobotsari Bekali Warga Talagening Ilmu Pemulasaraan Jenazah

Kegiatan pembinaan umat kembali digelar oleh Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama Kecamatan Bobotsari melalui pelatihan pemulasaraan jenazah yang berlangsung di Aula Pemerintah Desa Talagening, Kamis (30/10/2025).(Foto: Rikin)

Purbalingga-Kegiatan pembinaan umat kembali digelar oleh Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama Kecamatan Bobotsari melalui pelatihan pemulasaraan jenazah yang berlangsung di Aula Pemerintah Desa Talagening, Kamis (30/10/2025).

Kegiatan yang diikuti oleh 35 peserta dari tokoh masyarakat, kader keagamaan, dan perwakilan pengurus dan anggota Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) di Desa Talagening ini, dibuka secara resmi oleh Kepala Desa Talagening, Ibnu Sulistyo.

Dalam sambutannya ia menyampaikan apresiasi kepada pihak KUA Bobotsari atas kerja sama dan dukungan dalam pelaksanaan kegiatan ini.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/BOBOTSARI

”Keterampilan pemulasaraan jenazah bagi masyarakat itu penting, agar setiap warga muslim dapat melaksanakan kewajiban fardhu kifayah dengan benar sesuai syariat Islam,” tegasnya.

Seementara itu, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bobotsari, Rikin, memberikan materi mengenai tata cara pemulasaraan jenazah, mulai dari memandikan, mengkafani, menyalatkan, hingga menguburkan jenazah.

Penyampaian materi dilakukan secara teoritis dan praktis, sehingga peserta dapat langsung memahami langkah-langkahnya secara benar.

Kegiatan ini berjalan dengan lancar dan penuh antusiasme. Para peserta aktif bertanya dan mencoba praktik langsung, menunjukkan semangat untuk memperdalam pengetahuan agama, khususnya dalam hal pengurusan jenazah.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/2025/07/kolaborasi-pemdes-karangduren-dan-pai.html

“Diharapkan masyarakat Desa Talagening semakin siap dan terampil dalam melaksanakan pengurusan jenazah, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial dan keagamaan di tengah masyarakat,” harapnya.(*)

Kontributor: Nur Asih Utami (Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Bobotsari)
Editor : Ima Edi Siswanto

Rabu, 29 Oktober 2025

Menjemput Sakinah di Tengah Lembur, Bimbingan Perkawinan bagi Pekerja Industri Purbalingga

PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto saat menyampaikan materi Bimbingan Perkawinan bagi para Calon Pengantin di Balai Nikah KUA Kalimanah, pada pekan lalu (Foto: IES)

Purbalingga-Kabupaten Purbalingga merupakan salah satu daerah di Jawa Tengah yang dikenal dengan industri rambut palsu dan bulu mata berskala internasional. Sektor ini telah menjadi tulang punggung perekonomian daerah dan menyerap puluhan ribu tenaga kerja dari berbagai kecamatan.

Berdasarkan data Kompas (17 Januari 2024), terdapat 39 pabrik rambut dan bulu mata palsu yang beroperasi di Purbalingga, dengan total 38.863 tenaga kerja. Dari jumlah tersebut, 22 perusahaan merupakan investasi asing (PMA) dan 17 lainnya milik investor dalam negeri (PMDN).

 BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/IMAM%20EDI%20SISWANTO

Namun, dinamika industri tidak selalu stabil. Ketua Apindo Purbalingga, Rocky Djungdjungan, menyebut adanya penurunan produksi di beberapa perusahaan, baik PMA maupun PMDN, yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Kondisi ini tentu berdampak pada kesejahteraan para pekerja dan keluarganya.

Sementara menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Purbalingga purbalinggakab.bps.go.id, sektor industri menyerap sekitar 33,27% dari total 598,66 ribu angkatan kerja pada Agustus 2024, menjadikannya sektor dominan dalam struktur ketenagakerjaan daerah. 

PAI KUA Kalimanah, Imam Edi Siswanto saat menyampaikan materi Bimbingan Perkawinan bagi Calon Pengantin di KUA Kalimanah, pada pekan lalu (Foto: IES)
Di tengah geliat industri ini, banyak pekerja muda yang mulai menapaki jenjang kehidupan baru melalui pernikahan. Karena itu, Penyuluh Agama Islam di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga aktif melaksanakan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) bagi para calon pengantin yang mayoritas bekerja sebagai buruh pabrik.

