KEPENYULUHAN

Senin, 25 Mei 2026

Doa Memohon Kecukupan dan Rezeki Berkah

Desainer grafis : Artanti LZ.

Rezeki merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia. Namun, seorang muslim tidak hanya diajarkan untuk meminta banyak rezeki, melainkan juga memohon rezeki yang halal, berkah, dan membawa ketenangan hidup. Sebab tidak semua yang banyak mendatangkan kebaikan, tetapi rezeki yang halal dan penuh keberkahan akan menghadirkan kebahagiaan dunia maupun akhirat.

Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa berdoa kepada Allah dalam setiap kebutuhan, termasuk dalam urusan rezeki. Dengan berdoa, seorang hamba menunjukkan ketergantungan dan pengharapannya hanya kepada Allah Ta’ala.

Berikut beberapa doa yang dapat diamalkan setiap hari untuk memohon kecukupan hidup, rezeki yang halal, serta ilmu dan amal yang berkah.

Doa Memohon Kecukupan dan Dijauhkan dari yang Haram

Doa ini dibaca agar Allah mencukupkan kita dengan rezeki yang halal sehingga tidak tergoda mencari jalan yang haram.

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ

وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Allahumma ikfini bi halalika ‘an haramik, wa aghnini bi fadhlika ‘amman siwak.

Artinya : “Ya Allah, cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal sehingga aku terhindar dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Doa ini mengandung pelajaran yang sangat dalam. Seorang muslim diajarkan untuk:
  1. Memohon rezeki yang halal,
  2. Menjauhi segala bentuk yang haram,
  3. Tidak bergantung kepada manusia,
  4. Yakin bahwa Allah adalah sebaik-baik pemberi kecukupan.
Di zaman sekarang, godaan mencari harta dengan cara yang tidak benar sangat besar. Karena itu, doa ini penting diamalkan agar hati selalu dijaga dalam kejujuran dan keberkahan.

Doa Memohon Rezeki Berkah dan Ilmu yang Bermanfaat

Doa ini sering dibaca Rasulullah ﷺ pada pagi hari, terutama setelah salat subuh. Isi doanya sangat lengkap karena mencakup ilmu, rezeki, dan amal.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi‘a, wa rizqan thayyibaa, wa ‘amalan mutaqabbalaa.

Artinya : “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik (halal), dan amal yang diterima.”

Dalam doa ini terdapat tiga permohonan penting:
  1. Ilmu yang Bermanfaat. Ilmu yang membawa seseorang semakin dekat kepada Allah dan memberikan manfaat bagi kehidupan.
  2. Rezeki yang Baik dan Halal. Bukan sekadar banyak, tetapi rezeki yang penuh keberkahan dan menenangkan hati.
  3. Amal yang Diterima. Sebab amal yang diterima Allah adalah bekal terbaik untuk kehidupan akhirat.
Doa ini mengajarkan bahwa kesuksesan seorang muslim tidak hanya diukur dari harta, tetapi juga dari ilmu dan amal salehnya.

Keutamaan Berdoa Memohon Rezeki

Berdoa memohon rezeki memiliki banyak keutamaan, di antaranya:
  1. Mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala,
  2. Menumbuhkan rasa syukur dan tawakal,
  3. Menenangkan hati ketika menghadapi kesulitan hidup,
  4. Menjaga diri dari rezeki yang haram,
  5. Membuka pintu keberkahan dalam kehidupan.
Namun, doa juga harus disertai usaha yang sungguh-sungguh, kerja keras, dan kejujuran. Sebab Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.

Penutup

Rezeki yang halal dan berkah adalah dambaan setiap muslim. Oleh karena itu, biasakan membaca doa-doa memohon kecukupan dan keberkahan rezeki setiap hari, terutama setelah salat dan di waktu-waktu mustajab.

Semoga Allah Ta’ala mencukupkan rezeki kita dengan yang halal, melimpahkan keberkahan dalam kehidupan, memberikan ilmu yang bermanfaat, serta menerima seluruh amal ibadah kita. Aamiin.