Namun, aktivitas kerja yang padat mulai pukul 07.00 hingga 17.00, bahkan sering dilanjutkan lembur malam menjadi tantangan tersendiri bagi para pekerja, terutama mereka yang telah berkeluarga atau sedang mempersiapkan pernikahan.

Fenomena tersebut menjadi menarik bagi Penyuluh Agam Islam untuk berkomitmen menghadirkan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang adaptif terhadap realitas para buruh pabrik. Karena Bimwin bertujuan menyiapkan calon pengantin agar memiliki kesiapan lahir batin dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Dan, pernikahan bukan hanya penyatuan dua insan, tetapi juga amanah besar dalam membentuk generasi berkualitas yang beriman, berakhlak, dan berdaya saing. 

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Artikel%20Penyuluh

Bagi para calon pengantin yang bekerja di pabrik, khususnya sektor rambut, tantangan terbesar bukan hanya pada aspek ekonomi, tetapi juga pada manajemen waktu dan komunikasi dalam keluarga. Jam kerja yang panjang dan rutinitas padat sering kali membuat pasangan muda harus berjuang menjaga keharmonisan rumah tangga.

Salah satu materi penting dalam Bimwin adalah membangun kesadaran mengatur waktu antara pekerjaan dan keluarga.

Penyuluh menekankan bahwa waktu bersama anak dan pasangan merupakan investasi emosional dan pendidikan jangka panjang. Banyak buruh pabrik bekerja dari pagi hingga sore, bahkan lembur hingga malam.

Akibatnya, waktu kebersamaan dengan keluarga sering terabaikan. Padahal, momen sederhana seperti makan malam bersama, mendengarkan cerita anak sebelum tidur, atau berbincang santai setelah shalat maghrib memiliki dampak besar dalam membangun kedekatan emosional.

Kedekatan emosional inilah yang menjadi dasar kuat dalam pembentukan karakter dan kepercayaan diri anak. Anak yang merasa diperhatikan dan dicintai oleh orang tuanya cenderung memiliki mental yang stabil, semangat belajar tinggi, dan nilai-nilai moral yang kuat.

Islam sangat menekankan pentingnya komunikasi dan kasih sayang dalam keluarga. Rasulullah saw bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku." (HR. Tirmidzi).

Pesan ini menjadi pengingat bahwa di tengah kesibukan mencari nafkah, perhatian kepada keluarga tidak boleh terabaikan. Kasih sayang, sentuhan, dan waktu bersama anak adalah bentuk ibadah yang bernilai tinggi di sisi Allah.

Dalam Islam, keluarga adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Orang tua berperan sebagai guru utama yang mengajarkan nilai keimanan, tanggung jawab, dan akhlak.

“Keluarga adalah pondasi lahirnya generasi yang berkualitas. Maka, calon suami dan istri perlu membekali diri dengan nilai-nilai agama, komunikasi yang baik, dan kesadaran tanggung jawab sebagai orang tua,” ucap Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Kalimanah, Imam Edi Siswanto dalam kegiatan Bimwin, Selasa (28/10/2025) kemarin.

Melalui kegiatan Bimwin, calon pengantin diajak untuk menyadari peran tersebut dan menyiapkan diri menjadi teladan yang baik bagi anak-anak kelak. Materi yang disampaikan antara lain.
1. Komunikasi efektif dalam rumah tangga,
2. Pola asuh Islami dan pendidikan anak,
3. Kesehatan reproduksi dan keseimbangan emosi,
4. Manajemen waktu antara pekerjaan dan keluarga, serta
5. Pengelolaan ekonomi rumah tangga sederhana.

Dengan pembinaan ini, diharapkan pasangan muda, terutama dari kalangan pekerja industri mampu menata kehidupan rumah tangganya dengan kesadaran spiritual dan tanggung jawab sosial.

Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang saling menghargai dan memiliki nilai religius yang kuat akan menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan berakhlak mulia. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Ar-Rum ayat 21.

Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

Penyuluh Agama Islam berperan penting sebagai pendamping moral dan spiritual di tengah masyarakat pekerja industri.

Di Purbalingga, kegiatan Bimwin kerap disesuaikan dengan jadwal kerja pabrik agar peserta tidak perlu mengambil cuti panjang. Pendekatan yang fleksibel ini membuktikan bahwa agama dapat hadir di tengah ritme kerja modern tanpa kehilangan maknanya.

Selain memberikan bimbingan pra-nikah, penyuluh juga aktif melakukan pembinaan pasca-nikah dan parenting Islami, membantu pasangan muda menguatkan komunikasi dan menjaga keharmonisan keluarga.

Kegiatan Bimwin bagi buruh pabrik di Purbalingga bukan sekadar pembinaan menjelang akad nikah, tetapi upaya membangun generasi masa depan yang berkarakter.

Dengan kesadaran untuk menyeimbangkan pekerjaan dan waktu bersama keluarga, calon pengantin diharapkan mampu menciptakan rumah tangga yang sakinah, penuh kasih sayang, dan menjadi madrasah utama bagi anak-anaknya.

Dari tangan-tangan pekerja pabrik rambut dan bulu mata yang mengharumkan nama Purbalingga, semoga lahir pula anak-anak bangsa yang unggul, berakhlak, dan membawa keberkahan bagi negeri.(*) 

Sumber Data:
1. Badan Pusat Statistik Kabupaten Purbalingga, Keadaan Ketenagakerjaan Kabupaten Purbalingga Agustus 2024.https://purbalinggakab.bps.go.id
2. Produksi Bulu Mata dan Rambut Palsu di Purbalingga Turun, 10.000 Buruh Dirumahkan dan Di-PHK. https://regional.kompas.com

Selasa, 28 Oktober 2025

Sinergi PAI dan Pemdes Kedungbenda, Warga Dibekali Ilmu Pemulasaran Jenazah

PAI KUA Kemangkon, Edi Trisnanto saat sedang memberikan Pelatihan Pemulasaran Jenazahdi Masjid Nurul Iman, Sabtu (25/10/2025). (Foto: Edi Trisnanto)

Purbalingga- Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Kemangkon, Edi Trisnanto, bersama Pemerintah Desa (Pemdes) Kedungbenda, menggelar pelatihan pemulasaran jenazah di Masjid Nurul Iman, Sabtu (25/10/2025) lalu.

Pelatihan yang diikuti oleh tokoh masyarakat serta imam masjid dan mushola di wilayah tersebut ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam tata cara pemulasaran jenazah sesuai syariat Islam.

Edi menjelaskan bahwa, melalui kegiatan ini para peserta diharapkan mampu melaksanakan tugas pemulasaran jenazah dengan baik dan benar, terutama dalam menghadapi situasi darurat di lingkungan mereka.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/KEMANGKON

Kolaborasi antara Penyuluh Agama Islam dan Pemdes menjadi langkah penting dalam memperkuat layanan keagamaan dan sosial di Kedungbenda. 

Kepala Desa Kedungbenda, Purwono saat sedang menyampaikan kata sambutan pada acara Pelatihan Pemulasaran Jenazahdi Masjid Nurul Iman, Sabtu (25/10/2025). (Foto: Edi Trisnanto)

“Kegiatan seperti ini juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya penghormatan terakhir kepada almarhum sesuai ajaran agama,” ucapnya.

Peserta pelatihan menyambut baik kesempatan ini dan berharap pelatihan seperti ini dapat terus dilakukan untuk memperluas pemahaman dan kesiapan komunitas dalam hal pemulasaran jenazah di tempat masing-masing.(*)

Kontributor: Edi Trisnanto
Editor: Fitriana Pusporini/Imam Edi Siswanto

Jumat, 24 Oktober 2025

BRUS Seru di SMA N 1 Padamara : Penyuluh Agama Islam Sampaikan Pesan Cinta dan Masa Depan untuk Remaja

PAI KUA Padamara, Siti Ubaidah saat interaksi dengan salah satu siswa kelas XI SMAN1 Padamara, Alfaro di acara BRUS, Jumat (24/10/2025). (Foto: Siti Ubaidah)

Purbalingga–Kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) hari kedua berlangsung meriah di Masjid Baitul Hikmah SMA N 1 Padamara, dalam rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025.