Kontributor : Siti Suwarti (Penyuluh agama Islam KUA Purbalingga)
Editor : Artanti LZ (Penyuluh agama Islam KUA KAranganyar)










Tamanni: Tipu Daya Setan Melalui Angan-Angan Kosong

Desaner flyer : Artanti LZ

Setiap manusia tentu ingin menjadi lebih baik dan memperoleh kehidupan yang baik. Keinginan tersebut merupakan fitrah yang Allah Ta’ala tanamkan dalam diri manusia. Namun, keinginan yang tidak disertai usaha hanya akan berubah menjadi angan-angan kosong yang menghabiskan waktu dan melemahkan semangat ibadah.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali seseorang memiliki banyak rencana baik, tetapi berhenti hanya pada khayalan. Inilah salah satu tipu daya setan yang disebut tamanni.

Apa Itu Tamanni?

Tamanni berarti memperdaya manusia dengan angan-angan dan khayalan kosong. Secara istilah, tamanni adalah mengharapkan sesuatu yang mustahil tercapai atau berharap tanpa disertai usaha nyata.

Setan menjadikan manusia sibuk bermimpi, tetapi malas melangkah. Akibatnya, manusia lalai dari ketaatan kepada Allah dan tenggelam dalam harapan semu.

Contohnya sederhana. Saat hendak tidur, seseorang berniat bangun untuk shalat tahajud. Alarm pun dipasang. Namun ketika alarm berbunyi, ia mematikannya lalu kembali tidur. Hal ini terus berulang. Niat baik hanya menjadi angan-angan tanpa tindakan nyata. Inilah bentuk tamanni.

Tipu Daya Setan dalam Al-Qur’an

Allah Ta’ala menjelaskan tipu daya setan dalam Surah An-Nisa ayat 119–120:

“Dan sungguh akan aku sesatkan mereka, akan aku bangkitkan angan-angan kosong pada mereka…” (QS. An-Nisa: 119–120)

Ayat ini menjelaskan bahwa setan terus berusaha menyesatkan manusia dengan berbagai cara, di antaranya:
  1. Memalingkan Manusia dari Kebenaran. Setan berusaha mengaburkan petunjuk Allah sehingga manusia tersesat dari jalan yang benar.
  2. Menanamkan Angan-Angan Kosong. Manusia dibuat sibuk dengan khayalan yang tidak bermanfaat. Akibatnya, larangan terlihat indah dan kehidupan dunia dianggap sebagai tujuan utama.
  3. Membolak-balikkan yang Halal dan Haram. Setan menyesatkan manusia hingga menganggap yang haram sebagai hal biasa dan yang halal justru dipandang buruk.
  4. Mengubah Fitrah dan Ketentuan Allah. Sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud mengubah ciptaan Allah adalah mengubah fitrah dan aturan agama yang telah Allah tetapkan.
Bahaya Terlalu Banyak Berangan-Angan

Terlalu banyak berangan-angan dapat menjadi penyakit hati. Seseorang sibuk membayangkan masa depan, tetapi lupa memperbaiki amal hari ini. Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Panjang angan-angan akan membutakan hati dan menghasilkan amal yang buruk.”

Orang yang terlalu larut dalam angan-angan biasanya:
  1. Menunda ibadah,
  2. Lalai dari kewajiban,
  3. Malas berusaha,
  4. Mudah kecewa,
  5. Bahkan stres ketika harapannya tidak tercapai.
Cara Menghindari Angan-Angan Berlebihan

Agar tidak terjebak dalam tamanni, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:
  1. Menyadari Bahwa Dunia Hanya Sementara. Dunia hanyalah tempat singgah, bukan tujuan akhir. Ketika seseorang sadar bahwa kehidupan sejati adalah akhirat, ia tidak akan terlalu sibuk mengejar angan-angan duniawi.
  2. Mengarahkan Obsesi kepada Akhirat. Seorang muslim hendaknya menjadikan akhirat sebagai tujuan utama. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, maka Allah akan mengumpulkan urusannya…”(HR. Ibnu Majah). Ketika hati fokus pada akhirat, dunia justru akan mengikuti dengan sendirinya.
  3. Selalu Mengingat Kematian. Mengingat kematian dapat mematahkan angan-angan kosong. Sebab tidak ada yang tahu kapan ajal datang menjemput. Rasulullah ﷺ pernah menggambarkan manusia, ajal, dan angan-angannya dengan beberapa garis. Angan-angan manusia begitu panjang, padahal ajal bisa datang kapan saja sebelum semua harapan tercapai. (HR. Bukhari)
Penutup