Penyuluh Agama Islam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Padamara, Siti Ubaidah, hadir sebagai pemateri dengan tema “Bukan Menolak Cinta Tapi Menjaga Masa Depan”.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/PADAMARA

Menurutnya, BRUS menjadi wadah penting bagi para remaja untuk memahami nilai-nilai agama, menyiapkan diri menghadapi masa depan, serta menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga diri dan cita-cita sejak dini.

Suasana kegiatan BRUS oleh PAI KUA PAadamara di SMAN1 Padamara,  Jumat (24/10/2025). (Foto: Siti Ubaidah)

Materi yang disampaikan mencakup regulasi tentang perkawinan, pengertian dan dampak pernikahan dini, serta pesan-pesan penting untuk remaja, antara lain: 

  1. Cinta itu fitrah, tapi harus diarahkan.
  2. Siapkan diri, jangan terburu-buru menikah.
  3. Jaga diri, cita-cita, dan kehormatan.

Kegiatan BRUS dibuka dengan Sholat Dhuha dan khataman Al-Qur’an, kemudian setelah BRUS dilanjutkan dengan pengajian kitab Ta’lim Muta’alim dan diakhiri sholat dzuhur berjama’ah.

Acara dipandu oleh Tim Penyuluh Agama Islam KUA Padamara, Aziz Fahrurridlo dan Yeni Nur Asiah diikuti oleh sekitar 285 siswa-siswi kelas XI, serta dihadiri perwakilan guru.

Materi disampaikan secara interaktif, diselingi icebreaking, sehingga peserta terlihat antusias dan aktif. Tidak ketinggalan, pembagian doorprize menambah keceriaan peserta.

Salah seorang peserta, Alfaro, siswa kelas XI menyatakan kegembiraannya mengikuti BRUS.

“Kami senang karena mendapatkan ilmu dan pengetahuan baru. Kegiatannya juga asyik, menarik, dan tidak membosankan.” ujarnya antusias. 

Foto bersama: dari kiri Penyuluh Agama Isla, Yeni Nur Asiah, Siti Ubaidah ,tiga orang dewan guru SMA N 1 Padamara, serta PAI Aziz Fahrurridlo, Imron Rosyadi dan  Novi Anggriawan Wijonarko. (Foto: Siti Ubaidah)

Alfero juga mengatakan bahwa, materi yang telah disampaikan penyuluh membuat kami jadi memahami batasan dalam pergaulan antara yang boleh dilakukan dan yang dilarang.

Sementara itu guru Pendidikan Agama Islam SMA N 1 Padamara, Muflihuddin, memberikan apresiasi atas kegiatan BRUS dan berharap ada keberlanjutan kerjasama di acara lainnya.

“Kami mengapresiasi kegiatan bersama antara penyuluh agama Islam KUA dan SMA N 1 Padamara. Semoga kerjasama ini terus berlanjut, termasuk dalam peringatan Hari Besar Islam dan kegiatan lainnya,” harapnya.(*) 

Kontributor : Siti Ubaidah (Penyuluh Agama Islam KUA Padamara)
Editor: Imam Edi Siswanto

Jejak Jihad dan Pengabdian: ASN KUA Karanganyar Rayakan Hari Santri dengan Semangat Kebangsaan

ASN KUA Karanganyar ikut serta menggelorakan semangat HSN tahun 2025 di Kecamatan Karanganyar dengan mengikuti pawai dilanjutkan dengan apel akbar di lapangan Desa Bungkanel pada Rabu (22/10/2025). (Foto: Artanti laili Zulaiha)

Purbalingga-Aparatur Sipil Negara (ASN) Kator Urusan Agama (KUA) Karanganyar turut berpartisipasi gelorakan semangat santri pada rangkaian Hari Santri Nasional (HSN) Kecamatan Karanganyar. Di awali dengan Pawai Ta'aruf pada hari Rabu, 22 Oktober 2025 lalu.

Berlanjut dengan Apel Hari Santri Nasional yang dilaksanakan di lapangan Desa Bungkanel, yang diselenggarakan oleh Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Karanganyar. 

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/KARANGANYAR

Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Karanganyar, Artanti Laili Zulaiha, menceritakan bahwa bertindak sebagai Pembina Apel Akbar HSN tahun 2025 adalah Plt. Camat Karanganyar, Juli Atmadi. 