Tamanni adalah salah satu senjata setan untuk melalaikan manusia. Angan-angan tanpa usaha hanya akan membuang waktu dan menjauhkan seseorang dari amal nyata.

Sebagai orang beriman, kita perlu mengubah angan-angan menjadi tindakan, niat menjadi amal, dan harapan menjadi perjuangan nyata dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Mari gunakan waktu untuk memperbanyak ibadah, amal saleh, dan usaha terbaik, bukan sekadar tenggelam dalam khayalan yang belum tentu menjadi kenyataan.

Semoga Allah Ta’ala menjaga hati kita dari tipu daya setan dan memudahkan langkah kita menuju kebaikan. Aamiin.

Kontributor : Siti Suwarti (Penyuluh agama Islam KUA Purbalingga)
Editor : Artanti LZ (Penyuluh agama Islam KUA KAranganyar)

Senin, 11 Mei 2026

Jaga Shalatmu, Terjamin Hidupmu

Desain grafis oleh : Artanti.

Ketika kita tidak mengetahui harus memulai dari mana untuk memperbaiki hidup kita, maka mulailah untuk memperbaiki shalat kita dan memperbaiki keadaan diri kita, karena saat kita mampu memperbaiki keduanya sudah pasti Allah akan memperbaiki hidup kita. Karena di dalam diri kita mungkin masih banyak sekali kekurangan yang harus disempurnakan. Sebab, setiap manusia pasti tidak akan luput dari yang namanya dosa, hingga seakan dosa sudah melekat pada diri kita.

Musibah, bencana maupun cobaan hidup yang menghampiri kita terkadang karena kita melakukan kesalahan-kesalahan dengan sengaja, sebab kekhilafan itu yang kadang membujuk nafsu untuk bermain dan melupakan peraturan Allah. Begitu pula dengan tindakan yang tidak disengaja, karena terkadang kita melakukan dosa yang kita pun terkadang tidak sadar bahwa itu dosa, seperti halnya menyakiti hati orang lain dengan bahasa kita yang kasar.

Banyak kesalahan yang telah kita lakukan entah sengaja maupun tidak sengaja. Hingga akhirnya kita akan bertanya "sampai kapan aku akan begini?” Banyak kesalahan yang kita telah lakukan entah sengaja maupun tidak sengaja, hingga akhirnya kita sampai pada titik dimana kita akan bertanya “Apa selamanya aku akan menjadi begini?" Hingga, akhirnya muncul kembali pertanyaan “Terus harus mulai dari mana?”. Disaat pertanyaan itu muncul dibenak kita maka perbaiki diri kita melalui shalat kita.

Jangan khawatir Allah tidak Mengijabah perbaikan diri kita. Jika hati kita sudah benar-benar mengarah pada-Nya. Maka sudah pasti Allah akan menyentuh kita melalui hidayahnya, sehingga kondisi kita pun akan menjadi lebih baik dalam menjalani kehidupan seperti yang kita butuhkan.

Mulailah dari memperbaiki sholat kita, karena shalat merupakan ibadah yang paling utama dalam Islam. Dan mengapa kita harus memperbaiki shalat terlebih dahulu untuk menjadi lebih baik? Karena memulai perbaikan diri dengan memperbaiki shalat terlebih dahulu memang adalah hal yang tepat dan benar. Karena shalat merupakan ibadah yang paling utama dalam menghamba kepada Allah, dan apabila shalatmu sudah baik menurut Allah, maka sudah jelas kehidupan kita juga akan membaik. Shalat juga merupakan tiang agama, maka jagalah shalat kita agar kehidupan kita tetap terjaga dengan baik.

Apabila agama kita sudah kita jaga dengan baik, sudah tentu pula Allah akan menjaga kita, menjaga kehidupan kita, dan menjaga apa-apa yang kita butuhkan dalam hidup kita.

Rasulullah saw. pun berwasiat kepada Ibnu Abbas agar menjaga Allah Swt.

عَنْ ابنِ عباسٍ رضي الله عنهما، قَالَ: كنت خلف النَّبيّ صلى الله عليه وسلم يوماً، فَقَالَ: "يَا غُلامُ، إنِّي أعلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَألْتَ فَاسأَلِ الله، وإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باللهِ، وَاعْلَمْ أنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إلاَّ بِشَيءٍ قَدْ كَتَبهُ اللهُ لَكَ، وَإِن اجتَمَعُوا عَلَى أنْ يَضُرُّوكَ بِشَيءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إلاَّ بِشَيءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحفُ

Dari Abdullah bin Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jagalah Allah, niscaya Dia menjagamu; jagalah Allah, niscaya kamu mendapati-Nya bersamamu; jika kamu mempunyai permintaan, mintalah kepada Allah; jika kamu membutuhkan pertolongan, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh manusia bersatu untuk memberi manfaat dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu; dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering" (HR At Turmudzi).

Bila kita "menjaga Allah", maka Allah akan pula menjaga kita. Penjagaan Allah kepada kita, tentu berbeda dengan "penjagaan" kita pada-Nya. Penjagaan Allah sangat luas, sempurna, dan jangkauannya meliputi dunia akhirat. Bentuk penjagaan Allah di dunia bermacam-macam. Di antaranya, Allah akan menjaga kita dari hal-hal yang akan memudharatkan. Allah memberikan kita kesehatan, kesempurnaan fisik, ilmu, ataupun fasilitas untuk semakin mengenal-Nya. Atau pun ditundukkannya alam semesta untuk kita.

Sedang penjagaan Allah di akhirat berbentuk terbebasnya kita dari azab neraka. Allah SWT berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan beriman, maka akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik" (QS An-Nahl [16]: 97).

Keharusan bertawakal kepada Allah dalam segala hal. Adalah sesuatu yang wajar, tatkala kita hanya menyembah Allah, kita pun akan meminta hanya kepada Allah. Inilah prinsip akidah terpenting. Tidak ada yang digantungi, dimintai, dan diharapkan, kecuali Allah.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

"Hanya kepada Engkaulah Kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan" (QS Al Fatihah: 5).

Keharusan untuk yakin bahwa tiada musibah dan kesenangan, melainkan atas kehendak Allah. Aplikasinya, kita harus optimis dalam hidup dan tidak takut dengan apapun dan siapapun, selain oleh Allah. Rasul bersabda, "Seandainya seluruh manusia bersatu untuk memberi manfaat atau mudharat dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu".

Demikian pula bila kita menjaga Allah, maka Allah pun akan selalu menyertai kita. Syaratnya, kita selalu mengingat Allah dalam keadaan senang ataupun susah, maka Allah akan selalu mengingat kita dikala senang maupun susah. Menurut sebuah hadis qudsi, bila Allah selalu bersama kita, maka apapun yang kita lakukan, hakikatnya Allah-lah yang "melakukan".

Kontributor : Siti Suwarti (Penyuluh Agama Islam KUA Purbalingga)
Publisher : Artanti Laili Zulaiha (Penyuluh Agama Islam KUA Karanganyar)

Jumat, 08 Mei 2026

Semua Makhluk Membutuhkan Allah

Desainer grafis oleh : Artanti Laili Zulaiha

Ketika kesulitan datang dan hati mulai diliputi keputusasaan, manusia akan menyadari bahwa satu-satunya tempat bergantung hanyalah Allah SWT. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang lemah dan penuh kebutuhan, sedangkan Allah adalah Al-Ghaniy, Dzat Yang Maha Kaya dan tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya. Justru seluruh makhluklah yang senantiasa bergantung kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Hai manusia, kamulah yang sangat butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak membutuhkan makhluk-Nya. Sebaliknya, seluruh makhluk sangat membutuhkan Allah dalam setiap keadaan, baik ketika bergerak maupun diam. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa semua makhluk bergantung kepada Allah dalam seluruh aktivitasnya, sedangkan Allah tetap Maha Kaya dan tidak memerlukan siapa pun.