Hadir sebagai peserta apel adalah seluruh santri dari berbagai lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama, antara lain Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ), Madrasah Diniyah (Madin), Pondok Pesantren, Madrasah, serta para ustadz dan ustadzah. Tidak kalah penting, kehadiran kepala desa se-Kecamatan Karanganyar, unsur Formompincam, badan otonom NU, dan masyarakat umum menambah meriah suasana apel.

Menurutnya, secara singkat sejarah Hari Santri Nasional bahwa, setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, kedaulatan Indonesia kembali terancam. Pasukan Sekutu, yang diboncengi oleh Netherlands Indies Civil Administration (NICA) atau Belanda, mulai mendarat di berbagai wilayah, termasuk Surabaya, dengan niat merebut kembali kekuasaan. Situasi genting ini memicu keresahan yang mendalam di kalangan ulama dan rakyat.

Dalam menghadapi ancaman penjajah yang semakin nyata, pada tanggal 21-22 Oktober 1945, berkumpullah para ulama dari berbagai penjuru Jawa dan Madura di Surabaya. Rapat besar yang diadakan oleh perhimpunan Nahdlatul Ulama (NU) ini menghasilkan sebuah fatwa bersejarah yang dikenal sebagai Resolusi Jihad.

Fatwa ini secara resmi diserukan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari, pendiri NU dan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng. Isi utama dari Resolusi Jihad adalah.

Pertama, kewajiban agama yakni mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia Merdeka adalah sebuah kewajiban bagi setiap umat Islam (fardhu 'ain), yang termasuk dalam kategori jihad di jalan Allah (sabilillah).

Kedua, perlawanan maksimal: resolusi ini secara tegas menyerukan kepada seluruh umat Islam, khususnya para santri dan pemuda, untuk mengangkat senjata melawan tentara Sekutu dan Belanda yang berusaha menjajah kembali Indonesia.

Lebih lanjut ia mengatakan, Resolusi Jihad ini seketika membakar semangat perlawanan yang sangat membara. Seruan ini memberikan legitimasi agama pada perjuangan fisik melawan penjajah, mengubah medan pertempuran menjadi arena jihad suci. Ribuan santri, kiai, dan laskar rakyat segera bergerak ke Surabaya. 

Semangat jihad inilah yang kemudian menjadi motor penggerak perlawanan heroik rakyat dalam Pertempuran 10 November 1945, peristiwa yang kita diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Resolusi Jihad membuktikan bahwa santri tidak hanya handal dalam ilmu agama, tetapi juga merupakan garda terdepan dalam membela kedaulatan NKRI.

Negara Mengakui Keberadaan Santri. Meskipun peran santri dalam kemerdekaan sangat besar, pengakuan secara formal melalui penetapan hari nasional memerlukan waktu yang panjang. Gagasan untuk menjadikan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional telah diperjuangkan sejak lama dan mendapat dukungan luas, terutama dari organisasi massa Islam.

Berbagai pihak, termasuk NU, terus mengusulkan dan mendesak pemerintah agar menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri sebagai bentuk penghargaan atas peran historis yang seringkali tidak terungkap secara penuh dalam narasi sejarah nasional. 

Dan akhirnya, Hari Santri Nasional secara resmi ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani pada 15 Oktober 2015.

Dipilih tanggal 22 Oktober karena tanggal tersebut merujuk langsung pada momentum Resolusi Jihad. Dalam konsideran Keppres tersebut, disebutkan secara eksplisit bahwa ulama dan santri pondok pesantren memiliki peran besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, dan penetapan Hari Santri bertujuan untuk mengenang, meneladani, dan melanjutkan peran mereka dalam pembangunan bangsa. 

Keterlibatan ASN KUA Karanganyar dalam pawai dan apel HSN tahun 2025 Kecamatan Karanganyar menunjukan komitmen bersama dalam mendukung kegiatan keagamaan dan kebangsaan, sekaligus memperkuat peran serta santri dan pesantren sebagai pilar pembangunan bangsa.