Segala nikmat yang dirasakan manusia berasal dari Allah. Kehidupan, kesehatan, kekuatan tubuh, rezeki, makanan, keselamatan dari musibah, hingga petunjuk menuju kebaikan, semuanya adalah karunia dari-Nya. Tanpa pertolongan Allah, manusia tidak memiliki daya dan kekuatan apa pun.

Karena itu, manusia sangat membutuhkan Allah dalam beribadah, mencintai-Nya, mengikhlaskan amal, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Jika hati jauh dari Allah, maka kehidupan ruhani manusia akan hancur dan kehilangan ketenangan.

Di sisi lain, Allah tidak membutuhkan ketaatan hamba-Nya. Ketaatan manusia tidak menambah kekuasaan Allah sedikit pun, dan kemaksiatan manusia juga tidak mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun. Allah berfirman:

وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendir. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An Naml: 40)


وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Al ‘Ankabut: 6)

فَكَفَرُوا وَتَوَلَّوْا وَاسْتَغْنَى اللَّهُ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Lalu mereka ingkar dan berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. At Taghobun: 6)

إِنْ تَكْفُرُوا أَنْتُمْ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا فَإِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ

Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim: 8)

Dalam hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا

Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 2577)

Di antara bentuk ghina Allah (tidak butuh-Nya Allah pada segala sesuatu) adalah Allah tidak butuh pada infak dari orang yang berinfak dan begitu pula Allah tidak mendapatkan bahaya jika ada orang yang pelit. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ

Dan siapa yang kikir, sesungguhnya Dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang butuh (kepada-Nya).” (QS. Muhammad: 38)

Di antara bentuk ghina Allah (tidak butuh-Nya Allah pada segala sesuatu) adalah terbebasnya Allah dari berbagai ‘aib dan kekurangan. Barangsiapa yang menetapkan sifat tidak sempurna bagi Allah, maka itu berarti telah mencacati sifat ghina Allah. Allah Ta’ala berfirman,

قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ هُوَ الْغَنِيُّ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allah mempuyai anak”. Maha suci Allah; Dia-lah yang Maha Kaya; Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi.” (QS. Yunus: 68)

Tidak ada yang sebanding dengan Allah dan tidak pula yang jadi tandingan bagi-Nya. Itulah bentuk ghina Allah yang lain. Lantas bagaimana seseorang menyamakan makhluk yang fakir dengan Allah. Bagaimana mungkin Allah yang ghoni Yang Maha Kaya disamakan dengan hamba. Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?”. Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Maidah: 17)

Di antara bentuk ghina Allah (tidak butuh-Nya Allah pada segala sesuatu) adalah hamba-Nya amat butuh berdoa pada-Nya setiap saat. Allah pun berjanji untuk mengabulkannya. Allah pun Memerintahkan hamba-Nya untuk beribadah dan Allah janji akan memberikan ganjaran.

Barangsiapa yang mengetahui Allah memiliki sifat ghina (tidak butuh pada segala sesuatu selain Dia), maka ia akan mengenali dirinya yang fakir dan benar-benar butuh pada Allah. Jika hamba telah mengetahui bahwa ia sangat fakir dan sangat butuh pada Allah, itu adalah tanda bahagia untuknya di dunia dan akhirat.