Kontributor : Artanti Laili Zulaiha (Penyuluh Agama Islam KUA Karanganyar )
Editor: Imam Edi Siswanto


Rabu, 22 Oktober 2025

HSN 2025: Pesan Ngamali, Penyuluh Agama Islam KUA Karangreja untuk Siswa-siswi SDN 1 Karangreja

PAI KUA Karangreja, Ngamali, saat mengisi tausiyah Hari Santri Nasional 2025 pada siswa-siswi SDN 1 Karangreja tentang “Meneladani Semangat Santri di SDN 1 Karangreja, Rabu (22/10/ 2025). (Foto: Ngamali)

“Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan, sehingga pada hari Rabu tanggal 22 Oktober 2025.
 
Purbalingga-Penyuluh Agama lslam (PAI) Kantor Urusan Agama (KUA) Karangreja, Ngamali, di Hari Santri Nasional 2025 menyampaikan tausiyah pada siswa-siswi SDN 1 Karangreja tentang “Meneladani Semangat Santri di Hari Santri Nasional 2025”.
 
“Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan, sehingga pada hari Rabu tanggal 22 Oktober 2025 ini kita bisa memperingati Hari Santri Nasional tahun 2025 bersama-sama di SDN 1 Karangreja,” ucapnya.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/KARANGREJA

Anak-anak yang sholeh dan sholehah, sambungnya, pada hari yang penuh berkah ini, kita bersama-sama memperingati Hari Santri dengan semangat “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia.

“Tema ini mengajak kita semua untuk tidak hanya mengenang jasa para santri terdahulu, tetapi juga meneladani semangat perjuangan dan adab mereka dalam membangun bangsa yang bermartabat,” serunya pada semua siswa-siswi yang hadir.

Perlu kita pahami bersama bahwa santri bukan hanya mereka yang mondok di pesantren. Di zaman sekarang, semua pelajar yang sedang belajar ilmu yang bermanfaat, baik di sekolah, madrasah, maupun rumah, itu semua adalah santri. Termasuk kalian semua, siswa-siswi SDN 1 Karangreja!.

Setelah kita pawai dan menunjukkan semangat kita sebagai santri Indonesia, kita mengisi kegiatan ini dengan pembelajaran dari kitab yang sangat penting, yaitu Ta’limul Muta’allim – sebuah kitab klasik yang mengajarkan adab dan etika mencari ilmu.

Di dalam kitab ini diajarkan bahwa, “Barangsiapa yang mencari ilmu tanpa adab, maka ilmunya tidak akan memberi manfaat.”

Maka, seorang santri sejati adalah dia yang tidak hanya cerdas otaknya, tapi juga mulia akhlaknya. Hormat kepada guru, patuh kepada orang tua, rajin belajar, serta menjaga lisan dan perbuatan, itulah ciri santri yang akan memperkuat Indonesia merdeka.

Dalam kitab Ta'līm al-Muta'allim Ṭarīq at-Ta'allum, karya Syaikh Az-Zarnuji, kata dia, disebutkan bahwa seorang pencari ilmu (santri) harus memenuhi enam syarat agar ilmunya bermanfaat dan berhasil. Keenam syarat ini menjadi fondasi utama dalam menuntut ilmu secara benar.

Berikut adalah enam syarat menjadi santri sejati menurut Ta’limul Muta’allim.

1. Dzaka’ (Kecerdasan)
Santri harus memiliki kecerdasan akal dan ketajaman pikiran. Maksudnya bukan hanya pintar secara alami, tapi mau berpikir kritis, suka bertanya, dan aktif memahami ilmu, bukan sekadar menghafal.

2. Hirshun (Kesungguhan/semangat tinggi)
Ilmu tidak akan diraih tanpa semangat, tekad, dan usaha yang gigih. Santri sejati selalu rajin, tidak malas, dan punya niat kuat untuk terus belajar meski menghadapi kesulitan.

3. Wastibarin ( Sabar karena harus Bersungguh-sungguh dalam belajar)
Harus ada usaha maksimal dalam menuntut ilmu, bukan setengah-setengah, atau Ijtihad berarti belajar dengan serius, mencatat, mengulang pelajaran, dan terus memperbaiki diri.

4. Bulghah (Bekal atau fasilitas)
Menuntut ilmu butuh bekal: alat tulis, buku, makanan, dan tempat belajar. Santri perlu memanfaatkan fasilitas dengan bijak, bukan mengeluh bila terbatas, tapi tetap berusaha.