Kontributor : Siti Suwarti (Penyuluh Agama Islam KUA Purbalingga)
Editor : Artanti Laili Zulaiha (Penyuluh Agama Islam KUA Karanganyar)

Kamis, 07 Mei 2026

Menggapai Haji Mabrur: 27 ASN Kemenag Purbalingga Ikuti Doa Bersama Calon Jamaah Haji 2026

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Zahid Khasani, saat menyampaikan arahanya di acara Doa Bersama dan Pelepasan Petugas serta Calon Jamaah Haji 1447 H/2026 M di Aula Uswatun Hasanah, Kamis (7/5/2026).(Foto: Imam Edi Siswanto)

Purbalingga-Keluarga besar Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga menggelar Doa Bersama dan Pelepasan Petugas serta Calon Jamaah Haji 1447 H/2026 M di Aula Uswatun Hasanah, Kamis (7/5/2026). 

Pada musim haji tahun ini, sebanyak 27 ASN Kemenag Purbalingga dari unsur pegawai kantor, KUA, Penyuluh Agama Islam, pengawas, hingga guru RA dan madrasah diberangkatkan untuk menunaikan ibadah haji.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Zahid Khasani, mengatakan bahwa panggilan untuk menunaikan ibadah haji merupakan nikmat dan keistimewaan luar biasa yang wajib disyukuri. 

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/Zahid%20Khasani

“Panggilan untuk menjadi tamu Allah, harus disyukuri dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk beribadah dengan penuh keikhlasan,” ungkapnya.

Ia juga berpesan kepada seluruh calon jamaah haji agar menjaga niat dan kesehatan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.

Menurutnya, kesehatan menjadi salah satu kunci utama agar seluruh rangkaian ibadah dapat dijalankan dengan optimal.

Dalam arahannya, Zahid Khasani menyampaikan empat pesan penting kepada para calon jamaah haji, yaitu meluruskan niat semata-mata karena Allah SWT agar meraih haji mabrur, menjaga kesehatan selama di Tanah Suci, menjaga nama baik Kabupaten Purbalingga dan Kementerian Agama, serta turut mendoakan kesuksesan Kemenag Purbalingga menuju WBBM 2027.

Sementara itu, dalam sambutannya mewakili calon jamaah haji, Kasubbag TU, Sudiono menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh keluarga besar Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga.

Ia juga memohon doa agar seluruh jamaah diberikan kesehatan, kemudahan dan kelancaran dalam menjalankan ibadah haji.

“Selamat berpisah dan selamat berjumpa lagi, sepertinya Ka'bah sudah di hadapan kita,” ucap Sudiono penuh haru.

Sudiono juga mengajak seluruh jamaah untuk turut mendoakan kesuksesan pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) di lingkungan Kemenag Purbalingga pada tahun 2027.

Kegiatan yang berlangsung cukup khidmat dan penuh haru ini, mengusung tema “Menggapai Haji Mabrur, Menguatkan Ukhuwah dan Keikhlasan dalam Pengabdian.”

Sebelum keberangkatan menuju Tanah Suci. Doa bersama dipimpin oleh Kasi Bimas Islam, Moh. Nur Hidayat yang memohon keselamatan, kesehatan, kelancaran perjalanan, serta kemabruran bagi seluruh jamaah.

Dengan doa dan dukungan bersama, para jamaah diharapkan dapat menunaikan seluruh rangkaian ibadah haji dengan lancar serta kembali ke tanah air sebagai haji yang mabrur dan membawa keberkahan bagi masyarakat.

Berikut daftar Jemaah calon haji tahun 1447 H/2026 M
ASN dan NON ASN Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga.

1

Sudiono

2

Siti Honiah Mujiati

3

Agus Musalim

4

Suratmo

5

Eny Kristianti

6

Eli Nurhayati

7

Syarifudin

8

Yuyu Yuniawati

9

Farid Syarifudin

10

Asrifah

11

Mariatul Qibriyah

12

Musriah

13

Siti Latifah

14

Isnaeni Nurul Hidayati

15

Rina Tri Yuniati

16

Imam Edi Siswanto

17

Pariyah

18

Anis Novi P

19

Nikmah Yulianti

20

Titik

21

Suprapti

22

Abdillah Rahman

23

Siti Muflikhah

24

Siti Khozanah

25

Endaryati

26

Siti Nurhidayati

27

Aman Bagus Pambudi

Pewarta: Imam Edi Siswanto

Jumat, 01 Mei 2026

BRUS SMK Ma’arif NU Bobotsari Cetak Remaja Berakhlak dan Siap Songsong Masa Depan Cerah