5. Irsyādu ustādzin (Bimbingan guru)
Santri harus belajar di bawah bimbingan guru atau ustadz. Ilmu tidak bisa hanya dari baca sendiri, perlu arah, nasihat, dan doa guru agar ilmunya berkah dan tidak sesat

6. Ṭūlu zamān (Waktu yang panjang)
Menuntut ilmu itu butuh waktu, tidak instan. Santri sejati sabar dan konsisten belajar bertahun-tahun, karena ilmu yang bermanfaat tidak bisa didapat dengan cepat.

Sementara itu, guru Pendidikan Agama Islam SDN 1 Karangreja, Ngalimah, S.Pdl menindaklanjuti dengan tema tersebut agar siswa-siswi mendalami dan mengamalkan serta menjadi santri yang berguna. Dan setelah itu, acara di lanjutkan dengan membaca Asma ul khusna.(*)

Kontributor: Ngamali (PAI KUA Karangreja
Editor: Imam Edi Siswanto

Selasa, 21 Oktober 2025

Saatnya Santri Muda Berdakwah Kreatif di Media Sosial

Saatnya Santri Muda Berdakwah Kreatif di Media Sosial
Penulis: Imam Edi Siswanto

· Ketua Tim Efektif Media Sosial PAI Kemenag Purbalingga
· Penyuluh Agama Islam Kemenag Purbalingga KUA Kalimanah

PURBALINGGA–Di zaman ketika jari-jari lebih cepat menyebarkan pesan dibanding lisan, ruang dakwah tidak lagi hanya di atas mimbar atau majelis taklim. Kini, dakwah juga hadir lewat caption Instagram, video pendek TikTok, podcast santai di Spotify, hingga story yang bertahan 24 jam.

Dan siapa yang paling siap menaklukkan dunia digital ini? Jawabannya adalah santri muda. Santri bukan hanya mereka yang khusyuk di pesantren, tapi juga yang siap terjun ke masyarakat, termasuk dunia maya, dengan membawa pesan Islam yang damai, sejuk, dan bermakna.

Dunia digital, kini mengubah arah menjadi rumah bagi pencarian makna. Sementara media sosial, sadar atau tidak, sudah menjadi “rumah kedua” tempat banyak orang, terutama anak muda dalam mencari inspirasi, hiburan, bahkan arah hidup.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Artikel%20Penyuluh

Hari ini, banyak anak muda lebih sering scroll Reels atau Shorts daripada membuka kitab atau ikut pengajian. Maka, tugas kita adalah membawa nilai dakwah ke dunia mereka, bukan menunggu mereka datang ke dunia kita.

Data berbicara bahwa menurut DataReportal 2025, lebih dari 212 juta orang di Indonesia menggunakan internet dan sekitar 143 juta memiliki akun media sosial aktif. Dengan demikian, platform digital menjadi arena utama bagi pemuda untuk berinteraksi dan menerima pesan keagamaan. Seperti dilansir dari detikInet dan DataReportal-Global Digital Insights.

Journal of Islamic Communication Studies (JICoS), Akbar Rizquni Mubarok dengan judul “Moderasi Beragama di Era Digital:Tantangan dan Peluang”, menyebutkan bahwa Di era ini, semua akses dapat secara cepat di dapatkan atau dijangkau. 

Sehingga pada pemakaian media sosial cepat dijangkau, maka pendakwah saat ini sangat efektif untuk menggunakan media sosial untuk menyampaikan dakwahnya. Saat ini, memang perlu menggunakan sarana media untuk menyampaikan dakwah, sebab selama ini yang digunakan hanya dakwah bil kitabah ataupun bil qalam. (Wibowo, 2019: 342). 

LIHAT:
1. https://www.youtube.com/watch?v=gRacfyCxeeE
2. https://www.youtube.com/watch?v=LCI2bVdBad8
3. https://www.youtube.com/@fkpaipurbalingga15


Diperkuat lagi oleh penelitian dari Titis Cesara Putri 
dan kawan kawan dalam Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisiplin, pada laman sejurnal.com dengan judul “Peran Media Sosial Dalam Pemahaman Moderasi Beragama Di Kalangan Generasi Muda” menyebutkan, generasi muda sering kali menjadikan media sosial sebagai sumber informasi utama, termasuk dalam aspek keagamaan. Dalam era digital ini, mereka cenderung mencari informasi agama melalui konten yang disajikan dengan cara yang visual dan menarik, seperti video, infografis, dan postingan singkat.