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga H. Zahid Khasani, (nomor tiga dari Kiri), foto bersama usai acara Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di MTs SMK Ma’arif NU Bobotsari, Kamis (30/4/2026) kemarin. (Foto: Asih Nur Utami) 

Purbalingga–Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) kembali digelar sebagai upaya pembinaan karakter generasi muda. Kali ini, kegiatan berlangsung di SMK Ma’arif NU Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, Kamis (30/4/2026), dengan mengusung tema “Remaja Berakhlak, Generasi Berkualitas, Cerdas dan Masa Depan Cerah.”

Kegiatan ini diikuti oleh 57 peserta yang terdiri dari 37 siswa perempuan dan 20 siswa laki-laki. Turut hadir Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga H. Zahid Khasani, jajaran Seksi Bimbingan Masyarakat Islam beserta tim, Kepala KUA Kecamatan Bobotsari, Kepala SMK Ma’arif NU Bobotsari, fasilitator BRUS, serta para Penyuluh Agama Islam KUA Bobotsari.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/BOBOTSARI 

Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan pembukaan oleh MC Nur Asih Utami dan pembacaan doa oleh Penyuluh Agama Islam, Ustadz Rikin. 

Selanjutnya, laporan kegiatan disampaikan oleh Kasi Bimas Islam, Moh Nur Hidayat, yang menjelaskan bahwa BRUS bertujuan membentuk remaja berakhlak mulia, memiliki kecerdasan emosional, serta kesiapan menghadapi tantangan masa depan.

Fasilitator BRUS Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Nia Melawati, saat mengisi acara Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di MTs SMK Ma’arif NU Bobotsari, Kamis (30/4/2026) kemarin. (Foto: Asih Nur Utami) 

Sambutan dari pihak sekolah disampaikan oleh Arif Romadhon yang mewakili Kepala SMK Ma’arif NU Bobotsari. Ia mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini sebagai bentuk sinergi dalam membangun karakter siswa yang berakhlak dan berkualitas.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Zahid Khasani, dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan secara resmi, menekankan pentingnya membentuk remaja yang sehat secara fisik dan mental. Menurutnya, remaja yang baik ditandai dengan akhlak mulia, kemampuan mengendalikan diri, aktif dalam kegiatan positif, serta semangat dalam menuntut ilmu.

Ia juga menjelaskan ciri-ciri orang hebat, yakni memiliki integritas, tanggung jawab, serta mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Selain itu, pola pikir berkembang (growth mindset), disiplin dalam mengelola waktu, serta semangat belajar yang tinggi menjadi kunci dalam meraih kesuksesan.

Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh fasilitator BRUS Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga, Nia Melawati. Materi disampaikan secara interaktif, sehingga peserta lebih mudah memahami pentingnya menjadi remaja yang berakhlak, cerdas, serta memiliki visi masa depan yang jelas.

Melalui kegiatan BRUS ini, diharapkan para siswa mampu mengimplementasikan nilai-nilai yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tumbuh menjadi generasi yang berkualitas, berakhlak mulia, dan siap menghadapi masa depan dengan penuh optimisme.(*)

Kontributor: Nur Asih Utami (PAI KUA Bobotsari)
Editor: Imam Edi Siswanto

Zahid Khasani: Remaja Saat Ini, Penentu Wajah Bangsa di Masa Mendatang

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga H. Zahid Khasani, (tengah), Kasi Bimas Islam sekaligus Ketua Panitia Moh. Nur Hidayat (dua dari Kanan), Kepala KUA Karangreja Abdul Ra’ub (dua dari Kiri), Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum Khoirur Rosid (Kanan), serta Khikam Aziz sebagai fasilitator BRUS (Kiri), pada acara Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) kembali digelar di MTs Ma’arif NU 15 Siwarak, Kecamatan Karangreja, Kamis (30/4/2026) kemarin. (Foto: Saryono) 

Purbalingga–Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga H. Zahid Khasani, menegaskan bahwa remaja saat ini merupakan penentu wajah bangsa di masa mendatang. 