Konten yang dikemas secara menarik tidak hanya lebih mudah dipahami tetapi juga lebih mudah untuk dibagikan di kalangan teman dan pengikut mereka. Dengan demikian, media sosial menjadi medium yang sangat efektif dalam menyampaikan informasi keagamaan, karena memungkinkan generasi muda untuk 128 mengakses dan memahami berbagai perspektif dalam waktu singkat (Khoirunnissa & Syahidin, 2023).

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/IMAM%20EDI%20SISWANTO

Sebagian data diatas cukup menjadi salah satu alasan bagi kalangan santri muda untuk memulai langkah. Ini bukan tentang siapa yang salah, tapi tentang bagaimana kita bisa hadir di dunia mereka, dengan cara yang lebih dekat, ringan, dan tetap mengandung makna.

Dan ini menjadi peluang yang sangat efektif dan efisien bagi pemuda muslim. Solusinya, siapkan sumber daya manusia dan kuasai teknologinya.

Dakwah, bukan hanya ceramah, tapi juga cerita. Pemuda muslim tidak harus menunggu jadi ustaz untuk mulai berdakwah. Karena hari ini, dakwah bisa lewat cerita, bukan hanya ceramah.

Kamu suka desain? Buat konten infografis Islami. Suka nulis? Tulis refleksi harian tentang ayat yang kamu baca. Suka ngedit video? Bikin video pendek tentang kisah sahabat Nabi. Suka humor? Sampaikan pesan agama lewat komedi yang cerdas dan sopan. Yang penting bukan seberapa panjang isi dakwahnya, tapi seberapa dalam pesan yang tersampaikan.

Perlu diketahui dan disadari bahwa, kedalaman isi sebuah pesan dalam dakwah dimanapun termasuk dakwah digital harus memiliki pemaham ilmu agama yang komprehensif. Karena kredibiltas atau kepercayaan narasumber menjadi sangat penting. Penting dalam pandangan keilmuan, tuntunan dan nilai holistic.

Kenapa harus santri muda? Karena santri muda sudah punya bekal keislaman (lmu agama) dan lingkungan yang mendukung. Tinggal satu langkah lagi, yakni berani masuk ke dunia digital dan bicara dengan gaya anak muda. Kita tidak sedang bersaing dengan konten viral, tapi kita bisa jadi bagian dari yang positif dan berdampak (bernilai).

Adapun langkahnya cukup sederhana, dan insyaallah dampaknya luar biasa, seperti.
· Mulai dari apa yang kamu kuasai. Jangan tunggu sempurna.
· Buat konten yang jujur, relate, dan ringan.
· Gunakan bahasa yang bersahabat, hindari menghakimi.
· Ajak teman-teman satu komunitas buat tim kecil konten dakwah.
· Kolaborasi dengan ustaz muda atau tokoh lokal untuk penguatan isi.

Akhirnya, dakwah bukan hanya soal menyampaikan, tapi juga soal menjangkau. Hari ini, umat muda ada di TikTok, YouTube, Instagram, bahkan X (Twitter). Jangan biarkan mereka hanya disuguhi konten tanpa arah. Hadirkan dakwah yang hangat, inklusif, dan menyentuh, dari santri muda untuk generasi Indonesia. Dan Selamat Hari Santri Nasional Tahun 2025.(*)

Karena jika kita tidak mengisi ruang digital dengan kebaikan, orang lain akan mengisinya dengan hal sebaliknya.

“Yuk, jadikan akun media sosialmu bukan hanya tempat eksis, tapi juga tempat menebar inspirasi Islami. Dakwah kreatif itu mulia dan seru!.(*)

#KemenagPurbalingga #LiterasiSehati #IPARIPurbalingga #PenyuluhAgamaIslamBergerak #PemudaMasjid #DakwahDigital #NgontenPositif #IslamRahmatanLilAlamin #HariSantriNasional2025

Penyuluh Agama KUA Karangreja Tekankan Pentingnya Sholat Lima Waktu pada Siswa MTs Ma’arif NU Gondang

PAI KUA Karangreja, Ngamali, S.H. , saat menyampaikan pesan keagamaan dalam peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang digelar di MTs Ma...