Menurutnya, pembinaan generasi muda tidak cukup hanya melalui pendidikan formal, tetapi harus diimbangi dengan penguatan nilai keagamaan, akhlak, dan karakter. 

Demikian diungkapkan pada kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) kembali digelar di MTs Ma’arif NU 15 Siwarak, Kecamatan Karangreja, Kamis (30/4/2026) kemarin. 

Program ini diikuti oleh 59 peserta sebagai bagian dari upaya pembinaan generasi muda agar tumbuh menjadi remaja yang berkarakter, berakhlak, serta siap menghadapi tantangan masa depan.

BACA: https://iparipurbalingga.blogspot.com/search/label/KARANGREJA 

Ia menyebut BRUS sebagai langkah strategis dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.

 Fasilitator BRUS, Khikam Aziz (Kanan berkopiah), saat mengisi acara Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) kembali digelar di MTs Ma’arif NU 15 Siwarak, Kecamatan Karangreja, Kamis (30/4/2026) kemarin. (Foto: Saryono) 


Ia juga memberikan motivasi kepada para peserta agar berani memiliki cita-cita tinggi dan memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh. “Jangan pernah takut bercita-cita. Gantungkan cita-cita setinggi langit dan perjuangkan dengan sungguh-sungguh. Man jadda wa jadda, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil,” pesannya.

Kegiatan tersebut dihadiri pula oleh Kasi Bimas Islam sekaligus Ketua Panitia Moh. Nur Hidayat, Kepala KUA Karangreja Abdul Ra’ub, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum Khoirur Rosid, serta Khikam Aziz sebagai fasilitator BRUS. 

Sementara itu, Moh. Nur Hidayat menjelaskan bahwa BRUS merupakan bentuk nyata perhatian Kementerian Agama dalam pembinaan generasi muda. Ia menekankan bahwa masa remaja adalah fase penting dalam pembentukan jati diri, sehingga membutuhkan pendampingan yang tepat agar tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan negatif.

“Melalui BRUS, kami ingin memberikan bekal kesiapan mental, sosial, dan spiritual kepada para remaja agar lebih siap menghadapi masa depan,” ucapnya.

Kegiatan diawali dengan doa yang dipimpin oleh Kepala KUA Karangreja Abdul Ra’ub, memohon kelancaran dan keberkahan seluruh rangkaian acara. Selanjutnya, Khoirur Rosid menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai BRUS sangat relevan dalam memperkuat pendidikan karakter siswa di madrasah.

Dalam sesi materi, Khikam Aziz menyampaikan tema “Konsep Remaja Islami”. Ia menjelaskan bahwa remaja Islami adalah mereka yang mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual dengan berlandaskan nilai-nilai Islam. Menurutnya, karakter tersebut tidak hanya tampak dari penampilan, tetapi juga tercermin dalam sikap, pola pikir, dan pergaulan sehari-hari.

 Fasilitator BRUS, Khikam Aziz (tengah), foto bersama usai mengisi acara Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) kembali digelar di MTs Ma’arif NU 15 Siwarak, Kecamatan Karangreja, Kamis (30/4/2026) kemarin. (Foto: Saryono) 

“Remaja Islami adalah remaja yang cerdas, berakhlak, menjaga kehormatan diri, serta menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman hidup,” ucapnya.

Kegiatan berlangsung dengan penuh antusias. Para peserta aktif mengikuti sesi materi, diskusi interaktif, hingga refleksi bersama. Suasana hangat dan komunikatif terlihat dari semangat siswa dalam menyimak dan berpartisipasi.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa MTs Ma’arif NU 15 Siwarak mampu tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, dan tangguh, serta siap membawa perubahan positif bagi masyarakat, bangsa, dan agama.(*)

Kontributor : Saryono (PAI KUA Karangreja)
Editor: Imam Edi Siswanto